Tak Jatuh, Motor Simoncelli Diduga Masuk Jalur Pembalap Lain
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Selasa, 25 Oktober 2011 11:21 WIB
Kecelakaan antara Colin Edwards (tengah), Valentino Rossi (kiri) dan Marco Simoncelli saat Grand Prix MotoGP Malaysia di Sepang, Minggu (23/11). Simoncelli meninggal akibat luka dada, kepala dan leher. AP/ Ruben Yap

TEMPO Interaktif, Milan - Pembalap legendaris, Giacomo Agostini, 69 tahun, menilai tidak perlu mencari kambing hitam atas kecelakaan yang dialami pembalap Italia, Marco Simoncelli, pada Ahad lalu di Sirkuit Sepang, Malaysia. "Kecelakaan kerap terjadi saat balapan. Sayangnya, kecelakaan kemarin itu fatal," kata Agostini, yang 15 kali menjuarai balap motor, kepada RAI Radio, Selasa, 25 Oktober 2011.

Menurut dia, kecelakaan menjadi fatal karena motor yang ditunggangi Simoncelli tidak jatuh, namun masuk ke jalur pembalap lain. Akibatnya, kedua pembalap lainnya, Colin Edwards dan Valentino Rossi, tidak bisa menghindari Simoncelli dan menabraknya. Pada kecelakaan itu, pembalap tim San Carlo Gresini Honda berusia 24 tahun itu tewas dengan cedera di kepala, leher, dan dada.

Agostini menilai, perlindungan yang tersedia bagi para pembalap saat ini sudah lebih dari memadai. Apalagi jika dibandingkan dengan fasilitas yang tersedia pada zamannya, yaitu para pembalap hanya memakai seragam tipis dengan helm kekecilan dan pembatas lintasan yang terbuat dari beton. Akibatnya, banyak rekannya sesama pembalap yang mati.

Sedangkan saat ini, pembalap telah dilindungi dengan seragam yang kuat, helm penuh, penyangga punggung, serta tepi lintasan yang luas untuk mengantisipasi jika pembalap ke luar jalur. "Namun saat motor seberat 150 kilogram menabrakmu dengan kecepatan 150 kilometer per jam, ya, tidak ada perlindungan yang cukup." Pada kasus Simoncelli, dua motor sekaligus yang menabraknya.

Agostini mengusulkan jenis ban yang lebih lunak digunakan untuk balapan. "Jadi, mulai pertengahan balapan, ban akan menipis dengan sendirinya," kata dia. Saat ini, balapan MotoGP menggunakan ban yang relatif keras dengan kualitas yang stabil dari awal hingga akhir balapan. Produsen ban membuat ini atas permintaan para pembalap, yang ingin balapannya berlangsung stabil. "Sayangnya, itu berarti, jika cengkeraman ban berkurang, ban akan terpeleset dan menjatuhkan si pengendara secara tiba-tiba."

AUTOSPORT | BUDI RIZA

#MotoGP
#Honda

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi