Begini Kondisi Bisnis Pengiriman Mobil ke Luar Negeri 2017
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Rabu, 21 Desember 2016 14:54 WIB
Pesepeda melintas di depan deretan mobil yang di parkir di pelabuhan mobil Tanjung Priok, Jakarta, 18 Mei 2015. Bank Indonesia mencatat ekspor kendaraan dan suku cadangnya meningkat 5,5 persen (year on year/YoY) terutama terjadi pada negara tujuan Arab Saudi, Filipina, dan Jepang. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Kinerja ekspor mobil pada tahun depan diperkirakan stagnan, terganjal oleh kondisi perekonomian di sejumlah negara tujuan.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, ekspor roda empat terpukul oleh kondisi ekonomi di negara tujuan. Untuk menggenjot ekspor perlu kebijakan yang mendukung dan insentif bagi produsen. “Karena ini kepentingan jangka panjang, seharusnya bisa disokong melalui kebijakan. Sebab jika tidak, sulit mengembangkan ekspor,” ujar Kukuh kepada Bisnis, Selasa, 20 Desember 2016.

Berdasarkan data Gaikindo, ekspor mobil utuh sejak Januari hingga Oktober tahun ini mencapai 159.693 unit, turun 13,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 207.691 unit.

Adapun, ekspor pada Oktober mencapai 20.953 unit, tumbuh 34,02% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 15.634 unit. Jika dibandingkan dengan performa pada Oktober 2015 sebesar 20.068 unit, ekspor pada Oktober tahun ini masih tumbuh 4,4% Kukuh menilai salah satu kebijakan yang dianggap belum mendukung ekspor adalah standardisasi emisi. Saat ini, produk Indonesia sulit bersaing di pasar global karena belum menerapkan standardisasi minimal Euro 4.

“Pasar global saat ini sudah menerapkan standardisasi emisi setara minimal Euro 4. Selain itu, negara-negara Timur Tengah sudah memberlakukan pajak karbon, otomatis ini lebih menyulitkan,” katanya.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono meng amini belum ada celah pertumbuhan terhadap kinerja ekspor tahun depan. Kondisi perekonomian dunia ikut andil menggerus permintaan.

Sebagai kontributor terbesar ekspor nasional, Toyota juga didera kelesuan yang sama. “Harga minyak menurun, sedangkan pasar terbesar masih Timur Tengah yang mayoritas negaranya berpenghasilan dari minyak,” ungkapnya. Secara keseluruhan kinerja Toyota melemah 15 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Toyota masih tertolong oleh pasar Asia. Dengan kondisi ekonomi di negara tujuan ekspor, Warih menyimpulkan sepanjang tahun ini volume ekspor bakal di bawah capaian tahun lalu.

Berdasarkan data Gaikindo, ekspor mobil utuh selama tahun lalu mencapai 207.901 unit. Langkah yang ditempuh guna menyelamatkan volume ekspor pun diperkirakan tidak dapat berhasil dalam waktu singkat.

Membidik pasar baru, termasuk negara kawasan Afrika dan Amerika Se - latan membutuhkan evaluasi pasar yang berkesinambungan. “Kami juga belum bisa menjamin perluasan pasar ke kawasan tersebut menghasilkan pertumbuhan signifikan pada tahun depan, karena baru,” kata Warih.

Sementara itu, Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto membenarkan pelemahan ekspor erat kaitannya dengan harga minyak yang jeblok. Menurut Jongkie, saat ini Indonesia sukar memperluas pasar karena keputusan ekspor bergantung pada prinsipal pusat. Selain itu, Jongkie mengatakan produk buatan pabrik Indonesia juga bukan merupakan produk laris di pasar global. “Masih ba - nyak produksi MPV, padahal pasar global adalah sedan ataupun SUV,” ucap Jongkie.

BISNIS

#Ekspor Mobil

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi