TVS Mencoba Menembus Pasar di Tengah Kelesuan
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Selasa, 9 Juni 2009 21:13 WIB
foto: Google.com

TEMPO Interaktif, Jakarta:Di tengah penjualan sepeda motor yang menurun dibanding tahun sebelumnya, PT TVS Motor Company Indonesia (TMCI) sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) motor TVS, Rabu (10/06), justeru meluncurkan varian baru di kelas bebek 125 cc.

Motor TVSMenurut penuturan sumber di TMCI, varian baru tersebut bakal mampu merebut hati konsumen meski daya beli masyarakat diperkirakan turun akibat krisis global. “Sebab, selain menawarkan teknologi canggih dengan fitur-fitur baru. Harganya juga kompetitif,” ujarnya di Jakarta, Selasa (09/10).

Bagi pengamat otomotif, Suhari Sargo, langkah TMCI tersebut memiliki peluang sekaligus tantangan yang cukup besar. Dikatakan peluang, kata Suhari, karena seperti yang diperkirakan kalangan industri sepeda motor maupun perusahaan pembiayaan bahwa penjualan sepeda motor pada tahun ini bakal turun antara 20 – 30 persen, maka adanya varian baru dengan harga kompetitif itu menjadi alternatif.

“Tantangannya, harus ada upaya yang ekstra keras untuk menggeser brand image dari merek-merek besar yang ada selama ini, seperti Honda, Yamaha, dan Suzuki,” tutur Suhari saat dihubungi Tempo di Jakarta, Selasa (09/06).

Sementara untuk membangun brand, tidak cukup hanya dengan komunikasi promosi kepada masyarakat saja, tetapi juga harus dibuktikan dengan kehandalan teknologi yang digunakan. Dan yang tak kalah pentingnya, adalah layanan purna jual beserta jaringannya, maupun jaringan distribusi penjualan.

“Itulah tantangannya. Kalau merek-merek baru itu bisa membuktikan teknologi mereka bagus, harga kompetitif, dan layanan purna jual bagus, maka akn bisa membangun imej. Sebab, pertimbangan konsumen dalam membeli itu adalah persepsi dan pengalaman,” terang Suhari.

Yang pasti, kebutuhan sepeda motor di Indonesia akan terus ada, bahkan meningkat. Pasalnya, dari 35 juta sepeda motor yang ada saat ini sebagian diantaranya juga sudah dalam kondisi tua sehingga perlu penggantian. Di sisi lain, pertambahan jumlah penduduk yang membutuhkan alat transportasi murah, cepat, dan sesuai dengan segala medan seperti sepeda motor juga terus bertambah.

“Taruhlah, kalau ada penurunan 20 persen dari penjualan tahun lalu yang 6 juta unit, berarti ada 1,2 juta unit yang bisa dijadikan oleh motor merek baru. Belum lagi dari adanya pertambahan penduduk,” tambah Suhari.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia menyebutkan, selama triwulan pertama 2009 ini, penjualan sepeda motor mengalami penurunan 14.7 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Penjualan sepeda motor secara nasional mencapai pada triwulan pertama 2009 hanya mencapai 1.216.689. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, penjualan mencapai 1.426.586 unit.

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memperkirakan, nilai pembiayaan otomotif secara nasional tahun ini akan turun 10-20 persen. "Penyebab penurunan adalah krisis finansial global yang mulai terasa sejak akhir tahun lalu. Krisis tersebut telah mempengaruhi bisnis perbankan sehingga pendanaan untuk perusahaan pembiayaan pun turun. " ujar Wiwie Kurnia, Ketua APPI.

Sementara, saat ini pangsa sepeda motor di tanah air dikuasai tiga merek besar. Pertama, Honda yang menurut data AISI masih menguasai 48 persen pangsa pasar. Selama triwulan pertama tahun ini Honda mencatatkan penjualan sebesar 584.523, turun sekitar 9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang menapai 642.468 unit. Kedua, Yamaha. Merek ini tercatat menguasai 44,4 persen pangsa pasar.

Selama kuartal pertama tahun ini terjual 539.553 unit, atau turun 3,69 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 560.233 unit. Ketiga Suzuki yang tercatat mampu menguasai 6,8 persen pangsa pasar. Capaian itu berarti turun 7,57 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

ARIF ARIANTO

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi