Pabrik Otomotif Lokal Berjuang Pertahankan Penjualan
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Jumat, 18 September 2015 23:02 WIB
Perakitan mobil di pabrik Plymouth di Detroit pada Agustus 1954. Tahun 1950-an industri otomotif di Detroit mulai booming dan Detroit menjadi kota otomotif yang sangat terkenal. nydailynews.com

TEMPO.CO, Jakarta - Pabrikan otomotif asli Indonesia PT Fin Komodo Teknologi optimistis bisa membukukan penjualan di kisaran 120 unit tahun ini, atau sama seperti raihan tahun lalu meski harus menghadapi perlambatan ekonomi.

Presiden Direktur Fin Komodo Teknologi Ibnu Susilo mengatakan, untuk mempertahankan angka penjualan di saat kondisi ekonomi tidak stabil, pihaknya gencar melakukan pendekatan terhadap konsumen potensial.

“Dalam kondisi seperti ini kami sekarang lebih agresif dekati konsumen. Media sosial kami juga digencarkan lagi untuk dekati konsumen dan melalui pameran,” katanyaKamis (17 September 2015).

Ibnu mengaku pihaknya di tahun ini mengikuti beberapa pameran otomotif berskala besar seperti IIMS 2015, INAPA, maupun Indo Automotive. Dalam pameran-pameran tersebut, Ibnu mengatakan selain sebagai ajang pemasaran, perusahaannya pun gencar melakukan edukasi kepada masyarakat terkait produk otomotif asli buatan Indonesia.

“Memperkuat brand image juga,” terangnya.

Dalam pameran seperti itu Ibnu memberikan diskon hingga Rp5 juta setiap unitnya. Saat ini, produk Fin Komodo menyasar pasar kendaraan yang diperuntukan bagi kondisi non infrastruktur seperti pertambangan dan perkebunan, maupun kendaraan operasional di pedalaman.

Di sisi lain, untuk mempertahankan loyalitas konsumen Fin Komodo pun menjamin pelayanan purna jual. Dia mengklaim, untuk suku cadang dari Sabang sampai Merauke dijamin ketersediannya.

Jika persediannya habis, Ibnu memastikan akan dikirim langsung dari pabrik Fin Komodi di Cimahi, Jawa Barat. Menurutnya, pengiriman ke tempat terjauh di penjuru Nusantara tidak akan memakan wakru yang relative lama.

“1 sampai 3 hari bisa sampai di tempat terjauh,” ujarnya.

Suku cadang tersebut, lanjut dia, khusus buatan Fin Komodo. Penggantian suku cadang bisa dilakukan mekanik dari perusahaan yang bersangkutan yang dibimbing dengan buku panduan, atau melalui alat komunikasi langsung dengan panduan gambar maupun video.

Selain itu, untuk memperluas pasar pihaknya pun gencar menambah jaringan penjualan. Fin Komodo saat ini disokong sekitar tujuh diler di Cimahi, Medan, Jambi, Palembang, Lamongan, Sidoarjo, dan Bali. Tahun ini direncanakan akan buka lagi di Makassar, Balikpapan, dan Banjarmasin.

Di sisi lain, agar penjualan kembali bergairah Ibnu berharap pemerintah dapat menjaga kondisi ekonomi menjadi lebih stabil. Dari data yang dimiliki pihaknya, saat ekonomi melambat konsumen cenderung menunda pembelian.

Dia menyebut, saat ini 80% komponen Fin Komodo asli buatan dalam negeri yang diperoleh dari sekitar 40 pemasok komponen. Sehingga, saat dolar menguat terhadap rupiah pelanggan tidak perlu kuatir dengan penaikan harga.

Saat ini, produk Fin Komodo yang paling diminati adalah varian standar dengan harga pabrikan sekitar Rp88 juta. Kontribusinya mencapai 80% dari total penjualan. Selain itu, varian medical evacuation dan model untuk membuka lahan perkebunan menjadi kontributor terbesar berikutnya.

Sedangkan untuk varian termahal adalah Fin Komodo yang disesuaikan sebagai mobil pemadam kebakaran lengkap dengan peralatannya yang dibanderol Rp300 juta. Dia menuturkan, saat ini pembeli terbesar Fin Komodo adalah perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri. Bahkan menurutnya pembelian bisa di atas 20 unit sekali transaksi.

BISNIS

#Info Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi