Ekspor Suzuki Swift Indonesia ke Thailand Tak Terganggu
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Senin, 24 Mei 2010 14:57 WIB
Suzuki Swift. Dok: Suzuki
TEMPO Interaktif, Jakarta:Meski hingga saat ini kekacauan masih berlangsung di ibu kota Thailand , Bangkok , namun ekspor Suzuki Swift dan Suzuki APV oleh PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) ke negara itu tak mengalami gangguan.

Selain tempat bongkar muat di luar pelabuhan Bangkok , distributor Suzuki di negara itu juga telah memiliki daftar pemesanan tetap yang harus segera di penuhi. Sehingga, permintaan dari mereka juga tidak berubah.

“Jadi, ingga saat ini, baik jadwal maupun jumlah yang kami kirimkan ke negara itu tidak mengalami perubahan. Semuanya masih tetap sama seperti bulan-bulan awal tahun ini,” papar Bebin Djuana, Deputy General Manager Overseas Sales & Marketing PT SIM kepada Tempo di Jakarta, Senin (24/5).

Menurut Bebin, saban bulannya tak kurang dari 240 – 270 unit Suzuki Swift yang diekspor ke Negeri Gajah Putih itu. Bahkan, permintaan dari konsumen di negara itu dari waktu ke waktu terus meningkat. Sehingga pada semester dua tahun ini pengiriman ditingkatkan menjadi 300 unit lebih.

Sementara untuk Suzuki APV yang diekspor ke Thailand dalam dua tipe, yaitu Multi Purpose Vehicle (MPV) dan pick up sejak dari 2009 volumenya menurun hingga rata-rata per bulan permintaannya hanya 20 – 25 unit.

“Itu murni karena faktor internal pemasaran mereka, karena imbas dari krisis keuangan global 2009 lalu. Bukan terkiat kondisi krisis politik saat ini, meski begitu permintaan tetap ada,” aku Bebin.

Sementara itu, Endro Nugroho, Marketing Director PT SIM mengatakan Thailand merupakan salah satu pasar ekspor terpenting PT SIM. Sehingga, ontran-ontran politik yang menjadi kerusuhan tetap menjadi perhatian pihaknya.

“Karena itu, kami akan melakukan evaluasi pada akhir bulan ini. Tetapi sejauh ini, tidak ada pengaruh terhadap ekspor kami. Sehingga, kegiatan pengiriman (produk) masih seperti jadwal semula,” ujar dia kepada Tempo.

Sedangkan, seperti dilansir kantor berita Associated Press, Senin (24/5) memasuki minggu ketujuh, kerusuhan masih berlangsung di Thailand . Sektor ekonomi pun langsung terkena dampaknya.

Beberapa tempat kegiatan bisnis banyak yang menghentikan kegiatannya. Bahkan, tak sedikit diantara mereka yang memasang pengumuman "Maaf, ditutup karena kerusuhan politik,”

Massa penentang pemerintah yang menduduki berbagai sarana sejak 12 Maret di pusat kota Bangkok , sampai saat ini masih bertahan. Mereka menuntut pengunduran diri perdana menteri Abhisit.

Hingga saat ini, bentrokan antara massa dengan aparat keamanan telah mebawa korban 26 orang tewas.

ARIF ARIANTO

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi