General Motors Berpacu di Jalur Hemat  
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Selasa, 2 September 2008 17:36 WIB
test drive mobil Chevroletfoto Tomi Aryanto

Mobile GMTEMPO Interaktif, Bangkok: Bagi mereka yang berpandangan optimistis, selalu saja ada peluang di balik setiap masalah yang muncul. Itu pula yang terjadi ketika harga bahan bakar minyak terus meroket dan menjadi kian mahal dalam tahun-tahun belakangan--pekan ini masih bertengger di kisaran US$ 115 per barel.

Produsen-produsen mobil berlomba menggeber para insinyur mereka untuk mengembangkan inovasi-inovasi baru guna mengatasi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ditambah dengan kesadaran yang meluas tentang pemanasan global dan efek rumah kaca, semakin lengkaplah alasan bagi para produsen itu untuk turun ke arena pacuan teknologi alternatif.

Meski masih terbatas di wilayah tertentu, terutama negara-negara maju, membaiknya edukasi tentang pentingnya memanfaatkan sumber energi baru yang lebih ramah lingkungan juga terbukti di pasar. Pabrikan Jepang, seperti Honda, tercatat sukses dengan produk Civic Hybrid-nya yang laris manis. Bahkan Toyota boleh berbangga karena Prius mereka bisa dibilang merajai pasar untuk segmen ini di Amerika Serikat.

Tak ingin lebih jauh tertinggal dari kompetitornya, Kamis dua pekan lalu giliran General Motors (GM) unjuk kekuatan. Terbang jauh dari markas pusatnya di Detroit, Amerika Serikat, Chairman & Chief Executive Officer GM Rick Wagoner memimpin sendiri peluncuran produk-produk terbaru dalam rangkaian GM Auto Tech di Bangkok, Thailand.

"Kami akan menjadikan ASEAN sebagai prioritas untuk mengintroduksi produk-produk dan teknologi baru," kata Wagoner soal dipilihnya Thailand. Pasar yang gemuk dan pertumbuhan ekonomi yang agresif adalah alasan yang disebutnya sebagai sesuatu yang akan membuat Thailand dan kawasan ASEAN "memainkan peran penting" bagi kesuksesan perusahaannya.

Sedikitnya, delapan produk baru Chevrolet diperkenalkan. Empat di antaranya adalah Tahoe 2-Mode Hybrid, Equinox Fuel Cell, Saturn Vue Hybrid, dan Impala Flex-Fuel E85 (ethanol), tampil dengan menggendong mesin berteknologi paling mutakhir, hasil pengembangan produsen yang pada 16 September nanti genap berusia 100 tahun itu.

Kecuali Chevrolet Colorado, yang ada kemungkinan baru akan dipasarkan di Indonesia dua tahun mendatang, tiga produk lain yang ditampilkan sudah cukup banyak mondar-mandir di jalanan kota-kota besar di Tanah Air. Mereka adalah Chevrolet Estate, Optra, dan sedan kompak Aveo.

Bedanya, mobil-mobil yang sempat Tempo coba dalam uji kendaraan di Bangkok itu sudah dilengkapi dengan mesin yang beroperasi dengan sistem injeksi dual fuel. Jadi, selain bensin (atau solar untuk Colorado), mesin kendaraan ini dirancang untuk lebih hemat dan ramah lingkungan dengan campuran gas alam yang dikompresi (CNG) sebagai bahan bakarnya atau dengan campuran bensin dan ethanol seperti pada Aveo E20.

Mesin diesel berkapasitas 2,5 liter yang digembol pikap Colorado, misalnya, dijamin aman dengan sistem injeksi ganda yang berlari dengan campuran 65 persen CNG dan 35 persen solar. Dengan komposisi itu, Colorado akan lebih hemat 50 persen, dengan knalpotnya lebih sedikit membuang emisi karbon.

Pada Colorado, yang pada April lalu sempat dipertunjukkan di Bangkok Motor Show, tabung gas volume 70 liter (berat kosong 9,1 kilogram) berisi CNG ditempatkan di bak belakangnya. Sementara untuk Optra, tabung dengan ukuran sama diletakkan di bagian bagasi.

Selain terasa agak "ndut-ndutan", terutama saat melaju dalam kecepatan rendah, Colorado CNG bertransmisi manual ini cukup nyaman dengan handling mantap. GM memang menjamin performa mesin dengan sistem dual fuel ini akan tetap prima, bahkan bila tangki hanya diisi dengan solar atau biodiesel (B2 atau B5).

Karena itu, para konsumen seperti di Thailand, yang di seluruh negerinya saat ini "baru" memiliki 160 pompa bahan bakar umum yang menyediakan CNG, tak perlu khawatir bila tangki gasnya kosong di tengah jalan. Jika itu terjadi, lampu oranye kecil di dashboard akan menyala. Sistem kemudian secara otomatis akan berpindah dengan sepenuhnya mengkonsumsi solar tanpa mengganggu mesin yang sedang beroperasi.

Pertanyaannya bagi kita, kapan konsumen di Indonesia akan menikmati teknologi asyik ini? "Wah, itu sangat bergantung pada kebijakan energi pemerintah," kata Fajar Harianto, Manajer Hubungan Publik GM Indonesia. "Kami hanya bisa menyesuaikannya dengan produk yang akan dipasarkan di sini."

Itu artinya, entah kapan Anda bisa melaju dengan Optra atau Colorado CNG. Sama tak jelasnya dengan kemungkinan teknologi hybrid atau fuel cell untuk bisa dijangkau oleh kantong rata-rata konsumen kita.

Y. Tomi Aryanto

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi