Penjualan Merosot, Suzuki Hengkang dari Cina
Reporter: Wisnu Andebar
Editor: Wawan Priyanto
Selasa, 26 Juni 2018 15:25 WIB

GOOTO.COM, Jakarta - Suzuki Motor Corp mengumumkan akan keluar dari Cina setelah berjuang untuk bersaing di pasar mobil terbesar dunia selama lebih dari 20 tahun. Menurut penyiar Jepang, Suzuki ingin memfokuskan sumber dayanya di pasar terbesarnya, India.

Dilaporkan NHK, eksekutif pabrikan mobil asal Jepang itu mengatakan bahwa Suzuki saat ini sedang membicarakan pembubaran perusahaan patungan di Cina yakni Changan Suzuki Automobile Co.

Didirikan pada 1993, Changan Suzuki adalah salah satu usaha patungan manufaktur mobil pertama Cina. Mobil-mobil kecil kelas ekonomi menengah ke bawah cukup populer di pasar yang sedang berkembang. Salah satu yang paling populer adalah Suzuki Alto.

Baca:Begini Jadinya Jika Suzuki Jimny Dijadikan Pikab, Makin Ganteng

Penjualan perusahaan mencapai puncaknya pada tahun 2011, dengan sekitar 220 ribu unit terjual. Setelah itu, penjualannya terus menurun. Statistik menunjukkan hanya 21  ribu unit yang terjual di Cina pada Januari-Mei 2018. Penurunan tersebut mencapai 47 persen (Year on Year).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China Cui Dongshu mengatakan bahwa penjualan Suzuki yang lesu adalah kegagalan Suzuki dalam memperkenalkan model kendaraan yang lebih besar. Sementara itu, permintaan pasar di Cina berkembang dengan cepat

"Suzuki terlalu sibuk dengan strategi mobil yang lebih kecil (Alto). Banyak pabrikan yang mulai beralih ke mobil listrik, sementara Suzuki belum sampai ke tahap ini. Mungkin inilah yang membuat Suzuki keluar dari Cina,” kata Dongshu.

Cina mewajibkan pembuat mobil di negaranya untuk memproduksi mobil-mobil energi terbarukan mulai 2019, dan Suzuki tidak memiliki model seperti itu dalam barisannya.

Pada minggu lalu, Suzuki juga mengumumkan bahwa telah menarik diri dari perusahaan patungan Cina lainnya. Yaitu Jiangxi Changhe Suzuki Automobile Co, dengan mentransfer ekuitasnya ke Changhe Automobile. Changhe Suzuki didirikan pada Agustus 1994 untuk memproduksi dan menjual mobil bermerek Suzuki sejak Juni 1995. 

Baca:Suzuki Prioritaskan Kenyamanan di Wagon R Masuk Segmen MPV

"Situasi manajemen di Changhe Suzuki berada dalam kondisi kritis karena perusahaan belum dapat mencapai target penjualannya dalam beberapa tahun terakhir," kata Suzuki dalam sebuah pengumuman seperti dikutip dari China Daily. 

Alasan utama dari kinerjanya yang tidak baik adalah pada pilihan model merek yang terbatas. Dalam 20 tahun terakhir, Suzuki memperkenalkan hanya empat model melalui usaha patungan. 

Statistik menunjukkan bahwa Changhe Suzuki menjual 26.370 mobil pada tahun 2017. Turun 42 persen setiap tahunnya, sementara pada tahun yang sama, total penjualan kendaraan di Cina mencapai hampir 30 juta unit. 

Seperti dilansir NHK, Suzuki ingin fokus di India setelah menarik diri dari persaingan di Cina. Di India, Suzuki memegang pangsa pasar yang dominan melalui saham mayoritas di produsen mobil terbesar negara itu, Maruti Suzuki India Ltd. 

Modelnya yang ringkas termasuk Alto dan Baleno tetap berada di antara mobil-mobil terlaris India dan dengan demikian akan memungkinkan lebih banyak waktu untuk membuat persiapan untuk mobilitas listrik di negara ini. 

India telah mengumumkan rencana untuk menghentikan penjualan mobil berbahan bakar gas konvensional pada tahun 2030. 

"Pangsa pasar Maruti Suzuki di India adalah 50 persen, dan kita perlu mempertimbangkan sekarang bagaimana kita akan mempertahankan saham itu di tahun 2030," surat kabar India Economic Times mengutip pernyataan CEO Suzuki Osamu Suzuki. 

Suzuki sudah melakukan beberapa langkah awal. Pada April 2017, mengumumkan perjanjian dengan Toshiba dan Denso untuk memproduksi paket baterai lithium-ion otomotif di India. 

Dengan investasi sebesar Rp 2,5 triliun, fasilitas di Gujarat ini diharapkan mulai berproduksi pada 2020. Menurut Economic Times, Suzuki juga mengatakan akan mengalokasikan rekor investasi tahun ini di India untuk penelitian dan pengembangan ke teknologi seperti kendaraan listrik.  

India adalah pasar mobil penumpang terbesar kelima di dunia. diperkiraan permintaan mencapai 10 juta unit per tahun pada tahun 2030 dari 3 juta pada saat ini. Sebagai perbandingan, Cina menjual lebih dari 24 juta mobil penumpang tahun lalu.


 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi