Vespa Limba Kayu Pensil Ini Harganya Setara 10 Mitsubishi Xpander
Reporter: Pribadi Wicaksono (Kontributor)
Editor: Wawan Priyanto
Minggu, 23 September 2018 14:44 WIB
Vespa Limbah Pensil karya Eri Ashari yang sempat ditawar Rp 1,9 miliar oleh pengusaha Venezuela 5 bulan lalu. Vespa itu kini mejeng di Indonesia Scooter Festival 2018 di Yogya 22-23 September 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono
Iklan
Iklan

GOOTO.COM, Yogyakarta - Sebuah Vespa dengan bodi kayu yang sudah dipelitur mengkilap menggelitik para pengunjung Indonesia Scooter Festival (ISF) Yogyakarta untuk mendekat dan mengambil foto berlatar skuter unik itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seluruh bodi Vespa yang mirip seri Douglas 1955 itu seluruhnya terbalut bahan kayu. Mulai dari bemper, kap lampu, jok, stang, dan lainnya. Pada bagian jok depannya, ada sebuah panel mirip speedometer namun saat ditengok isinya sebuah batu akik, kecubung ungu.

Vespa limbah kayu itu ternyata pernah ditawar seorang kolektor seni asal Venezuela senilai 130 ribu Euro atau sekitar Rp 1,9 miliar. Uang sebanyak itu cukup untuk membeli 10 unit mobil Mitsubishi Xpander tipe terendah. 

Baca: Onderdil Vespa di Indonesia Scooter Festival, Harganya Miring

Vespa itu milik seorang pria bernama Eri Ashari, pendiri Best Wood Art yang bermukim di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

“Seluruh bahan Vespa itu saya buat dari sisa limbah kayu pensil,” ujar Edi saat berbincang dengan Tempo di sela mengikuti Indonesia Scooter Festival Ahad 23 September 2018.

Pria yang kesehariannya menjadi supir taksi online di Bandung itu mengaku telah membangun Vespa limbah kayu pensil miliknya itu setiap hari selama 3 tahun, dari tahun 2015 sampai 2018.  

Eri Ashari, pecinta dan perajin Vespa Limbah Kayu asal Padalarang Jawa Barat saat ditemui di Indonesia Scooter Festival 2018 di Yogya 22-23 September 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono 

Eri telah menghabiskan sekitar 65 juta potongan kecil limbah kayu demi menyusun bodi Vespa itu. Limbah kayu yang biasanya dipakai masyarakat untuk membuat souvenir itu ia peroleh dari berburu sisa bahan produksi pabrik kayu yang tak jauh dari rumahnya. 

“Satu persatu saya tempel potongannya, kalau bosen naksi dulu (cari oderan taksi online),” ujar Eri.

Baca: Begini Ribetnya Persiapan Tong Vespa Setan di Indonesia Scooter Festival

Untuk pembuatannya Eri menerapkan sistem puzzle, alias pengerjaannya harus urut karena menyambung ujung dengan ujung potongan kayu. Meski hasilnya lebih rapi, namun sistem penempelan ini diakui sangat beresiko. Sebab salah sedikit saja pada satu bagian harus mengulang lagi dari awal bagian yang digarap.

“Kalau ada ujung yang salah tempel tapi dipaksakan terus, bodinya jadi ngga kuat, “ ujarnya.

Eri mengakui paling sulit ketika mendapatkan lekukan sesuai yang diinginkan. Mengingat limbah kayu pensil bentuknya persegi seperti penggaris. Ia harus memotong menjadi bagian lebih kecil sehingga dapat lekukan yang diiginkan pada bodi Vespa itu.

Agar bodi Vespa kayu itu mengkilap, Edi mengatakan melapisinya dahulu dengan lilin, baru coating.

Vespa Limbah Kayu Pensil karya Eri Ashari yang sempat ditawar Rp 1,9 miliar oleh pengusaha Venezuela 5 bulan lalu. Vespa itu kini mejeng di Indonesia Scooter Festival 2018 di Yogya 22-23 September 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

Bagian paling sulit untuk membentuk bodi kayu itu yakni di bagian mesin. Susunan limbah kayu harus benar kuat di bagian mesin ini karena yang menjadi sumber tumpuan beban Vespa itu. “Jadi yang original dari Vespa kayu ini hanya mesin, porok, dan shockbreaker,” ujarnya.  

Edi menuturkan, ia tak berminat melepas Vespa kayu yang menurutnya menjadi master piece itu ke kolektor Venezuela meski harganya menggiurkan.

Baca: Tak Perlu Takut Mengoleksi Vespa Tua, Ini Tips Merawatnya

“Saya mendapat informasi dari kawan dekat kalau pengusaha itu orang yang tak menghargai seni, beli barang cuma untuk gengsi dengan cara dihancurkan, buat apa saya jual ke dia,” katanya.

Eri memberi gambaran, justru akan dengan senang hati melepas Vespa kayu itu dengan harga Rp 5 juta saja asal si pembeli benar-benar orang yang menghargai seni.

“Sekarang saya sedang rembug untuk kasih Vespa kayu itu ke museum Merpati Motor di Yogyakarta atau Museum Geologi di Bandung karena pengelolanya sama-sama anak motor yang suka Vespa,” ujarnya.

Eri menuturkan, sampai saat ini sudah membuat lima unit Vespa kayu namun bukan bahan kayu murni seperti Vespa master piece-nya melainkan hanya melapisi bodi aslinya dengan limbah kayu. Sekali pekerjaan melapisi bodi Vespa itu dengan kayu ia mendapat bayaran sekitar Rp 100-120 juta.

Iklan

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi