Sistem Pintar Menghindari Kecelakaan
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Kamis, 15 Januari 2009 09:41 WIB
images.drive.com.au
TEMPO Interaktif, Jakarta: "Mobil mendekat dari arah kiri" dan "Sekolah ada di depan. Perhatikan kecepatan Anda," adalah sederet pesan suara yang diterima pengemudi melalui sistem yang menggunakan informasi dari kendaaran terdekat dan rambu lalu lintas optis di tepi jalan.

Pesan suara itu terungkap dari uji coba skala luas sistem transportasi pintar atau ITS (intelligent transport system) Nissan Motor Corp. (Nismo) yang berlangsung selama dua bulan mulai dari 1 November berakhir 27 Desember 2008. Tes yang menggabungkan komunikasi selular dan telematik kendaraan itu bertujuan mencegah kecelakaan, yaitu tabrakan antara mobil dengan pejalan kaki.

Sistem itu dikembangkan Nissan dengan menggandeng sejumlah pihak antara lain operator seluler terbesar NTT DoCoMo, Matsushita Electric Industrial Co, dan Badan Kepolisian Nasional. Dengan melalui serangkain uji coba, Nissan berharap sistem itu segera masuk tahap komersial pada 2010.

Statistik dari Badan Kepolisian National Jepang menunjukkan 30 persen kecelakaan fatal menyangkut pejalan kaki. Visi keselamatan berkendara Nissan adalah mengurangi setengah dari jumlah kecelakan menyangkut mobil produksinya yang menghasilkan in kematian atau cedera serius pada 2015 dibanding 1995.

Uji coba yang diadakan di jalan umum di Atsugi, perfektur Kanagawa, selatan Tokyo itu melibatkan partisipasi dalam jumlah cukup besar, yaitu 500 pejalan kaki dan 200 pengemudi. Para peserta tes akan menggunakan ponsel khusus NTT DoCoMo yang disesuaikan dengan sistem navigasi di dalam mobil Nissan. Cara penggunaannya sama seperti ponsel pada umumnya untuk kegiatan rutin sehari-hari. Kelebihan ponsel khusus ini, dapat berkomunikasi dengan sistem informasi di sekitarnya.

Dua tahun silam Nissan melakukan uji coba dasar pertama ITS. Dengan melakukan tes berskala besar dan berbasis komunitas dengan pelacakan data dunia yang nyata, Nissan bergerak maju dari initial basic testing menuju tahap komersial.

Cara kerja ITS versi Nissan yakni ketika kendaraan meluncur di sekitar daerah perumahan atau padat penduduk dan terdapat banyak persimpangan yang tidak bisa dilihat. Kemudian pengemudi akan diingatkan oleh pesan suara dan tayangan (screen display) di layar pon sel melalui sistem navigasi bahwa ada pejalan berada di sudut jalan.

Sistem bekerja dengan server informasi yang selalu mendeteksi data dari GPS (global positioning system) untuk diteruskan ke ponsel yang dibawa pejalan kaki. Selanjutnya informasi akan dikirim kembali ke sistem navigasi kendaraan untuk mengaktifkan peringatan. Dengan cara ini, pengemudi akan lebih waspada mengendarai mobilnya. Sistem itu membantu pengemudi mengambil precautionary measures dan lebih berhati-hati berkendara, yang bisa membantu mengurangi pedestrian-vehicle collisions.

Setidaknya dua sasaran hendak dicapai dari proyek perintis tersebut. Pertama, verifikasi keefektifan sistem untuk mendukung mengemudi lebih aman.

Nissan akan memantau perubahan dalam perilaku pengemudi, seperti waktu tanggap dan perlambatan setelah sinyal waspada, untuk analisa kuantitatif.

Kedua optimisasi pemrosesan data yang logis. Uji coba proses tersebut didasarkan program piranti lunak yang canggih. Program itu bisa menentukan pejalan kaki di jalanan, dengan mengidentifikasi data yang dikirim ponsel pejalan kaki dan menghitung kecepatan sasaran yang bergerak (moving-target).

Sebenarnya Nissan telah melakukan percobaan sistem transportasi pintar sejak September 2006 dengan mengerahkan 10.000 pengemudi selama 30 bulan. Eksperimen itu akan menguji beberapa fungsi termasuk "vehicle alert" yang memberitahu pengemudi bahwa mobil lain bergerak sangat cepat di persimpangan blind. "Speed alert" mengingatkan pengemudi ketika mereka melampaui batas kecepatan di lingkungan dekat sekolah Sebuah gambar yang menandakan zona sekolah akan tampak pada layar navigasi pengemudi bersama dengan peringatan suara. Uji coba itu juga melibatkan mobil-mobil Nissan yang dilengkapi sistem navigasi. Informasi yang diterima oleh antena di dalam kendaraan untuk memberi sinyal pengemudi tentang kemungkinan bahaya dari kendaraan yang mendekat atau memberitahu mereka akan kepadatan lalu lintas di depan.

Sistem transportasi pintar dipandang bisa diterima di Jepang karena di negara ini lebih dari separuh mobil dilengkapi dengan semacam gadget pembantu navigasi yang terhubung melalui GPS. Jumlah kendaraan itu lebih banyak dibanding AS dan negara-negara Eropa.

HOTMA SIREGAR
#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi