Enam Kesalahan Penyebab Biaya Operasional Mobil Boros
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Selasa, 4 Januari 2011 11:40 WIB
Pemeriksaan master dan booster rem. (Tempo/ Arif Arianto)

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebagian besar orang berpendapat menggunakan mobil sebagai sarana transportasi untuk menunjang kegiatan sehari-hari , mulai dari pergi pulang ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, berbelanja, berwisata dan lain-lain sangat membutuhkan ongkos yang besar. Kendati demikian, orang masih tetap saja menggunakan alat transportasi ini dengan alasan kenyamanan.

Namun, sejatinya, biaya operasional menggunakan mobil tidak akan sebesar yang dibelanjakan mana kala cara memperlakukan dan menggunakan mobil sesuai dengan kaidah.

“Selama ini orang tidak mempedulikan cara memperlakukan mobil dengan benar. Begitu pula saat mengemudikannya,” tutur Edi Sujatmiko, instruktur safety riding di salah satu Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mobil di Jakarta, Selasa (4/1).

Jatmiko menyebut setidaknya ada enam kesalahan yang sering dilakukan orang sehingga menyebabkan membengkaknya biaya operasional mobil miliknya. Apa sajakah kesalahan itu? Berikut keenamnya :

1. Menggunakan Bahan Bakar Tidak Sesuai Anjuran Ada dua kekeliruan yang kerap dilakukan seseorang saat mengisi bahan bakar mobil mereka yang tidak sesuai anjuran pabrikan. Pertama, bila produsen mobil telah menganjurkan agar mobil diisi dengan bahan bakar dengan kadar oktan (RON) dengan tingkatan tertentu, maka sesekali mengisinya dengan bahan bakar dengan tingkat RON lebih rendah dari itu.

“Selain menyebabkan boros karena proses pembakaran tidak sempurna, mesin juga cepat rusak. Sehingga dana yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Sekali mesin rusak bersiaplah sering ke bengkel,” papar Jatmiko.

Begitu pula sebaliknya. Bila pabrikan menganjurkan mobil cukup menggunakan bahan bakar dengan RON rendah maka gunakanlah bahan bakar dengan spesifikasi tersebut.

Jangan menghamburkan uang dengan membeli bahan bakar RON tinggi, toh tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap kinerja mesin. Pasalnya, pabrikan telah menyesuaikan dan merancang karakter mesin mobil bersangkutan dengan bahan bakar dengan RON yang dianjurkan itu.

“Tetapi pilihlah bahan bakar yang kadar timbalnya rendah,” pesan Jatmiko.

2. Cara Mengemudi Tidak Sesuai Kaidah

Hampir setiap orang di Indonesia mengemudikan mobil tidak sesuai dengan kaidah, misalnya kerap menginjak pedal gas, terlampau sering mengerem, menggeber mobil dengan kecepatan yang tidak konstan, hingga cara menikung yang terlampau lebar melewati garis luar badan jalan.

Semua perilaku itu menyebabkan bensin boros. Perlu dicatat, saban kita menginjak pedal gas dengan tiba-tiba saat itulah semburan bahan bakar semakin deras. Begitu pun di saat sering mengerem dan menginjak pedal gas.

3. Malas Tune-up

Kesalahan lain yang juga kerap dilakukan adalah malas tune-up. Mengkondisikan semua komponen mesin siap untuk bekerja atau biasa disebut tune-up adalah wajib hukumnya.

Memang tidak harus saban akhir pekan atau bulan mobil dibawa ke bengkel, tetapi bisa dua atau tiga bulan sekali. Tujuannya agar semua komponen mesin berfungsi dengan baik. Sebab, bila satu di antara merek bermasalah dan tidak segera dibenahi akan merembet ke yang lain.

Selain itu, mesin yang tidak di tune up lebih boros 10 – 15 persen dibanding yang rajin tune up. Sekilas memang butuh tambahan biaya untuk tune up. Tetapi bila dihitung secara cermat akan terlihat, mobil yang rajin tune up pengeluaran ongkos operasionalnya jauh lebih murah.

4. Mengabaikan Tekanan Angin Ban

Kesalahan yang juga sering terjadi adalah, tidak mengindahkan tekanan angin sesuai anjuran produsen. Semakin berat ban karena tekanan anginnya kurang dari standar maka semakin besar tenaga yang harus disemburkan mesin untuk mendorong mobil.

“Makin besar tenaga berarti bahan bakar yang dibutuhkan juga makin banyak,” terang Jatmiko.

5. Membawa Barang di Roof-rack atau Roof-box

Menyimpan barang bawaan di atap mobil baik yang ditempatkan di roof rack maupun roof box akan mengurangi sifat aerodinamis mobil. Tumpukan barang atau keberadaan roof box akan menghadang angin. Walhasil, beban yang harus disangga mobil pun semakin berat.

Seiring dengan makin beratnya beban , maka tenaga yang dibutuhkan mesin untuk membawa mobil melaju juga semakin besar. Ingat, semakin besar tenaga yang dibutuhkan maka semakin besar pula bahan bakar yang dibutuhkan.

6. Terlalu Lama Memanaskan Mesin

Kebiasaan salah yang selama ini kita lakukan adalah memanaskan mesin mobil hingga berpuluh-puluh menit. Dalih yang biasa disodorkan antara lain, agar oli di mesin bisa mencair dan melumasi semua komponen, serta proses pembakaran di mesin lebih sempurna.

Mungkin, beberapa puluh tahun lalu cara seperti itu benar. Namun, saat ini hampir semua pabrikan telah merancang mobil produknya tidak membutuhkan proses pemanasan mesin berlama-lama. Cukup tiga hingga lima menit mobil sudah siap.

Sehingga, memanaskan mobil berlama-lama berarti membuang bahan bakar dengan percuma.

ARIF ARIANTO

 

#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi