Kejutan demi Kejutan Geely Panda
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Senin, 24 Januari 2011 00:01 WIB
Geely Panda LC13 (Raju Febrian/TEMPO)
TEMPO Interaktif, Jakarta - "Mobil baru ya?" Seorang bapak melontarkan pertanyaan saat saya tengah berhenti di pintu Tol Pasteur Bandung, dua pekan lalu. "Iya, Pak," jawab saya. "Buatan mana?" si bapak bernama Anton itu rupanya masih penasaran. "Ini Geely Panda. Mobil keluaran Cina," saya jawab. "Ah, yang bener? Kok nggak keliatan kayak buatan Cina," katanya dengan raut muka tak percaya.
Ini bukan adegan sandiwara, tapi percakapan saya ketika melakukan test drive Geely Panda dengan rute Jakarta Bandung pulang pergi. Keterkejutan Pak Anton sebenarnya juga terjadi pada saya sendiri.
Awalnya saya tak terlalu yakin ketika diundang PT Geely Mobil Indonesia (GMI) untuk ikutan test drive. Maklum, ini kali pertama saya melakukan perjalanan cukup panjang dengan mobil yang diimpor utuh (Completely Bulit Up) dari Negeri Tirai Bambu itu.
Tapi saya langsung terkejut ketika menyaksikan langsung tampilan 10 Geely Panda yang disiapkan GMI.  Eksterior Panda lebih mirip mobil keluaran Eropa yang modis dan sporty, jauh dari kesan kasar dan kaku yang kerap disematkan pada mobil bikinan Cina.
"Kejadian seperti itu nggak cuma sekali, tapi sering," kata A Budi Pramono, President Direktur PT Geely Mobil Indonesia. "Coba nama Geely dan logonya dicopot, pasti orang nggak akan percaya kalau ini mobil produksi Cina. Desainnya keren, fitur lengkap."
Ekterior Panda
Promosi Budi tak berlebihan. Dari tampilan luar ada satu yang unik. Jika diperhatikan dengan seksama mobil ini benar-benar mirip namanya; Panda. Coba lihat desain lampu utama depan yang dan grill yang dikeliling aksen warna hitam, persis mata dan mulut beruang khas Cina tersebut.
Di bagian belakang, lampu kombinasi seperti telapak kaki dan kuku panda. Meski, desain kedua lampu ini terlalu besar jika dibandingkan mobil yang punya bodi sepanjang 3.5 meter ini.
Nathan Sun, Direktur Pemasaran PT Geely Mobil Indonesia, mengatakan Geely terinspirasi kemashuran VW Beetle yang meniru kepik. "Ini bukan sekedar mobil, tapi hewan peliharaan," kata Nathan Sun.
Masuk ke kabin, kualitas material maupun pengerjaannya cukup rapi. Kesan pertama yang ditangkap adalah hampir semua ornamen berbau bundar. Konsol tengah dasbor -- tempat AC, unit audio, dan tombil lampu hazard -- berbentuk bundar. Demikian juga dengan dua kisi AC di kiri kanan dashboard serta speedometer, juga bundar.
Yang sedikit mengganggu adalah soal blindspot. Pilar A yang cukup besar menggangu pandangan ke depan. Demikian juga pandangan ke belakang yang terhalang sandaran kepala. Lainnya, kaca spion kurang besar untuk meng-cover sisi samping dan belakang kendaraan.
Fitur lengkap
Toh, kejutan Panda belum berhenti. Fitur yang disematkan pada Panda bisa diklaim paling lengkap. Tak percaya? Coba catat, untuk tipe terbawah Panda GS (Rp 99 juta) sudah dilengkapi tilt streering pada kemudi, power steering, central lock, power window, rear wiper, impact absorbording door, dan ABS + EBD.
Tipe Panda GL (Rp 109 juta) malah ditambahi electric mirror, radio + MP3, dan dual airbag. Jika kurang Audio Double Din, DVD dan GPS, jok kulit, serta 6 airbag bisa sebagai perangkat opsional.
Rute awal test drive kami menempuh tol Jagorawi - Puncak - Bandung. Saya bersama rekan dari Investor Daily mendapat tipe GL yang diperkuat mesin 1.343 cc DOHC dengan transmisi 5-speed manual. Tenaga yang disebut 63 kW pada 6.000 dan torsi 110 pada 5.200 rpm ternyata cukup mumpuni.
Lantaran bermain di putaran mesin tinggi, tarikan di awal terasa agak berat. Tapi tanjakan terjal di Gadok maupun Ciawi bisa dilahap dengan mudah meski tekanan di pedal gas harus dilakukan sedikit dalam. Catatan cukup penting adalah nafas antar gigi, terutama di gigi 3, sangat panjang. "Nggak nyangka," kata Rio Winto, rekan dari Investor Daily, yang menyetir.
Kesenyapan kabin oke punya. Suspensi juga lumayan empuk dan stabil meski menggunakan model standar, McPerson di bagian depan dan Torsion Beam di belakang. Menikung juga tak terasa limbung, dengan catatan kecepatan kami tidak terlalu tinggi.
Saat kembali ke Jakarta keesokan harinya, pertanyaan soal kecepatan mendapat jawaban. Menempuh rute Bandung - tol Padalarang - Jakarta, saya yang menyetir bisa menggeber mobil ini lumayan kencang. Kecepatan tertinggi yang saya capai sekitar 140 km/jam. Cukuplah untuk sebuah mobil yang masuk kategori city car. Oh ya, Geely memasang alarm kecepatan saat jarum speedometer memasuki angka 120 km/jam. Tiiiittttt..... 
RAJU FEBRIAN
#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi