Cerita Inisiator Soal Perjuangan Esemka hingga Jadi Manufaktur
Reporter: Dinda Leo Listy (Kontributor)
Editor: Eko Ari Wibowo
Rabu, 11 September 2019 16:50 WIB
Dwi Budhi Martono yang akrab disapa Totok, 56 tahun, si empunya mobil Esemka Bima Prototipe. Mobil ini hanya ada dua, satu lagi dimiliki seorang guru SMK di Riau. Mobil ini masih cukup baik dan bisa digunakan. 10 September 2019. TEMPO/Dinda Leo Listy

GOOTO.COM, Jakarta - Esemka sempat menghilang setelah dipopulerkan Widodo yang saat itu menjabat Wali Kota Surakarta Joko hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012. 

"Tapi bukan berarti mobil Esemka pada kurun waktu itu mati suri," kata salah satu inisiator mobil Esemka sekaligus perintis PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) Dwi Budhi Martono yang akrab disapa Totok saat ditemui Tempo di kantornya pada Rabu, 11 September 2019.
 
Guru teknik otomotif SMK Negeri 2 Surakarta itu mengatakan, PT Esemka didirikan pada 2010 dan mematenkan merek Esemka pada tahun yang sama. Saat itu, prototipe mobil Esemka masih dirakit di sejumlah sekolah yang menjadi embrio lahirnya PT Esemka, di antaranya SMKN 2 Surakarta dan SMK Warga Surakarta. 
 
"Saat diuji pertama kali di Jakarta pada 2010, tidak lulus. Salah satu penyebabnya sorot lampu yang mengarah keluar atau samping, tidak mengenai sensor alat uji yang ada di depan," kata Totok
 
Sebelum mobil Esemka digunakan sebagai mobil dinas Wali Kota Surakarta Jokowi pada 2012, Totok berujar, PT Esemka mengirimkan 18 siswa SMK untuk berlatih membuat bodi dan pengecatan (finishing) di bengkel Kiyat Motor Klaten selama tiga bulan. "Karena untuk memasukkan lampu itu musti mengubah grill, kap mesin, dan lain-lain," ujar Totok.

Berkat serangkaian perombakan yang memakan waktu sekitar dua tahun, termasuk mengubah lampu, memangkas bobot dan lain-lain, mobil yang sebelumnya gagal tes lima kali berturut itu akhirnya dinyatakan lulus uji oleh Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) dan mendapatkan Surat Regristasi Uji Tipe (SRUT) pada 28 Agustus 2012. SRUT termasuk syarat untuk mendapatkan BPKB.

"Setelah memiliki sampel produk, produk yang bisa dirakit, serta dan kelengkapan dokumen, PT Esemka berniat membuat assembly line (proses manufakturing) yang besar pada 2014," kata Totok. Keinginan itu disambut oleh Presiden Jokowi yang mempertemukan PT Esemka dengan pihak investor pada 2015. 
 
"Dari pertemuan dengan investor itu, sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan perakitan di sekolah-sekolah. PT Esemka musti punya assembly line sendiri hingga akhirnya dipilihlah di Boyolali (Desa Demangan, Kecamatan Sambi) sebagai lokasinya," kata Totok.
 
Seiring berkembangnya PT Esemka menjadi perusahaan manufaktur yang berorientasi bisnis murni, para perintis PT Esemka yang berstatus guru PNS termasuk Totok pun mengundurkan diri. "Pak guru-pak guru kok nyambi (punya pekerjaan sambilan) di PT Esemka, yo diseneni (dimarahi)," kata Totok sambil tertawa. 
 
Meski tidak bergabung dalam manajemen PT Esemka saat ini, Totok mengaku masih menjadi konsultan jika perusahaan itu sewaktu-waktu mengalami kendala dari sisi teknik otomotif. "Sebagai inisiator sekaligus perintis, tentu kami juga mendapat penghargaan dari PT Esemka," kata Totok tanpa menyebutkan wujud penghargaan itu. 
#Esemka
#Mobil Esemka

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi