Test Drive Sembari Kuliner Ala Hyundai H-1  
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Selasa, 20 April 2010 20:30 WIB
Hyundai H-1 (Raju Febrian/TEMPO)
TEMPO Interaktif, Jakarta - 1. Restoran Semarang: Lumpia dan Lontong Cap Gomeh2. Roemahkoe Heritage Hotel, Solo: Serabi Notokusuman, Sosis Solo, Dawet Pasar Gede3. Sate Ayam Haji Tukri, Ponorogo: Sate Ayam, Krupuk Kacang, Krupuk Teri, Kopi4. Toko Oen, Malang: Sup Merah, Salad, Nasi Goreng, Bistik Daging Sapi, Buah, Es Krim, Coklat panas

Daftar restoran? Yup, benar sekali, inilah lokasi-lokasi yang kami singgahi di hari pertama test drive Hyundai H-1 CRDi Java-Bali Overland 2010, awal pekan lalu. Itulah mengapa saya memasukkan kata wisata kuliner. Rasanya judul yang saya buat nggak salah untuk menggambarkan test drive Hyundai kali ini.

Hyundai punya gawean menarik untuk menguji Multi Purpose Vehichle (MPV) bermesin diesel miliknya itu. Mereka mengundang sekitar 40 wartawan yang dibagi dalam dua kelompok untuk menjajal ketanggung Hyundai H-1 dari Semarang-Denpasar dan Denpasar-Semarang-Jakarta. Saya kebetulan mendapat kesempatan bergabung di grup pertama. Maklum, sekitar 18 wartawan yang ikut serta di grup ini sebagian besar adalah 'wartawan veteran' sehingga diberi jatah jarak yang lebih pendek.

Setelah mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Senin pagi, sebanyak lima unit Hyundai H-1 tipe XG sudah menunggu. Saya berada di mobil nomor 2 bersama wartawan dan kamera person dari Otoblitz dan majalah Eve plus satu orang PIC dari Hyundai.

Lantaran mata belum terlalu 'melek' karena menaiki penerbangan paling pagi, saya memutuskan untuk duduk di bangku paling belakang. "Lagian bawa mobil segede gini di luar kota? Ah, kayaknya lebih enak jadi penumpang," pikir saya.

Tujuan pertama kami adalah Restoran Semarang sebuah restoran milik Om Jongkie--yang namanya mirip Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI). Sembari menikmati Lumpia khas Semarang dan Lontong Cap Gomeh, kami mendapat penjelasan soal perjalanan yang akan kami tempuh.

Erwin Djajadiputra, Vice President Marketing, Sales & After Sales PT Hyundai Motor Indonesia (HMI) yang ikut rombongan mengatakan test drive kali ini bertujuan untuk memberikan pengalaman real bagi wartawan tentang ketangguhan Hyundai H-1 bermesin diesel.

"Anda akan merasakan sendiri bagaimana mengendarai dan duduk sebagai penumpang di kabin lapang milik Hyundai H-1 ini," katanya.

Pertama kali diperkenalkan tahun 2007, H-1 lumayan membetot penggemar MPV tanah air. Pasalnya, inilah MPV berbodi bongsor--panjang 5.125 mm, lebar 1.920 dan tinggi 1.935 mm--tapi dengan harga yang terjangkau kocek dibandingkan MPV bongsor lainnya. Jika sebelumnya H-1 diboyong langsung dari Korea, mulai tahun ini, tepatnya bulan Februari kemarin, HMI mulai memproduksi H-1 di pabrik mereka di Pondok Ungu.

Oke, saya akan mulai cerita soal perjalanan pertama kami menuju Solo. Bodinya yang besar otomatis sangat menguntungkan jika membawa penumpang dalam jumlah banyak. Pintu gesernya, meski belum dilengkapi sistem elektrik, membuat penumpang dengan mudah masuk dan keluar.

Seperti yang saya singgung di atas, di awal perjalanan saya lebih memilih duduk di belakang. Jok yang luas--dibandingkan kelas ekonomi pesawat yang saya tumpangi paginya--sungguh membuat saya nyaman. Apalagi bagian tengah bangku, seperti juga baris kedua, bisa dilipat membentuk meja untuk menempatkan minuman dan makanan kecil. Sayangnya, di bagian belakang tidak dilengkapi armrest sehingga saat ngerem mendadak, saya kadang harus melorot ke depan. Untung masih ada seatbelt.

Jalur Semarang-Solo yang lebih banyak didominasi jalanan lurus melewati beberapa kota ternyata tak menyulitkan bagi bodi besar H-1. Saya yang duduk di bangku belakang sempat beberapa kali tertidur karena nyamannya. Suara dalam kabin juga terbilang senyap, tak terganggu suara dari luar.

Di Solo kami singgap di Roemahkoe Heritage Hotel. Menu makan siang kami benar-benar asyik. Ada Serabi Notokusuman, Sosis Solo, dan Dawet Pasar Gede. Hmmmm.... mantap nian.

Rute selanjutnya, kami akan menuju Ponorogo. Ah, dengan perut kenyang lagi-lagi membuat saya malas menyetir. Bangku belakang kembali jadi tujuan saya. Walaupun sebenarnya sudah pernah menjajal H-1 tapi saya masih belum pede mengemudikan mobil ini di jalur luar kota. Zaldy, wartawan Otoblitz, mengambil alih kemudi di jalur menuju kota reog.

Wartawan yang kerap di panggil Ayah ini rupanya tahu benar bagaimana membejek H-1. Beberapa kali ia menekan gas mengajak H-1 melaju dengan kencang. Sembari duduk di belakang, saya mulai memperhatikan dengan seksama fitir-fitur yang ada di kabin H-1.

Hyundai H-1 CRDi yang dijual di Indonesia disediakan dalam dua pilihan varian, yaitu Elegance dan XG yang dibedakan berdasakan jumlah fitur. Pada varian XG, terdapat berbagai fitur seperti layar monitor di depan dan satu layar gantung di bagian tengah. Pada model sebelumnya terdapat empat monitor yang masing-masing terletak di bagian headrest.

Kemudian juga terdapat global positioning system (GPS), wood grain panel, lampu depan Xenon, dan head unit Kenwood Double Din. "Cukup istimewa dan biasanya terdapat pada mobil-mobil premium," pikir saya.

Tak terasa kami memasuki Ponorogo. Menu selanjutnya adalah sate ayam Pak Tukri plus krupuk kacang. Rasanya, mak nyoss.... mengambil istilah seorang presenter kuliner. Sembari menikmati sate, saya penasaran juga bagaimana rasanya membawa H-1. Okelah, di rute terakhir hari ini, menuju Malang, giliran saya yang mengemudi.

Awalnya rada kagok juga, karena sudah lama saya tak mengemudi mobil sebesar ini. Namun, cukup 15 menit untuk mengenal karakter H-1. Kemudi yang ditunjang teknologi Hydraulic Power Assisted, Rack & Pinion sangat memudahkan pengendalian.

Bagaimana dengan performa? Rasanya tak salah jika HMI hakul yakin dengan versi CRDi (Common Rail Direct Injection) dengan Variable Geometry Turbocharger (VGT) ini. Dengan tenaga 125 kW pada 3.800 rpm dan torsi 392 kW yang sudah bekerja di 2000-2500 rpm, H-1 sama sekali tak ragu melahap jalanan dengan model apapun. "Lurus oke, berbelok, mendaki, menurun, sok," kata seorang rekan dengan logat Sundanya.

Penggunaan transmisi 5 percepatan model shiftronik juga cukup saya terutama saat menyalip kendaraan lain atau membantu pengereman. Bahkan di beberapa kesempatan kami sempat menaikkan laju H-1 sampai menyentuh angka 100 km/jam.

Febri Astuty, Public Relation Head HMI tak henti cuap-cuap mengingatkan kami yang melaju kencang. "Slow down please, jalanan menanjak, di kanan ada truk, di kiri ada sepeda motor, slow down please..." teriaknya lewat handy talki.

Giliran saya menyetir hujan turun cukup lebat. "Nah, ngepas nih," pikir saya. Posisi pengemudi yang cukup tinggi, kaca depan yang lebar, serta spoin besar, membuat saya tak kesulitan melihat ke depan.

Tak terasa kami memasuki kota Malang. Yang ada dibenak saya, setelah Lumpia, Lontong Cap Gomeh, Serabi Notokusuman, Dawet Pasar Gede, dan Sate Ayam Haji Tukri, apa lagi yang akan disajikan Hyundai.

Wah, ternyata sebuah lokasi dengan menu yang tak kalah menarik; Toko Oen. Tempat makan yang berada di pusat kota Malang itu menyajika Sup Merah, Salad, Nasi Goreng, Bistik Daging Sapi, Buah, Es Krim, Coklat panas. Ah... penutup perjalanan yang menyenangkan. (Bersambung)

RAJU FEBRIAN

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi