Test Drive Avanza 1.3 G A/T
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Minggu, 27 Desember 2009 12:28 WIB
Tempo/Raju Febrian

    Bangun pagi bangun pagi    Nggak ada roti nggak kopi    Laper lagi laper lagi    Adanya nasi sama teri

    Okelah kalo begitu    Okelah kalo begitu    Okelah kalo begitu    Okelah kalo begitu

Bait-bait nyeleneh dari Warteg Boyz menemani awal test drive saya dengan Toyota Avanza 1.3 G otomatis (A/T) pertengahan pekan lalu, dua pekan setelah keluarga baru Avanza ini diperkenalkan pada 17 November. Saya memang agak penasaran. Beberapa rekan yang sudah duluan ngetes mengatakan bahwa Avanza 1.3 dengan tambahan transmisi "pintar" ini tak kalah dibanding kakaknya yang bermesin 1,5 liter. Enggak boleh percaya begitu aja, dong.

Kebetulan saya harus menuju kawasan Ciawi. Ditemani tiga rekan, saya memulai perjalanan sekitar pukul 02.00. Diisi "cuma" empat orang bukan masalah bagi Avanza, yang sedianya diperuntukkan bagi tujuh orang. Mesin K3-VE 4 silinder segaris, 16 katup, DOHC, dan VVT-i berkapasitas 1.298 cc yang dipasang Toyota terasa punya tenaga cukup untuk melaju di jalanan yang sudah sepi.

Perpindahan antargigi pada transmisi--yang juga dipakai di Toyota Rush serta Daihatsu Xenia dan Terios--terasa mulus. Tak ada entakan. Saya memang tak bisa berharap dengan mesin 1,3 ini Avanza bisa melesat cepat. Tapi, begitu putaran mesin masuk di angka 3.000 rpm dan berpindah gigi naik, low multi-purpose vehicle ini bisa melaju.

Memasuki jalan tol lingkar luar, saya belum mau menggeber mobil dengan transmisi 4 percepatan bukan 5 percepatan seperti di laman resmi Toyota atau yang saya tulis tiga pekan lalu (Koran Tempo edisi 6 Desember 2009).

Saya ingin merasakan lebih dulu seperti apa kenyamanannya. Untuk posisi duduk, tak ada masalah. Hanya, kemudi yang tidak bisa dimainkan naik-turun (tilt) atau diubah membuat saya harus sedikit bersabar dengan posisinya yang tinggi.

Bagaimana dengan penumpang? Kalau untuk urusan ini, tak ada masalah. Mobil dengan dimensi panjang 4.120 milimeter, lebar 1.635 mm, dan tinggi 1.695 mm ini dilengkapi double blower yang cukup memanjakan.

"Tapi kalau ganti ban dengan tapak yang lebih besar mungkin lebih oke," komentar seorang rekan. Tipe 1.3 G ini menggunakan ban alloy wheel berukuran 185/70 R14.

Begitu mengambil tiket di pintu tol Taman Mini Indonesia (TMII), barulah saya menekan pedal gas dalam-dalam. Ternyata akselerasi Avanza 1.3 cukup ampuh. Meski dipasang di posisi D (Drive), jarum speedometer bisa berlari di angka 130 kilometer per jam ke arah Bogor.

Jalanan lurus, sip. Bagaimana dengan jalanan mendaki? Nah, untuk yang ini, memang harus sedikit teknik untuk memaksimalkannya. Pasalnya, karakter jalanan Ciawi yang berkelok-kelok dengan tanjakan yang cukup lumayan harus diantisipasi dengan memainkan transmisi.

Banyak yang menyebut mesin 1,3 tak ada tenaga menghadapi tipe jalanan seperti ini. "Kalau transmisi hanya ditaruh di posisi D, ya iyalah. Itu tandanya enggak tahu soal transmisi otomatis," kata Achmad Rizal, Marketing Communication Manager PT Toyota Astra Motor.

Saya ingat betul omongan Pak Haji satu ini. Begitu mulai masuk pertigaan Gadog, persneling otomatis model gate type ini saya geser ke kanan ke posisi 3. Tenaga seperti tak habis-habis. Saat mendapat tanjakan cukup tinggi atau melewati mobil lain, saya turunkan lagi ke posisi 2 atau L (Low). Gerungannya memang sedikit terdengar, tapi wussss... Avanza bakal melaju lagi.

Teknik yang sama juga bisa dipakai untuk menghadapi jalanan menurun. Geser tuas transmisi ke posisi 3 atau 2, maka akan didapatkan engine brake yang membantu mengurangi kecepatan. Plus akan menghemat konsumsi bahan bakar.

Rasanya, dengan kemampuannya, Avanza tipe G yang dibanderol Rp 156,55 juta ini siap jadi alternatif baru. Musik kreasi Bongky, Agooz, dan Ari lagi-lagi terdengar di pengujung jalan.

    Gimana kalo begitu?    Gimana kalo begitu?    Gimana kalo begitu?    Gimana sih kalo begitu?....

RAJU FEBRIAN

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi