Dua Indikasi Kompresi Motor Merosot
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Senin, 11 Juli 2011 12:28 WIB
TEMPO/Gunawan Wicaksono

TEMPO Interaktif, Jakarta - Salah satu penopang tenaga bagi sepeda motor adalah kompresi mesin. Tekanan kompresi adalah tekanan efektif rata-rata yang terjadi di ruang bakar, tepat di atas piston.

“Semakin besar rasio kompresi, maka semakin besar pula tenaga yang dihasilkan oleh mesin dan sebaliknya,” tutur Apip Nuryana, mekanik Berkah Motor, Sumur Batu, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin, 11 Juli 2011.

Dia menyebut, ukuran ideal tingkat panas dan kompresi untuk masing-masing jenis dan merek sepeda motor berbeda-beda. Umumnya, para produsen motor memberikan batasan dan mencantumkan ukuran tingkat kompresi mesin di buku manual.

Seiring dengan usia pemakaian, kurangnya perawatan, dan salah dalam perlakuan terhadap motor, tingkat kompresi juga mengalami penurunan. Bagi orang yang menyukai motor bertenaga besar dan untuk keperluan balap, mereka biasanya melakukan modifikasi guna meningkatkan tingkat kompresi.

Caranya, dengan mengganti ukuran piston agar volume bahan bakar dan udara yang disemprotkan ke ruang bakar bertambah besar. “Biasanya bengkel besar menggunakan alat ukur compression gauge untuk mengetahui rasio tersebut,” kata Apip.

Namun, ada beberapa cara mudah yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Seperti apa? Berikut penjelasan Apip:

1. Mesin motor sulit dihidupkan

Cara yang paling mudah dilakukan namun cukup tepat untuk mengetahui ada tidaknya kompresi mesin sepeda motor adalah dengan melakukan starter, baik dengan kick starter (engkol) maupun dengan electric starter. Bila tuas engkol starter seperti tidak menyangkut apapun, atau menyangkut namun tidak ada suara pantikan api di dalam blok mesin, berarti kompresi tidak ada.

Merosotnya atau bahkan hilangnya tingkat kompresi itu bisa dikarenakan oleh beberapa hal. Kondisi busi dan kabel busi yang telah aus, piston yang yang tergores atau luka, serta kualitas bahan bakar yang tidak bagus.

Busi dan kabel busi yang telah aus menyebabkan pantikan api tidak maksimal. Akibatnya, campuran udara dan bahan bakar yang disemburkan ruang bakar mesin tidak terbakar atau gagal terbakar.

Sementara piston yang sudah aus, misalnya ada luka atau tergores bagian pinggir atau setang piston yang bengkok menyebabkan tekanan lemah. Akibatnya, campuran bahan bakar dan udara tidak bisa disemburkan dengan kuat ke ruang bakar.

“Bahan bakar yang jelek karena tingkat oktan sangat rendah juga menyebabkan tingkat kompresi kecil dan mesin mengelitik karena tidak terbakar dengan sempurna,” terang Apip.

2. Tenaga loyo

Ciri lain dari merosotnya tingkat kompresi adalah tenaga yang dihasilkan oleh mesin loyo alias motor tidak bertenaga meski tuas gas ditarik dengan kuat hingga mentok. Pada saat yang bersamaan, semburan asap pekat mengalir dari moncong knalpot.

Kondisi ini bisa terjadi karena tingkat kerenggangan klep yang sudah tidak akurat lagi. Akibatnya, semburan bahan bakar dan udara tidak ideal seperti rancangan pabrikan.  “Efeknya selain tenaga loyo, juga boros bahan bakar,” ujar Apip.

Penyebab lainnya adalah piston yang telah aus. Bagian pinggir kepala piston dan setang piston yang bengkok menyebabkan entakan piston dalam memampatkan campuran bahan bakar dan udara ke ruang bakar tidak sekuat yang semestinya.

Oli mesin yang merembes ke ruang bakar karena seal atau lapisan karet di sambungan antarbagian mesin atau di blok mesin yang robek juga berpengaruh pada tingkat  kompresi rendah. Pasalnya, meski entakan piston tinggi, namun tetesan oli ke ruang bakar menjadikan komposisi udara dan bahan bakar tidak ideal lagi.

“Keberadaan oli itulah yang menyebabkan pembakaran tidak sempurna, tenaga motor pun loyo,” terang Apip.

ARIF ARIANTO

#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi