Industri Suku Cadang Skala Kecil Tak Siap Hadapi Perdagangan Bebas
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Sabtu, 9 Januari 2010 12:13 WIB
Kios onderdil di kawasan Sasak Panjang, Jum'at (13/2). Harga sejumlah onderdil otomotif naik antara 10-30% akibat krisis ekonomi global. TEMPO/Puspa Perwitasari
TEMPO Interaktif, Jakarta - Perjanjian perdagangan bebas ASEAN (termasuk Indonesia) atau China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) yang berlaku efektif 1 Jaunari lalu dinilai akan melemahkan industri suku cadang skala kecil dan menengah di tanah air. Standar mutu dan biaya produksi yang tinggi menjadi penyebab tidak bersaingnya industri lokal.

“Sementara produk asal Cina, di negaranya biaya produksi rendah. Kemudian masuk ke Indonesia dengan bea nol sampai lima persen. Jelas ini menjadi senjata ampuh bagi mereka dalam bersaing dengan produk lokal,” papar Adirizal Nizar, Ketua Sentra Otomotif Indonesia – unit usaha dari Ikatan Ahli Teknik Otomotif Indonesia – saat dihubungi Tempo, Sabtu (9/1).

Rizal mengimbau pemerintah untuk menunda dulu pemberlakuan perjanjian ini sembari melakukan pembenahan ke dalam. “Meningkatkan kompetensi industri kecil dan menengah guna peningkatan mutu, menghilangkan high cost economy bagi proses produksi, dan satu hal lagi: stimulus perpajakan,” terang dia.

Dan yang tak kalah penting, lanjut Rizal, pemerintah perlu membangun sentimen emosional kepada masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri. Bila itu terjadi, maka akumulasi modal dan keuntungan tetap berputar di Indonesia, dan muaranya perekonomian nasional pun terus bertumbuh positif.

“Belum ada barang dari Cina. Selama ini spare part dan aksesoris motor yang non orisinil itu kebanyakan dari Taiwan. Nggak tahu kalau nantinya ya? Karena distributor besar belum menyuplai barang Cina itu kemari,” tutur Supardi, pedagang suku cadang di lantai empat, Atrium Senen, saat ditemui Tempo, Jumat (8/1).

Meski demikian, Supardi mengaku belum berpikir untuk menolak atau menerima bila ada pasokan dari distributor produk asal Cina tersebut. Menurut dia, sebagai pedagang dirinya harus melihat ada atau tidak permintaan dari konsumen.

“Memang, katanya kalau bebas pajak (bea masuk –red) harga jualnya lebih murah. Tetapi kadang konsumen kan bilang barang dari Cina mutunya masih kalah dengan Taiwan apalagi Jepang. Ya kita tunggulah,” papar Supardi.

Suryawan pedagang lainnya setali tiga uang. “Tapi kalau barang Cina itu masuk harga jadi bersaing dan banyak pilihan, perusahaan lokal dituntut kreatif tapi pemerintah harus mendukung. Kalau tidak matilah mereka,” ujar dia.

Produk suku cadang dan aksesoris mobil dan motor produksi industri skala kecil dan menengah sebagian besar memasok pasar eceran begitu pun dengan produk impor. “Sebab kalau produk perusahaan besar memasok pabrikan otomotif sebagai original equipment manufacturer, jadi mereka punya captive market. Tetapi kalau yang kecil menengah ini benar-benar masuk di pertarungan bebas,” kata Adirzal menegaskan.

ARIF ARIANTO

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi