Soal Kedalaman Tapak Ban, Michelin Tak Sepandat dengan UE
Reporter: Tempo.co
Editor: Setiawan
Senin, 22 Mei 2017 18:00 WIB
Ban Michelin Pilot Sport 4 untuk ilustrasi semir ban. TEMPO/Wawan Priyanto

TEMPO.CO, Jakarta - Produsen ban asal Prancis Michelin tidak mau mengikuti saran dari sejumlah industri ban untuk meningkatkan kedalaman alur tapak ban menurut aturan Uni Eropa dari 1,6 menjadi 3 mm. Produsen ini menegaskan bahwa tidak ada kaitannya antara kedalaman alur tapak ban dengan kecelakaan karena tidak akan merubah standar perusahaan yakni 1,6 mm.

Baca: GM Dukung Pemanfaatan Karet Alam dalam Produksi Ban Seperti dilansir dari laman car.advice.com, Senin 22 Mei 2017, menurut Michelin, merubah kedalaman alur tapak ban akan berpengaruh terhadap biaya produksi ban dan dampaknya akan membuat harga ban akan melonjak. Selain harga ban yang akan lebih mahal, perubahan kedalaman alur tapak ban seperti studi yang dilakukan Ernst & Young juga akan membuat konsumsi bahan bakar juga melonjak.

Erns & Young menemukan bahwa 128 juta ban di Eropa yang yang telah ditingkatkan kedalaman alur tapaknya akan membuat peningkatan 9 juta ton emisi gas buang CO2.

Michelin menyebutkan ban dengan tingkat kedalaman alur tapak 1,6 mm justru lebih aman. Ban dengan spesifikasi seperti ini memeliki daya cengkram yang kuat saat kondisi jalan basah.

Michelin mengklai telah melakukan tes internal terhadap ban produksinya yang memakai standar kedalaman alur tapak ban 1,6 mm. Ternyata saat di jalan basah, ban bekas yang dipakai perusahaan untuk tes ternyata bisa dipakai sebaik ban baru.

Baca: Michelin Optimistis Pasar Otomotif Bergairah

Dari hasil tes ini, Michelin ingin membuktikan bahwa kedalaman alur tapak ban tidak terlalu berkorelasi terhadap kecelakaan. Kinerja ban dipengaruhi oleh sejumlah fakto yakni desain casing, bahan yang dipakai, senyawa karet, desain tapak dan bentuk alur.

SETIAWAN ADIWIJAYA

#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi