Mobil Ini Berbahan Bakar Lemak
Reporter: Tempo.co
Editor: Yandi M rofiyandi TNR
Selasa, 22 Januari 2013 06:02 WIB
Mazda6. Drive.com.au

TEMPO.CO, Louisiana -- Burn Fat Not Oil, begitu ajakan para pencinta lingkungan. Ajakan ini mendorong orang untuk menggunakan sepeda atau jalan kaki daripada menggunakan mobil. Namun ajakan ini kelak juga bisa jadi ajakan untuk menggunakan mobil; mobil berbahan bakar lemak.

Pabrikan otomotif Mazda baru-baru ini mengeluarkan Mazda6. Mobil ini menggunakan bahan bakar diesel sintetis dari lemak hewan, seperti lemak sapi, lemak babi, dan lemak ayam. "Tenang, kami tak merebut isi piring Anda. Lemak ini dari limbah sisa pabrik pengolahan daging Tyson Foods," ujar James O'Sullivan, CEO Mazda untuk Amerika Utara.

Mazda6 ini bukan mobil biasa. Ini justru mobil balap. Mazda sendiri memiliki sejarah panjang dalam dunia balap. Mereka biasa mencoba teknologi baru. "Kami meriset arena pacuan kuda," kata John Doonan, direktur olahraga pabrikan itu.

Arena balap 24 jam di Daytona akhir pekan ini akan menjadi ajang pembuktiannya. Ini akan menjadi tes daya tahan mesin SKYACTIV-D Mazda6 serta uji bahan bakar sintetisnya. Selama mengikuti balap Daytona, Mazda telah menggunakan mesin bertenaga 400 daya kuda. Mazda6 menggunakan 60 persen komponen mesin yang pernah dipakai dalam balap Daytona.

Bahan bakar sintetis ini diproduksi oleh Dynamics Fuels, perusahaan patungan antara Tyson Foods dan Syntroleum. Mereka berinvestasi senilai US$ 150 juta (sekitar Rp 1,5 triliun) buat membangun kilang penyulingan. Kilang di Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat, ini bisa memproses 1,5 juta pon lemak menjadi sekitar 75 juta galon bahan bakar sintetis per tahun.

Bahan bakar minyak ini bisa didistribusikan melalui pompa bensin umumnya. Bahan bakar ini juga bisa dijadikan campuran untuk mengurangi emisi. Pada 2011, Angkatan Laut Amerika Serikat meneken kontrak dengan Dynamic untuk menyediakan bahan bakar sintetis buat kapalnya. Perusahaan bus di Amerika Serikat, Alamo dan National Car Rental, juga sudah mengetes bahan bakar ini.

NUR ROCHMI | FORBES

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi