Ini Alasan Kenapa Rio Haryanto Istimewa di Asia  
Reporter: Tempo.co
Editor: Yudono Yanuar Akhmadi
Kamis, 14 April 2016 19:15 WIB
Rio Haryanto di paddock Tim Manor Racing saat sesi latihan kedua lomba Formula One di Bahrain, 1 April 2016. twitter.com/manorracing

TEMPO.COJakarta - Rio Haryanto mengatakan ingin menjadi pembalap F1 terbaik asal Asia, hingga mampu membawa nama Indonesia dan Asia di laga jet darat itu. "Belum banyak pembalap F1 dari Asia, dan memang tidak mudah untuk masuk dalam jajaran F1," katanya seusai ramah tamah dengan masyarakat Indonesia di Shanghai, Rabu malam, 13 April 2016.

Kehadiran Rio di Shanghai untuk mengikuti seri ketiga laga F1 musim ini pada Minggu, 17 April 2016. Rio Haryanto bergabung dengan tim Manor Racing Mercedes bersama pembalap asal Jerman, Pascal Wehrlein. BACA: Rapor Rio Dibanding Alex Yoong dan Pangeran Bira

Sebelum Rio, ada lima pembalap F1 asal Asia dengan capaian prestasi beragam antara lain Satoru Nakajima, sekarang 53 tahun, yang mengawali debutnya pada 1987, langsung satu tim dengan pembalap legendaris, Ayrton Senna, di Lotus. Dia tak pernah merebut podium selama 74 kali start di F1. Prestasi terbaiknya adalah finis posisi keempat di Silverstone (1987) dan Adelaide Street Circuit (1989).

Aguri Suzuki menjadi pembalap Asia tersukses yang pernah ada. Pembalap asal Jepang tersebut cukup berbicara di kancah F1 sejak 1988 hingga 1995. Selama itu, dia bergabung dengan lima tim berbeda, yaitu Larrouse, Zakspeed, Footwork, Jordan, dan Ligier. Prestasi terbaik Suzuki ketika dia merebut podium di Sirkuit Suzuka pada 1990.

Kegemilangannya tertutup oleh insiden di tikungan pertama antara Ayrton Senna dan Alain Prost. Saat itu, keduanya sedang berebut gelar juara F1.

Dua nama Asia lainnya adalah Alex Yoong dan Pangeran Bira. Pada debutnya di jet darat ini tahun 2001 bersama tim Minardi, Alex Yoong asal Malaysia tak bisa melewati finis pada dua seri pertamanya, yakni di Italia (seri ke-15) dan Amerika Serikat (seri ke-16).

Yoong baru bisa finis pada seri berikutnya di Suzuka, Jepang, di posisi ke-16. Namun, pada musim 2002, Yoong pernah meraih poin dengan finis di posisi ketujuh GP Australia dan kesepuluh GP Prancis meski pada tahun itu ia enam kali tak bisa menyelesaikan lomba. Tahun itu juga menjadi akhir kiprah Yoong di F1.

Pangeran Birabongse Bhanudej Bhanubandh atau lebih populer dengan sebutan Pangeran Bira adalah bangsawan Thailand yang terjun di F1 pada 1950-1955. 

Pada debutnya, Bira juga tak mencapai finis di GP Inggris. Namun berikutnya di GP Monako, ia finis di urutan kelima. Bira juga pernah finis di posisi keenam GP Belgia dan keempat GP Prancis 1954.

Posisi Rio cukup istimewa di kawasan Asia. "Tidak banyak pembalap F1 asal Asia yang sukses menjadi terbaik. Dan ini menjadi tantangan terbesar saya ke depan," ujar Rio, 23 tahun.

Seri ketiga F1 di Shanghai 2016 diawali dengan latihan resmi pertama yang digelar pada Jumat, 15 April 2016 pukul 10.00 hingga 11.30 waktu setempat, kemudian dilanjutkan latihan resmi kedua pukul 14.00 hingga 15.30 waktu setempat. Adapun latihan ketiga dilaksanakan Sabtu, 16 April, pukul 12.00 hingga 13.00 waktu setempat.

Babak kualifikasi dimainkan pada Sabtu, 16 April pukul 15.00 hingga 16.00 waktu setempat, sedangkan lombanya digelar Minggu, 17 April pukul 14.00 waktu setempat. Sirkuit di Cina ini memiliki panjang lintasan 5.451 kilometer. ANTARA

#F1
#Rio Haryanto

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi