Ini Tiga Segmen Mobil Paling Laris di Indonesia
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Senin, 12 Oktober 2015 16:18 WIB
Model berpose untuk foto dengan mobil Citroen Divine, DS PSA Peugeot Citroen, di acara peluncurannya di Paris, Prancis, 4 September 2014. Produk tersebut diluncurkan Peugeot Citroen untuk mendongkrak nilai penjualan unit Citroen yang terbilang rendah dibandingkan produsen lain. Simon Dawson/Getty Images

TEMPO.CO, Jakarta - Sepanjang tahun ini peta penjualan mobil dilihat dari masing-masing segmen bergeming dari tahun lalu. Segmen low multi purpose vehicle, pikap, dan low cost green car masih mendominasi.

Menilik persentase pangsa dibandingkan dengan tahun lalu sepanjang 2015 ketiganya memang mengalami sedikit pergesaran. Akan tetapi, secara kuantitas urutan sebagai tiga segmen dengan penjualan terbanyak masih sama dengan 2014. Pelaku usaha menilai, hal itu tidak akan berubah hingga penghujung tahun ini.

Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), hingga penghujung 2014 sumbangsih LMPV mencapai 30 persen dengan raihan penjualan 361.261 unit dari total pasar 1,208 juta unit.

Sedangkan hingga tutup tahun penjualan pikap baik ringan, sedang dan kabin ganda mencapai 208.634 unit. Jumlah itu membuat pikap berkontribusi sekitar 17,3 persen. Sedangkan LCGC pada 2014 penjualannya mencapai 172.120 unit. Jumlah itu setara 14,2 persen dari total pasar mobil.

Data resmi terakhir dari Gaikindo menyebut penjualan LMPV pada periode Januari-Agustus 2015 sebanyak 168.353 unit. Alhasil pangsa yang dukuasai segmen ‘sejuta umat’ pada kurun waktu tersebut mencapai sekitar 25 persen.

Persentase itu diraup dari total penjualan mobil pada periode yang sama sebanyak 671.641 unit. Di kelas pikap pada periode tersebut sudah terjual 130.175 unit sehingga raihan pangsa sudah mencapai 19,4 persen. Adapun mobil murah dan ramah lingkungan pada periode yang sama terlego 104.061 unit atau 15,5 persen.

Peta penjualan tiga segmen terbanyak memang sempat berubah pada tahun lalu setelah LCGC dipasarkan secara full year. Pada 2013 tiga kontributor penjualan terbesar terhadap industri otomotif dalam negeri dikuasai LMPV, pikap dan truk serta bus ringan.

Pada tahun tersebut total pasar menapak jumlah 1,229 juta unit. Di masa itu LMPV penjualannya mencapai 379.205 unit atau memberikan sumbangsih sekitar 31 persen. Sementara itu segmen pikap angka penjualannya mencapai 204.313 unit, dengan raihan pangsa sekitar 16,6 persen.

Untuk truk dan bus ringan capaian penjualannya sebanyak 111.091 unit. Dengan jumlah itu penguasaan pangsanya sebesar 9,03 persen. Pada tahun lalu, LCGC berhasil menyalip di posisi ketiga penjualan terbanyak sekaligus menjadi penyelamat bisnis otomotif karena pasar yang terhambat pelambatan ekonomi.

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo melihat peta pasar akan cenderung sulit berubah tanpa masuknya segmen baru. Hal itu terbukti tahun lalu LCGC datang menggebrak, dan posisi penjualan kembali tak ada perubahan pada tahun ini karena tidak ada pasar baru yang dibuka.

Menurutnya setiap segmen akan menyasar konsumen yang berbeda. Di sisi lain, terkait volume akan ditentukan kebutuhan konsumen dan kisaran harga yang bisa diterima mayoritas pembeli mobil di Tanah Air. “LMPV dan LCGC di kendaraan penumpang masih akan dominan karena mayoritas konsumen di negara kebutuhannya masih diwakili kedua segmen itu,” ucapnya, Minggu (11 Oktober 2015).

Untuk segmen pikap, Samulo mengamini jika di Indonesia penjualannya ditopang oleh kelas ringan. Kendaraan tersebut menjadi segmen jumbo karena sektor logistic bagi kebutuhan dasar masyarakat tetap berjalan meski ekonomi melambat.

Sektor itu membutuhkan alat angkut macam pikap sehingga angka penjualan di kelas ringan tetap terjaga. “Sektor logistik untuk hasil bumi seperti sayuran atau makanan dan minuman yang menjadi kebutuhan dasar orang selalu ada. Sehingga pikap low ini tetap stabil,” lanjt dia.

Dalam kesempatan berbeda Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sudirman M. Rusdi menilai meski ada penurunan persentase kontribusi LMPV terhadap total pasar tahun ini dibandingkan dengan 2014, segmen itu di Tanah Air masih akan tetap menjadi pilihan utama konsumen.

Terlebih, pabrikan yang selama ini menguasai pasar menstimulus hasrat beli konsumen melalui tawaran produk anyar. Di sisi lain, melihat grafik penjualan LCGC tersebut dia berujar bahwa kehadiran segmen LCGC bisa menjadi satu alternatif pilihan bagi konsumen saat ekonomi melambat.

Sudirman menilai LCGC dapat memenangkan hati konsumen di tataran pembeli pertama mobil baru baik yang pindah dari konsumen mobil bekas atau peralihan dari kendaraan roda dua.

“Kontribusi LMPV memang sedang menurun, tapi kendaraan ini menjadi pilihan utama karena harga, multifungsinya dan Masyarakat kita kan masih pilih seven seater. Sedangkan LCGC dibandingin tahun lalu memang mengalami penurunan tapi kecil sekali dibanding segmen lain,” cetusnya.

Bahkan, penjualan ADM sepanjang tahun ini ditopang ketiga segmen tersebut. Akan tetapi kontribusi terbanyak disumbangkan pikap, disusul LMPV dan kemudian LCGC. Data internal ADM menyebut, capaian ADm sepanjang tahun ini sudah menapak 126.724 unit.

Gran Max mencapai 55.954 unit atau 44,2% dari total penjualan Daihatsu. Kontributor terbesar kedua adalah LMPV Daihatsu Xenia sebanyak 29.146 unit atau 23 persen. Sedangkan Astra Daihatsu Ayla di kelas LCGC meraih 25.287 unit atau menduduki posisi ketiga dengan kontribusi 20 persen.

Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengungkapkan, sejauh ini segmen Gran Max memang cukup diandalkan menopang penjualan. Karena, menurutnya, kelesuan sektor pertambangan dan perkebunan yang merupakan penopang produk komersial truk malah mendongkrak kenaikan dari segmen pikap. "Konsumen banyak beralih, mereka melihat yang sesuai kapasitasnya untuk niaga," tuturnya.

Seperti halnya ADM, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) pun penjualannya ditopang oleh ketiga segmen tersebut. Davy J. Tuilan, 4W Deputy Managing Director PT SIS mengungkapkan pihaknya tetap berharap produk Carry di segmen pikap, Ertiga di kelas LMPV dan Karimun Wagon R andalan di LCGC menjadi tulang punggug penjualan tahun ini.

Bahkan menurutnya, kontribusi penjualan ketiganya tahun ini tak akan jauh beda dari tahun lalu. Pada 2014 kontribusi Carry mencapai 33,6 persen, Ertiga sekitar 30,3 persen, dan Karimun Wagon R sebesar 11 persen dari wholesales SIS sebanyak 154.923 unit. “Tahun ini tulang punggung kami masih sama Carry, Ertiga dan Karimun. Kontribusinya pun saya rasa tidak akan bergerak banyak,” ujarnya.

Dia menilai LMPV merupakan segmen gemuk yang kontribusinya terhadap total pasar di Indonesia dianggap pelaku usaha akan selalu dominan. Untuk LCGC, dia berasumsi karena harganya termurah akan tetap memiliki ‘pesona’ saat pelambatan ekonomi.

Di sisi lain dia mengatakan, meski ekonomi melambat kendaraan niaga yang tidak terlalu kena dampaknya adalah pikap karena segmen itu terus dibutuhkan menggerakan distribusi kebutuhan pokok. “Saat ekonomi melambat biasanya yang kena duluan adalah pasar kendaraan niaga. Tapi kami melihat tidak demikian dengan pikap karena usaha kecil menengah itu tetap berjalan,” ujarnya.

BISNIS

#Info Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi