Jazz, Enak dan Nyaman buat Ngebut  
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Minggu, 7 September 2008 14:37 WIB
Honda Jazz

jazzTEMPO Interaktif, Jakarta: Waktu menunjukkan pukul 7 pagi saat saya tiba di markas PT Honda Prospect Motor (HPM) di kawasan Sunter. Di halaman parkir, enam Honda All New Jazz sudah terlihat berjejer rapi, siap untuk dijadikan "kelinci percobaan".

Setelah diluncurkan pada 27 Juni lalu, All New Jazz memang mulai banyak berseliweran. Saya hanya bisa berkhayal: kapan, ya, saya bisa mengendarai All New Jazz? Rabu lalu, Honda memberikan kesempatan kepada Koran Tempo untuk menjajal mobil ini. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Sebanyak 11 media, yang dibagi menjadi enam kelompok, sesuai dengan jumlah Jazz baru yang disediakan, mendapat rute berbeda-beda. Saya kebetulan mendapat rute HPM Sunter-Pondok Indah Mall II-Plaza Senayan-Sentul (Desa Gumati), dan berakhir di Hotel Dharmawangsa. Nah, saya mendapat perangkat global positioning system yang berfungsi sebagai pemandu, pengukur kecepatan (speedometer), dan penggunaan rata-rata bahan bakar.

Tepat pukul 09.30 pagi, kami dilepas Presiden Direktur HPM Yukihiro Aoshima. Test drive All New Jazz pun dimulai. Dalam mobil, saya tidak sendiri. Hilda Lestari dari Arc World Wide sebagai event organizer menemani saya dan siap dijadikan teman diskusi.

Tujuan pertama adalah Pondok Indah Mall II melewati jalan tol Yos Sudarso. Lantaran baru pertama kali mencoba, saya lebih dulu mencoba beradaptasi dengan kondisi interior di dalam mobil. Jok pengemudi terasa lebih lebar ketimbang model lama. Kaca depan juga lebih luas sehingga pandangan ke depan terasa bebas.

Kecepatan saya pertahankan di 60-80 kilometer per jam. Matahari terlihat lumayan menyengat. Di dalam? Wah, nggak panas sama sekali, berkat pendingin udara nan nyaman. Ketika keluar di pintu tol Lebak Bulus, kemacetan menyambut kami. Mobil dan motor hiruk-pikuk saling sodok. Untung saya mendapat Jazz RS manual sehingga bisa "dimain-mainkan" di antara mobil lainnya. Gas dan setir yang ringan mempermudah saya untuk sedikit nakal di tengah kemacetan.

Di PIM II, setelah melakukan check point dan mengambil kupon makanan kecil, kami langsung menuju Plaza Senayan. Sepanjang perjalanan, saya agak "ge-er" karena jadi pusat perhatian. Sebenarnya karena Jazz-nya sih. Okelah, tampilan luarnya kelihatan lebih kaku, tapi tetap nikmat untuk dilihat.

Spoiler di bawah bumper (air flow) langsung mengarah ke radiator dan ke mesin sehingga suhu mesin tetap terjaga. Dudukan radiator di Jazz baru ini lebih rendah sehingga ujung tampak lebih runcing dan berkesan sporty.

Setibanya di Plaza Senayan, kami beristirahat sejenak di sebuah coffee shop. Minder juga ketika mendengar yang lain sudah sempat memacu kendaraannya hingga 120 km/jam. "Mobil gua bejek, tapi bener nih, mobil tetep stabil," kata seorang wartawan. Saya belum bisa menimpali pembicaraan mereka karena dari Sunter hingga Senayan kenyamananlah yang saya cari.

Pukul 11 siang, kami meluncur ke arah Sentul, tepatnya mengarah ke restoran Gumati. Niat untuk "menggenjot" mobil di dalam jalan tol dalam kota sedikit terganjal dengan padatnya trafik. Terpaksa niat ngebut diurungkan dulu. Hilda, yang mendampingi saya, terlihat lemas. Mungkin dia bosan dengan gaya menyetir saya yang terlalu santai untuk ukuran mobil 1.500 cc dengan teknologi i-Vtech. "Maaf ya, Mbak, kalau saya terlalu pelan nyetir-nya, jadi bikin ngantuk," kata saya.

Tapi begitu lepas tol dalam kota, jalanan mulai terlihat renggang. Oke, it's the time. Sudah waktunya menginjak gas agak dalam. Gigi 2, kecepatan mendekati 60 km/jam, gigi 3 mobil melaju dengan entengnya di 80 km/jam, gigi 4 naik menjadi 110 km/jam, dan wuss.. ketika masuk gigi 5, kecepatan mencapai 120 km/jam.

Dengan kecepatan seperti ini, mobil tetap stabil. Saya coba sedikit bermanuver. Setelah mendahului mobil di depan, setir sedikit dibanting, dan gigi dikurangi untuk merasakan efek engine brake. Perpindahan gigi 5 ke 3 sangat halus. Engine brake, terasa tapi tenaga langsung dapat lagi ketika pedal gas diinjak. Saat membanting setir, mobil juga tidak terasa seperti terlempar, beban mobil tetap terasa mantap.

Sembari menyantap gurame goreng dan es kelapa di restoran Gumati, Sentul, pemakaian bahan bakar dicek. Kesimpulannya, konsumsi Jazz yang saya tercatat 1 liter per 16 kilometer. "Wow, irit sekali, Mas, gimana bawanya?" tanya seorang panitia.

Karena perut sudah lapar sekali, saya hanya tersenyum saja. Obrolan sekitar kecepatan ternyata berlanjut di tempat ini. Jalan tol Jagorawi sepertinya benar-benar dimanfaatkan untuk "menyiksa" mobil-mobil test drive ini. Dengar-dengar, kecepatan Jazz lain berkisar 145-150 km/jam. Bahkan rekan wartawan ada yang tertangkap polisi saat memacu mobilnya di jalur kiri.

Merasa gerah dengan rekan-rekan lain, saat menuju Hotel Dharmawangsa, mobil saya "hajar" kurang-lebih sampai 125 km/jam. Rasanya tetap sama, stabil. Tidak puas di 125 km/jam, saya mencoba menaikkan lagi, tapi tidak jauh di depan terdapat kepadatan karena ada kecelakaan. Melihat peristiwa itu, niat menaikkan kecepatan pupus sudah. Mungkin itu sebuah peringatan dari "atas" untuk tidak menekan gas lebih dalam.

Mengendarai All New Jazz, ahhh.. It's Jazz beautiful day.

SANTIRTA M

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi