Schumacher Bisa Koma Selamanya  
Reporter: Tempo.co
Editor: Nurdin Saleh TNR
Jumat, 17 Januari 2014 18:41 WIB
Akibat Benturan di Kepala, Schumacher Kian Kritis

TEMPO.CO, Jakarta - Sudah lebih dari dua minggu Michael Schumacher terbaring dalam keadaan koma. Pembalap Formula 1 itu tak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan saat bermain ski di Alps, Prancis, 29 Desember 2013. Para dokter yang merawatnya kini mengkhawatirkan hal terburuk: Schumacher bisa jadi berada dalam kondisi koma selamanya.

Sejak kecelakaan itu, Schumacher sudah menjalani dua operasi otak. Namun kondisi otak pembalap asal Jerman yang dirawat di Groble, Prancis, itu tetap saja kritis. Schumacher bahkan tetap tak sadarkan diri saat para penggemarnya berkumpul di luar rumah sakit untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-45, 3 Januari lalu. Surat kabar Jerman, Bild, mendapat informasi dari dokter di Prancis bahwa tidak mungkin membangunkan Schumacher jika melihat kondisi kritisnya.

Ahli bedah saraf Andreas Zieger dari University Clinic for Neurosurgery Oldenburg menyebutkan kemungkinan adanya komplikasi pada kondisi kesehatan Schumacher. "Sebaiknya jangan berspekulasi. Kita berbicara soal hidup dan mati. Secara teori, kondisi koma bisa diatur selama pasien hidup. Itu tidak akan melukai otak," katanya.

Namun tetap saja ada kekhawatiran akan perubahan yang terjadi pada Schumacher jika dia dipaksa koma dalam jangka panjang. "Jika Schumacher selamat, dia tidak akan lagi menjadi orang yang sama," kata Dr Richard Greenwood, spesialis otak dari University College London Hospital kepada surat kabar Inggris The Times.

Masalah lain yang muncul dari kondisi koma Schumacher adalah pasokan oksigen yang berkurang. Cedera parah yang diderita Schumacher memaksa dokter membuatnya dalam keadaan koma. Semakin lama dia berada dalam kondisi itu, muncul kemungkinan adanya kerusakan otak dan organ tubuh dalam jangka panjang.

"Jika cederanya sangat parah hingga membahayakan pasien, dia bisa semakin lama dibuat koma. Tergantung pada lokasi pendarahannya, dia bisa menderita kelumpuhan, kelainan cara bicara, atau perubahan kepribadian," kata Gereon Fink, profesor dan pakar saraf dari Jerman.

DAILYMAIL | FOXSPORTS | GABRIEL TITIYOGA

Berita LainUngguli PBR 1-0, 'Jupe' Selamatkan Persib  Tiga Klub LSI Terancam Pakai 18 PemainMessi Cetak Brace, Barcelona ke Perempat FinalBabak I Persib Lawan PBR Berakhir Imbang

#F1

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi