Imbas Brexit, Jaguar Land Rover Hentikan Produksi Sepekan
Reporter: Antara
Editor: Wawan Priyanto
Minggu, 27 Januari 2019 17:03 WIB
Jaguar Land Rover I-PACE konsep, dihadirkan dalam pameran `Tech Fest` di London, Inggris, 7 September 2017. I-Pace akan diproduksi di pabrik perakitan Magna Steyr yang berlokasi di Austria. REUTERS
Iklan
Iklan

GOOTO.COM, Jakarta - Merek kendaraan Inggris Jaguar Land Rover (JLR), yang kini dimiliki perusahaan India Tata Motors, mengumumkan rencana penghentian produksi selama sepekan pada April 2019 di pabrik Inggris terkait masalah Brexit.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

JLR mengatakan penghentian produksi secara sementara akan berlangsung pada 8-12 April 2019, mempengaruhi tiga pabrik mobil Jaguar Land Rover serta pabrik mesin mereka.

"Kami telah mengonfirmasi tanggal libur tahun ini kepada karyawan di semua lokasi di Inggris. Sebagai bagian dari ini, kami juga telah mengonfirmasi bahwa akan ada tambahan minggu penghentian produksi pada 8-12 April karena potensi gangguan Brexit," kata juru bicara JLR dilansir kantor berita India, Press Trust India, Minggu, 27 Januari 2019.

Baca: Pabrik Tesla di Cina Mulai Dibangun

Inggris akan berpisah dengan Uni Eropa dalam batas waktu yang ditetapkan, 29 Maret 2019, kendati proses yang dikenal sebagai Brexit itu menimbulkan kontroversi.

Dari sektor otomotif, JLR telah memperingatkan berulang kali agar Inggris tidak keluar dari blok ekonomi yang beranggotakan 28 negara. Hal itu berpotensi buruk pada industri otomotif karena dapat mempersulit jaringan rantai pasokan bahan baku dan suku cadang, hingga pada akhirnya akan berimbas pada lapangan kerja.

JLR mempekerjakan kurang dari 39.000 pekerja di sejumlah pabrik di Inggris antara lain Castle Bromwich, Solihull-Wolverhampton, West Midlands, dan Halewood Merseyside.

Baca: Wuling Almaz Dilengkapi Monitor Raksasa Seperti Tesla Model S?

Rencana penghentian produksi itu mengikuti pengumuman awal bulan ini, saat perusahaan memotong 4.500 tenaga kerja guna menghemat biaya hingga 2,5 miliar poundsterling.

Merek mobil mewah itu bahwa sudah menutup pabrik utamanya di Solihull selama dua pekan pada Oktober 2018, mencerminkan "permintaan yang tidak stabil" di pasar-pasar utama seperti Cina.

Antara

Iklan

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi