Kisah Karier Aleix Espargaro, Pembalap yang Gantung Helm Akhir MotoGP 2024
Reporter: Erwan Hartawan
Editor: Kusnadi Chahyono
Sabtu, 25 Mei 2024 17:00 WIB
Aleix Espargaro raih podium kemenangan di MotoGP Argentina 2022. (Foto: Aprilia Racing)
Iklan
Iklan

GOOTO.COM, Jakarta - Aleix Espargaro mengumumkan akan pensiun dari MotoGP pada akhir 2024. Pembalap Aprilia Racing ini  mengakhiri kariernya yang sudah berjalan 20 tahun.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Perjalannya kariernya selama membalap tidaknya mudah. Pernah tercatat menjadi juara nasional Spanyol di CEV125 2004, ia malah mendapati jalan yang berliku menuju kesuksesan di masa depan.

Ia bahkan sempat tidak memiliki tim untuk dibela, sehingga kariernya sempat terancam berakhir lebih awal.

Meski prestasinya di Grand Prix tak terlalu mencolok, namun Espargaro dikenal sebagai rider yang pekerja keras dan memiliki watak pantang menyerah.

Dirangkum dari berbagai sumber, karier Aleix Espargaro diawali oleh debutnya di GP125 Valencia pada 2004 sebagai pembalap wildcard. Ia kemudian mendapatkan kontrak semusim penuh pada 2005 dari Seedorf Racing, yakni tim balap milik dua eks pesepak bola tersohor, Clarence Seedorf dan Roberto Carlos.

Setahun berselang, Espargaro membela Wurth Honda BQR, tapi dia harus naik ke GP250 pada pertengahan musim sebagai pengganti Martin Cardenas. 

Jalan yang dilalui pun tidaklah mudah, puncaknya ketika tim yang seharusnya menaunginya, Italian Campetella Racing, mundur mendadak pada awal GP250 2009.

Espargaro pun tidak memiliki tempat di balapan, dan ia hanya menjalani dua balapan di GP250 sebagai rider pengganti di Balatonring Team. Pembalap asal Spanyol itu bahkan beralih profesi sebagai asisten pribadi sang adik, Pol Espargaro, yang sedang membela Derbi Racing Team di GP125 untuk memperebutkan gelar dunia.

Pada tengah tahun, Espargaro mendadak dapat tawaran membela Pramac Racing, tim satelit Ducati, dalam beberapa balapan. Ia menggantikan Mika Kallio, yang dipanggil ke Ducati Team sebagai pengganti Casey Stoner yang absen akibat intoleransi laktosa. Ia juga menggantikan Niccolo Canepa yang absen di dua seri terakhir akibat cedera.

Hasil baik didapati Aleix Espargaro, dia diumumkan sebagai pembalap permanen Pramac Racing untuk musim 2010. Ia memang enam kali gagal finis, tapi sekalinya berlaga dengan lancar, ia selalu ikut meramaikan perebutan posisi 10 besar.

Sayang, ia mengakhiri musim di peringkat 14, dan kontraknya juga tidak diperpanjang oleh Pramac Racing.

Setalah keluar dari Pramac Racing, Espargaro kemudian turun ke Moto2 pada 2011 untuk membela salah satu tim prestisius yang juga milik eks juara dunia Sito Pons, Pons Racing. 

Finis ketiga di Catalunya, Espargaro akhirnya mendapatkan podium perdananya di ajang Grand Prix. Sayangnya, ia mengakhiri musim di peringkat 12.

Meski tak garang di Moto2, Aleix Espargaro mendapat kepercayaan dari Aspar Team untuk proyek MotoGP di kategori CRT. Menunggangi motor Aprilia CRT (ART) yang bermesin superbike, Espargaro membela skuad tersebut pada 2012 dan 2013. Meski hanya duduk di peringkat 12 dan 11 pada masing-masing musim.

Keberhasilannya bikin seisi paddock mulai menaruh rasa hormat pada Aleix Espargaro. Yamaha dan Forward Racing bahkan mengincarnya untuk musim 2014, dijadikan pemimpin proyek kategori Open yang menggantikan CRT. Meski tak mengendarai motor pabrikan, Espargaro meraih podium di Aragon dan mengakhiri musim di peringkat 7.

Kiprah Aleix Espargaro di Forward Yamaha ini membuat Suzuki Ecstar tertarik menggaetnya pada 2015 sebagai pemimpin pengembangan GSX-RR bersama Maverick Vinales. Duet ini mampu membuat motor itu tampil kompetitif. Sayang, kolaborasi ini tak berlanjut pada 2017, karena Suzuki merombak line up ridernya bersama Andrea Iannone dan Alex Rins.

Terdepak dari Suzuki Ecstar, Espargaro mendapatkan tempat di Aprilia Racing Team Gresini pada 2017, yang kala itu juga melakukan perombakan besar usai tak sukses bersama Alvaro Bautista, Marco Melandri, dan Stefan Bradl. Espargaro pun langsung mendapatkan kepercayaan besar untuk memimpin pengembangan RS-GP.

Sebagai bukti betapa krusialnya peran Espargaro, pembalap Spanyol tersebut uniknya menjadi satu-satunya rider yang tak pernah diganti oleh Aprilia sejak 2017. Justru Espargaro lah yang terus berganti tandem tiap musim, dari Sam Lowes, Scott Redding, Andrea Iannone, Bradley Smith, Lorenzo Savadori, dan kini Maverick Vinales.

Tak stabilnya lingkungan kerja Aprilia membuat progres RS-GP berjalan lelet. Hal ini sempat membuat Aleix Espargaro jengah dan bertekad pensiun dini. Namun, semua berubah sejak awal 2019, ketika eks Sporting Director Scuderia Ferrari Formula 1, Massimo Rivola, bergabung sebagai CEO Aprilia Racing. Kedatangan Rivola membuat Aprilia lebih fokus, dan Espargaro terus mengalami peningkatan.

Berkat jiwa kepemimpinannya yang tinggi, Aleix Espargaro mendapatkan julukan 'Il Capitano' (Sang Kapten) dari Aprilia. Status ini ia tegaskan lewat podiumnya di Silverstone, Inggris, pada 2021, yakni podium perdana Aprilia di era modern MotoGP, serta yang pertama sejak GP500 Inggris 2000 di Donington Park lewat Jeremy McWilliams.

Espargaro lalu menggebrak lewat kemenangannya di MotoGP Argentina pada 2022 usai start dari pole. Itu adalah kemenangan perdana Espargaro di ajang Grand Prix, sekaligus kemenangan perdana Aprilia di kelas GP500/MotoGP. 

Pilihan Editor: Aleix Espargaro akan Gantung Helm Tutup Musim MotoGP 2024

Ingin berdiskusi dengan redaksi mengenai artikel di atas? Mari bergabung di grup Telegram pilih grup GoOto

Iklan

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi