Agar Program Mobil Hybrid Sukses, Pemerintah Diminta Tiru Jepang
Reporter: Tempo.co
Editor: Ali Akhmad Noor Hidayat tnr
Senin, 17 April 2017 11:13 WIB
Mitsubishi eX, mobil konsep yang ramah lingkungan. Autoguide.com

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Yohannes Nangoi, mengatakan pemerintah sebaiknya meniru Jepang dalam hal penerapan insentif kendaraan hemat energi dan rendah emisi. Menurut dia, di Jepang konsumen mendapatkan keringanan fiskal sangat besar ketika ingin membeli mobil hibrida.

“Sehingga harga mobilnya sangat murah bahkan setara mobil biasa,” kata dia, seperti dikutip di Koran Tempo edisi Senin 17 April 2017. Insentif tersebut, kata dia, mendorong penjualan kendaraan hibrida di Jepang cukup tinggi.

Awal Maret lalu, pemerintah menerbitkan Perpres No. 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional. Dalam lampiran beleid tersebut, disebutkan bahwa pemerintah akan mengembangkan kendaraan bertenaga listrik atau hibrida pada 2025 sebanyak 2.200 unit untuk roda empat dan 2,1 juta untuk kendaraan roda dua.

Baca: Toyota: Perawatan Mobil Hybrid Lebih Murah

Sebagai instrumen pendukung, pemerintah juga menyiapkan kebijakan pemanfaatan kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan etanol (flexi-fuel engine) dan menyusun kebijakan insentif fiskal untuk produksi mobil dan motor listrik. Pemberian insentif ini merupakan langkah pemerintah untuk memancing minat produsen dalam mengembangkan kendaraan hibrida atau listrik. Pemberian insentif juga ditujukan untuk menekan harga jual.

Para produsen kendaraan bermotor pesimistis regulasi baru yang diterbitkan pemerintah mengenai pengembangan kendaraan bermesin hibrida dan listrik mampu menurunkan harga mobil yang memakai teknologi tersebut. Direktur Pemasaran PT Honda Prospect Motor (HPM), Jonfis Fandy, menilai skema insentif yang diterapkan nantinya harus mampu membuat harga jual kendaraan bermesin hibrida atau listrik bisa setara dengan produk kendaraan bermotor konvensional.

Baca: Ini yang Membuat Mobil Hybrid Semakin Digemari

“Kami masih menunggu skema yang akan diberikan pemerintah seperti apa, kalau insentifnya besar, tentu bagus bagi konsumen, karena kendaraan bermesin hibrida bisa jadi lebih murah,” kata Jonfis. “Kalau tidak, akan sulit menjual mobil dengan teknologi demikian, karena mahal.”

HPM merupakan salah satu agen pemegang merek kendaraan bermotor yang sudah memasarkan produk kendaraan hibrida di Tanah Air, yakni Honda CR-Z yang dibanderol seharga Rp 535 jutaan. Tahun lalu, mobil ini laris sebanyak 135 unit. Jumlah itu jauh lebih rendah dari produk sedan konvensional mereka, seperti Honda Civic seharga Rp 386 jutaan, yang mampu terjual 1.681 unit.

Pengembangan kendaraan bertenaga alternatif ini juga bertujuan untuk mengurangi konsumsi bakar fosil. Alat transportasi saat ini menjadi konsumen bahan bakar minyak terbesar, yakni mencapai 90 persen pada 2015. Pemerintah memproyeksikan konsumsi BBM itu akan turun menjadi 83,5 persen pada 2025 dan menjadi 72,9 persen pada 2050, sejalan dengan diversifikasi atau peningkatan penggunaan jenis energi lainnya, seperti bahan bakar nabati (BBN), gas bumi, dan listrik.

Salah satu aturan turunan dari perpres tersebut adalah skema low cost emission vehicle (LCEV) yang saat ini masih disusun pemerintah.

PRAGA UTAMA

#Low Cost Green Car | LCGC | Mobil Hijau
#PT Honda Prospect Motor

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi