Pameran Otomotif Akhir Tahun, Genjot Penjualan 1 Juta Mobil  
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Kamis, 29 Oktober 2015 13:24 WIB
Seorang pengunjung melihat dari atas, keramaian pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014 saat baru dibuka di JiExpo, Jakarta, 18 September 2014. IIMS 2014 menghadirkan 36 merek dari anggota Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo). Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap tiga pameran mobil di akhir  tahun ini dapat menggenjot penjualan. Target penjualan satu juta unit mobil tahun 2015 diharapkan tercapai.

Sedikitnya ada 3 pameran otomotif di akhir tahun ini, yaitu Jakarta Auto Show (JAS) pada 28 Oktober hingga 1 November, GIIAS Makassar pada 25-29 November dan GIIAS Surabaya dari 9-13 Desember.

“Dengan adanya ketiga pameran tersebut diharapkan membantu Gaikindo supaya tahun ini penjualan mencapai satu juta unit,” kata Ketua III Gaikindo Johnny Darmawan, Rabu 28 Oktober 2015.

Pada 2014 total penjualan mobil 1,208 juta unit. Karena 2015 terjadi pelambatan ekonomi, Gaikindo merevisi target menjadi 1,1 juta unit. Beberapa waktu lalu bidikan total penjualan kembali diturunkan menjadi kisaran 950 ribu hingga 1 juta unit.

Gaikindo mencatat, pada periode Januari-September 2015 capaian total penjualan mobil di Indonesia sebanyak 764.683 unit. Jumlah tersebut menurun sekitar 18% dari raiahan kurun waktu yang sama tahun lalu yang sebanyak 932.668 unit.

Melalui stimulus ketiga pameran tersebut, Johnny optimistis total penjualan menembus satu juta unit. Di kuartal keempat tahun ini rata-rata penjualan minimal per bulan yang harus di raih ada di kisaran 80 ribu unit.

Keyakinan Gaikindo merealisasikan hal itu semakin kuat mengingat rata-rata penjualan hingga September ada di kisaran 85 ribu unit.  Alasan kenapa tiga kota di atas dipilih sebagai tempat diselenggarakannya pameran. Jakarta dipilih karena pasar terbesar di Indonesia dengan kontribusi mencapai 30-35 persen terhadap total penjualan. Surabaya dinilai sebagai kota kedua dengan pasar terbesar di Indonesia dengan kontribusi penjualan di kisaran 13 persen lebih.

“Sedangkan Makassar itu mencakup Indonesia Timur yang pasarnya sebenarnya potensial di masa depan, kami ingin lihat di sana. Kami tidak mengadakan di Medan karena pernah dilakukan dan antusiasmenya sedikit,” ujarnya.

Harapan terangsangnya pasar di akhir tahun melalui pameran diakui pula oleh pihak pemegang merek. Group Head MMC Sales Group PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Imam Choeru Cahya mengatakan pameran tersebut bisa menjadi ‘alat’ untuk memacu penjualan.

Imam menyebut pihaknya akan ikut serta dalam ketiga acara tersebut. Di JAS pihaknya bahkan menargetkan penjualan mencapai 250 unit. sedangkan di Makassar dan Surabaya target penjualan yang dibidik masing-masing sebanyak 180 unit dan 150 unit.

“Salah satu strategi Mitsubishi bukan dari segi diskon, tapi dengan menaikan branding dengan event seperti ini. Ini jadi alat untuk memacu penjualan dan kami yakin penjualan di akhir tahun aka nada penaikan,” katanya.

Deputy Director Sales Operation Mercedes Benz Passenger  Cars Donald Rachmat mengungkapkan hal senada. Menurutnya, ajang seperti ini cukup produktif untuk membangkitkan gairah industry otomotif.

Dia pun mengungkapkan pihaknya akan selalu konsisten untuk memberdayakan pameran tersebut untuk menggenjot penjualan. Mercedes Benz Indonesia akan melibatkan diler di Makassar dan Surabaya untuk mengikuti pameran pada bulan mendatang. “Karena otomatis masyarakat akan melihat produk yang lebih baru dan men-triger konsumen untuk membeli sehingga merangsang pertumbuhan,” tuturnya.

Senior Marketing Manager PT Mazda Motor Indonesia (MMI) Astrid Ariani Wijana mengatakan acara semacam JAS merupakan salah satu ajang bagi pabrikan maupun diler untuk bertemu dengan konsumen secara langsung.

Dia menilai acara semacam itu lebih efektif meransang daya beli konsumen saat pasar lesu. “Karena konsumen Indonesia lebih nyaman pergi acara tersebut daripada ke diler,” ujarnya.

Sementara itu, Johnny menambahkan, pameran hanya salah satu cara yang dilakukan pengusaha untuk menstimulus pasar. Di sisi lain, lanjut dia, perlu ada dorongan pemerintah agar cara tersebut lebih efektif dalam menggenjot penjualan.

“Pengusaha tidak bisa jalan sendiri. Pemerintah perlu juga memberikan bantuan di sektor likuiditas, interest rate dan exchange rate, itu merupakan hal mikro yang bisa berdampak langsung,” tutupnya.

BISNIS.COM


 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi