New Mazda2 Dinilai Sulit Tembus 10 Persen Pangsa Pasar
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Kamis, 26 November 2009 14:48 WIB
Mazda2

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tak gampang bagi PT Mazda Motor Indonesia (PT MMI) untuk mewujudkan target penjualan varian hatchback New Mazda 2 sebesar 300 unit per bulan dan menggenggam pangsa pasar 10 persen varian ini. Selain harus menghadapi sengitnya persaingan dengan Honda Jazz, Toyota Yaris, dan Suzuki Swift yang telah mendapat tempat di masyarakat, Mazda juga harus ekstra keras mendongkrak citra mereknya.

“Saya rasa cukup berat bagi New Mazda 2 untuk menembus pasar hatcback dengan target 10 persen pangsa pasar. Untuk menggiring existing customer Jazz, Yaris, atau Swift untuk switching ke Mazda kecil kemungkinannya. Mereka adalah para loyalis brand produk yang mereka pakai selama ini,” tutur Suhari Sargo, pengamat otomotif kepada Tempo, di Jakarta, Kamis (26/11)

Sementara, kata Suhari, untuk menggaet konsumen baru Mazda juga harus bersaing ketat dengan para pesaing itu. Padahal, citra merek mereka – baik di varian hatchback maupun lainnya– sudah begitu mapan. “Dan kualitas brand itu kan bukan saja diukur dari teknologi, model, atau kemasan lainnya dari produk. Tetapi juga pelayanan baik mulai dari pemasaran, penjualan, hingga after sales service,” terang Suhari.

Bila merujuk pada beberapa aspek itu, maka nama Honda, Toyota, maupun Suzuki jelas lebih mudah diingat masyarakat ketimbang Mazda. Berapa jumlah dealer, bengkel, dan penjualan suku cadang Mazda disarankan tak usah jauh-jauh di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi yang merupakan 70 – 80 persen pasar hatchback di tanah air. ”Dan faktanya, orang memang lebih mengenal nama ketiga kompetitor Mazda tersebut. Brand awareness konsumen lebih tinggi ke Honda, Toyota maupun Suzuki,” terang Suhari.

Hal senada juga diungkapkan Endah Saptarini, pengamat pemasaran dari Infiniti Consulting yang dihubungi Tempo, Kamis (26/11). ”Bagaimana pun brand image masih memegang peran penting. Dan tentunya, kalau sekarang hadir kompetitor baru yaitu Mazda 2, tentu Honda, Toyota, maupun Suzuki juga tidak tinggal diam. Marketing Inteligent mereka juga bergerak, komunikasi produk dan strategi penetrasi pasar terus diubah. Jadi tidak mudah bagi Mazda 2. Butuh waktu lah,” papar dia.

Ihwal harga yang berkisar Rp 175 - Rp 200 juta, menurut Endah, bukanlah faktor penentu keberhasilan dalam menembus persaingan. ”Harga bukan faktor determinan dalam persaingan. Terutama bila melihat profil segmen pasar yang dibidik hatchback yaitu keluarga muda atau orang muda perkotaan,” terang Endah.

Kelompok konsumen ini, ujar Endah, tentu masih berhitung antara harga yang harus mereka bayar dengan nilai atau keuntungan yang diperoleh dari produk yang mereka beli. Sementara Honda Jazz yang menduduki papan atas di segmen ini, harganya tak jauh beda dengan Mazda 2.

Sehingga, bila mendapat tawaran produk dengan harga yang sama, mereka akan tetap memilih produk dengan brand yang selama ini mereka gunakan karena menghitung beberapa keuntungan yang secara kasatmata mereka lihat dan mereka rasakan.

All New Jazz I-VTEC S Manual misalnya, dibanderol Rp.178 juta, All Jazz S otomatis Rp.188 juta, All New Jazz I-VTEC RS Manual Rp.190,5 juta, dan All Jazz I-VTEC RS otomatis Rp Rp.200,5 juta. Semua on the road.

Harga Yaris tak jauh berbeda. Toyota New Yaris tipe J otomatis on the road Jakarta, Rp 174,35 juta, tipe E otomotis Rp. 180,95 juta, tipe E manual Rp. 191,15 juta, tipe S otomotis Rp. 191,15 juta (varian baru), dan tipe S otomatis edisi terbatas Rp. 207,45 juta. Padahal dari sisi teknologi maupun fitur penunjang nyaris sama antara satu merek dengan merek lainnya. Kalau ada perbedaan hanya pada kemasan dan istilahnya semata.

”Dengan kata lain, sudah bersifat generik. Apalagi, inovasi teknologi di industri otomotif bisa dibilang saling kejar dan penyempurnaan dari tekonologi yang ada,” jelas Endah.

Sementara ihwal efisiensi konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan yang diklaim Mazda menjadi keunggulan kompetitif dan komparatif, bagi Endah bukanlah hal yang signifikan. Pasalnya, sebagus apapun tingkat efisiensi itu, kembali pada bagaimana cara penggunaan dan siapa penggunanya, sehingga tingkatan tersebut bersifat relatif.

Mazda mengklaim, dari uji coba yang dilakukan, konsumsi bahan bakar Mazda 2 mencapai 1 liter untuk 15 kilometer jarak yang ditempuh di jalanan perkotaan. Sedangkan biaya perawatan lebih efisien 20 persen dibanding mobil sejenis atau sekelas merek lainnya. Seperti diketahui, saat peluncuran New Mazda 2, Rabu (25/11) kemarin Yoshiya Horigome, Presiden Direktur PT MMI, optimitis produk barunya itu bakal diterima pasar. Ia mengaku PT MMI menargetkan penjualan 300 unit per bulan atau 3.600 unit saban tahunnya.

Dengan target sebesar itu, Horigome juga yakin pihaknya mampu menggenggam 10 persen pangsa pasar hatchback di Indonesia. "Kami optimis Mazda2 mampu mencapai target penjualan 300 unit per bulan. Mazda2 juga akan menjadi produk andalan kami karena akan berkontribusi 70 persen erhadap total penjualan kami per tahunnya," tutur dia.

Sementara total penjualan varian itu selama rentang Januari – Oktober lalu mencapai 22 .000 – 24 ribu unit. Dari total penjualan itu, penjualan Honda Jazz mencapai 12.419 unit. Sedangkan pesaing beratnya, Toyota Yaris membukukan 5.979 unit. ”Kemudian disusul Swift, Kia Picanto, Hyundai Getz, dan beberapa merek Eropa. Semakin dibawah persaingan semakin padat,” tandas Suhari Sargo.

Jadi perlu ikhtiar ekstra keras bagi Mazda 2 untuk menembus pasar varian ini dan mewujudkan impian menggenggam 10 persen pangsa pasar. Meski pada 2008 lalu, varian ini menggaet penghargaan sebagai mobil terbaik dunia 2008, tapi hal itu bukan jaminan untuk memuluskan jalan.

”Karakter konsumen Indonesia, bukan tipe yang coba-coba. Karena untuk orang muda ini adalah setingkat entry level yang masih memperhitungkan harga. Bila ternyata barang yang ditawarkan sama, lebih baik pilih merek yang selama ini mereka gunakan,” tegas Endah.

ARIF ARIANTO

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi