Proton Ubah Mesin di Generasi Anyar Neo
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Kamis, 11 Februari 2010 12:31 WIB
Dok: Proton
TEMPO Interaktif, Jakarta - PT Proton Edar Indonesia, pemegang merek dan distributor utama mobil merek Proton di Indonesia, tahun ini mematok target penjualan 4.000 unit. Seiring dengan peningkatan penjualan itu, PT PEI pun akan meluncurkan sejumlah versi facelift dari model yang ada sebelumnya yaitu Exora, Gen-2, dan Neo.

Salah satu model tersebut, Neo, dijanjikan tak sekadar berubah tampilan saja tetapi juga mengalami peningkatan daya yang disemburkan mesin. “Kapasitas mesin tetap 1.600 cc, tetapi kalau sebelumnya menggunakan CamPro, yang baru ini akan menggunakan CamPro Cam Profile Switching (CPS) yang juga digunakan pada Proton Exora,” tandas Fransisco Sirait, Kepala Divisi Penjualan Nasional PT PEI, di Jakarta, Rabu (10/2).

Selain memoles mesin, Proton juga merubah interior Neo. Tetapi seiring dengan perubahan itu, harga juga akan dikerek naik, bila sebelumnya tipe bertransmisi otomatis dibanderol Rp198 juta maka versi facelift nanti akan berbanderol pada kisaran Rp 203 – Rp 208 juta. Sedangkan tipe transmisi manual dari Rp 188 juta menjadi sekitar Rp 193 – Rp 198 juta.

Sementara itu Presiden Direktur PT PEI, Ricky HK To menyebut harga produk Proton di Indonesia kemungkinan naik pada 2011. Pasalnya, prinsipal Proton di Malaysia juga akan mencabut harga Proton yang dipasarkan di Indonesia yang disebut bersubsidi itu. “Jadi saat ini merupakan saat yang tepat untuk beli Proton,” ujar Ricky.

Ihwal harga itu, Fransisco mengaku karena selama ini Proton juga telah menggunakan skema tarif bea masuk dalam kerangka ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang telah disetujui negara-negara anggota perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara itu. “Selama ini Proton menggunakan skema itu (AFTA) jadi bukan dumping atau apa kalau harganya lebih kompetetif,” terang Fransisco.

Lantas bagaimana prospek Proton di Indonesia ke depan? Menurut pengamat otomotif Suhari Sargo, merek Proton sudah mulai dikenal di Indonesia, tapi ada beberapa hal yang harus diperkuat. “Meskipun sudah lama dikenal di Indonesia, tetapi baru dua atau tiga tahun belakang nama Proton menguat, dan tantangan masih besar,” tutur Suhari kepada Tempo di Jakarta, Kamis (11/2).

Menurut Suhari, masih banyak yang harus dilakukan Proton. Peningkatan performa mesin sehingga mampu bersaing dengan kendaraan sejenis di kelasnya merupakan hal yang pertama. Kedua, Proton harus pandai-pandai dalam menetapkan harga dengan membandingkan harga kendaraan yang sama di kelasnya. “Bila salah menentukan bisa gagal,” tandas suhari.

Langkah lainnya memperbesar jaringan layanan purna jual baik penjualan, bengkel, hingga gerai penjualan suku cadang. “Jaringan purna jualnya masih minim. Karena pertimbangan konsumen untuk memilih brand adalah spesifikasi atau performa mesin, harga, layanan purna jual, serta nilai jual kembali,” papar Suhari.

ARIF ARIANTO

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi