Peminat Mobil Murah di Semarang Tinggi
Reporter: Tempo.co
Editor: Amandra Mustika Megarani
Kamis, 26 September 2013 04:10 WIB

TEMPO.CO, Semarang - Minat masyarakat Kota Semarang untuk memiliki mobil murah tergolong tinggi, hal ini berdasarkan respon publik ketika sejumlah produsen mobil murah di Kota Semarang memamerkan produk mobil murah pada awal bulan September lalu. "Respon dari masyarakat Kota Semarang terhadap mobil murah sangat tinggi, terbukti per 2 September pemesanan meningkat tajam," kata Nor Setyobudi, kepala cabang PT Karya Zirang Utama, salah satu dealer produsen yang memproduksi mobil murah di Kota Semarang, saat ditemui di kantornya Rabu 25 September 2013.

Nor Setyobudi menyatakan pada hari Rabu  pemesanan di satu cabang yang ia kelola mencapai 112 unit, jumlah ini belum dihitung dari pemesanan bulan sebelumnya yang mencapai 90 unit dan belum terealisasi. "Ada beberapa yang diarahkan ke unit lain karena tak mau menunggu lama," kata Nor. Ia menilai tingginya pemesanan mobil meningkat 100 persen dibanding tahun lalu dan di luar dugaan dari perkiraan perusahaan pemasaran yang ia kelola. Tingginya minat publik yang ingin memilki mobil itu menunjukan pertumbuhan ekonomi Kota Semarang meningkat.

Padahal, menurut Nor Setyobudi, pajak penambahan nilai (PPN) pembelian mobil di Jawa Tengah mencapai 15 persen, atau lebih tinggi dibanding dengan Jakarta dan Yogyakarta yang hanya 12,5 persen. Pemerintah Jawa Tengah pun belum mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan pajak yang pernah dibahas dengan produsen pada bulan Juni lalu.

Anggota Komisi Pembangunan dan Infra Struktur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Semarang, Wakchid Nurmiyanto, menilai tingginya animo publik di Kota Semarang untuk membeli mobil murah menjadi mengancam sarana jalan raya yang semakin macet. "Ini akan terjadi penumpukan populasi mobil di Kota Semarang yang pasti kemacetan akan semaikin parah," kata Wachid. Ia menilai keberadaan mobil murah itu akan mengganggu kebijakkan pemerintah Kota Semarang yang sedang menggalakkan penggunaan angkutan umum dalam kota dengan Bus Rapid Transit. Di sisi lain ia menduga keberadaan mobil murah akan menambah beban subsidi bahan bakar minyak yang selama ini digunakan publik.

"Negara akan menambah subsidi minyak, dampak berikutnya akan mengurangi dana alokasi umum dari pusat untuk daerah, karena habis buat subsidi BBM," kata Wachid menambahkan. Padahal, menurut Wchid, sebanyak 40 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah diambilkan dari Dana Alokasi Umum (DAU) oleh pemerintah pusat. Ia menjelaskan dana alokasi umum itu untuk pembangunan infra struktur dan failitas umum. "Jadi memebeli mobil murah ssma saja mengusur failitas publik lainya," katanya.

EDI FAISOLTerhangat:Guyuran Harta Labora | Mobil Murah | Tabrakan Maut

Berita Terpopuler:Serangan pada Ruhut, dari Badut Sampai Kumpul KeboJadi Rebutan Klub, Kiper Ravi Pilih Timnas U-19Kenapa Dirut TVRI Dipecat?Capres, Duet Jokowi-JK Terpopuler di Dunia MayaIni Alasan Khofifah Gugat Hasil Pilgub Jawa Timur  

#Low Cost Green Car | LCGC | Mobil Hijau

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi