Bos Harley Buka-bukaan Soal Sulitnya Bisnis di Indonesia  
Reporter: Tempo.co
Editor: A.a.Gde Bagus Wahyu Dhyatmika
Rabu, 10 Februari 2016 20:39 WIB
Direktur Utama PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia, Djonnie Rahmat mengucapkan salam perpisahan di Mabua Cafe, Jakarta, 10 Februari 2016. Perpisahan tersebut ia sampaikan pada seluruh pihak atas lepasnya Mabua sebagai agen motor gede Harley Davidson di Indonesia. TEMPO/Larissa Huda

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia Djonnie Rahmat mengakui bahwa banyak orang yang ingin membeli motor Harley-Davidson tapi batal karena harganya yang terlampau mahal. Sayangnya, sebagai diler, Djonnie mengaku tidak bisa melakukan apa pun mengingat harga mahal itu disebabkan tarif pajak yang tinggi.

"Harga motor dari pabrik pada dasarnya sama. Hanya sistem tarif, pajak serta biaya logistik yang berbeda (di Indonesia--) membuat harga Harley berbeda," kata Djonnie di Mabua Cafe, Jakarta, Rabu, 10 Februari 2016.

Djonnie memberi contoh, ada negara yang hanya mengambil pajak sebesar 7,5 persen dari harga pabrik dan langsung dijual di showroom. Di Hong Kong misalnya, hanya ada pajak 17 persen. Sedangkan di Indonesia, berbagai pajak dan tarif bea masuk mencapai 300 persen.  Itu pun belum termasuk biaya balik nama (BBN).

Baca juga: Mabua Tutup, Komunitas Moge Sulit Cari Suku Cadang

Perbedaan tarif pajak itu membuat margin keuntungan juga berbeda. Menurut Djonnie, di luar negeri, para distributor sudah bisa mengambil margin keuntungan sebesar 35 persen. "Sementara untuk kami, untuk bisa mencapai margin 5-7 persen saja sulit," kata Djonnie.

Meski didesak situasi, Djonnie mengaku tidak sampai hati jika harus mematok harga tinggi bagi pecinta motor Harley. Ia mengaku dalam bisnisnya, ia tidak semata-mata berdagang, melainkan berupaya memberikan kesempatan pada siapa pun untuk bisa memiliki motor Harley, termasuk karyawannya.

Karena itu, kata Djonnie, dia merasa perlu menjelaskan kenapa harga motor Harley di Indonesia terlalu tinggi. "Sebagian besar yang kami bayar adalah pajaknya," kata Djonnie.

Simak: Impor Mahal, Penggila Harley Harus Ngerem Beli Motor Baru

Hal serupa juga diungkapkan Komisaris Utama PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia Soetikno Soedarjo. Soetikno mengatakan tidak mudah menjual Harley di Indonesia. Harga motor Harley yang top of the line bahkan bisa menembus Rp 1,4 miliar. "Saya mendingan beli mobil Mercy, pakai AC lagi. Masuk akal gak Rp 1,4 miliar untuk motor. Mati aku," kata Soetikno.

Akibat harga tinggi itu, penjualan motor Harley mengalami kerugian yang cukup besar. Pada 2013, Mabua bisa menjual Harley hampir 1.000 motor. Namun pada tahun selanjutnya, penjualan motor terus menurun. Bahkan pada 2015 mengalami penurunan yang cukup drastis hingga 50 persen. "Kami hanya menjual 470 motor," kata Soetikno.

Akhirnya, Mabua memutuskan tidak melanjutkan usaha ini. Soetikno berpesan kepada calon diler Harley-Davidson yang baru nanti agar berani mengeluarkan biaya yang cukup besar dan harus mau rugi. "Kalau gak mau rugi ya jangan. Karena menurut saya tiga tahun ke depan masih berat," kata Soetikno.

LARISSA HUDA

#Harley Davidson

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi