Mobil Listrik Dapat Dua Insentif  
Reporter: Tempo.co
Editor: Fery Firmansyah
Rabu, 9 Januari 2013 18:28 WIB
Teknisi memperbaiki mobil listrik yang mogok saat di kendaraai Menteri BUMN Dahlan Iskan dari Depok menuju Kantor BPPT di Jalan Thamrin, Jakarta, Senin (16/07). Dahlan Iskan melakukan test drive mobil listrik garapan Dasep Ahmadi meskipun sempat mogok. TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah akan memberi dua insentif untuk pengembangan mobil listrik nasional. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, insentif paling agresif adalah pembebasan pajak selama beberapa waktu (tax holiday) serta pembebasan pajak penjualan barang mewah (PPnBM).

"Keduanya cukup agresif karena mendukung pengadaan mesin dan baterai yang masih diimpor," kata dia, usai rapat koordinasi pengembangan mobil listrik di kantor Kementerian Perekonomian, Rabu, 9 Januari 2013.

Agus meminta Kementerian Perindustrian untuk memastikan kandungan lokal mobil listrik agar insentif yang diberikan bisa mendukung perkembangan industri lokal. Selain itu, dia meminta adanya penghitungan beban operasi mobil listrik dengan tidak menggunakan listrik subsidi ketimbang biaya kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi, mengatakan tahun ini ada dua produsen mobil listrik yang mengajukan izin produksi, yakni PT Great Asia Link dan PT Sarimas Ahmadi Pratama. Great Asia akan membuat empat jenis mobil pada Mei mendatang sebanyak 100 unit. Sedangkan Sarimas Ahmadi akan memasarkan city car bernama Elvina sebanyak 1.000 unit.

Dia optimistis mobil-mobil itu bisa dipasarkan pada pertengahan 2013 lantaran proses izinnya hampir rampung. "Produksinya berjalan paralel dengan pemrosesan izin," katanya.

Direktur Utama Sarimas Ahmadi, Dasep Ahmadi, mengatakan akan memasarkan Elvina paling mahal Rp 200 juta. Elvina akan dibuat oleh tiga pabrik di kawasan Depok, Bogor, dan Bekasi Jawa Barat. Namun, dia mengatakan kesulitan untuk mengembangkan komponen baterai. "Semuanya masih diimpor sehingga harganya mahal," ujarnya.

Dasep mengatakan, pangsa pasar mobil listrik di Indonesia tidak akan melebihi 1 persen. Tapi, efisiensi energi dan konsep ramah lingkungan yang ditawarkan membuat mobil ini layak masuk pasar. "Ini segmennya second car, alias mobil cadangan yang hemat," ujarnya.

ANANDA TERESIA | FERY FIRMANSYAH

#Mobil Listrik

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi