Ini Cara Mencegah Dinamo Ampere Bermasalah  
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Rabu, 13 April 2011 11:17 WIB
Alternator. foto:flickr.com
TEMPO Interaktif, Alternator atau biasa disebut dengan dynamo ampere adalah peranti yang berfungsi sebagai generator yang menghasilkan arus listrik alternating current (AC) dan sekaligus mengubahnya menjadi arus direct current (DC).  Komponen ini juga menjadi pembangkit energi listrik yang diisikan ke aki.
 
Oleh karena itu, bila alternator atau dynamo ampere ini rusak maka mesin mobil tidak akan bisa distater. Meski aki masih baru sekali pun.  “Alternator memang jarang sekali rusak kecuali masa pakai yang telah habis atau aus,” kata Ahmad Junaidi, mekanik bengkel dinamo Anugerah, Kebon Nanas, Tangerang, Rabu (13/4).
 
Namun, lanjut Junaidi, alternator baru pun bisa rusak karena perlakuan yang salah. Satu diantara penyebab kerusakkan itu adalah beban listrik di mobil yang jauh lebih besar ketimbang kapasitas maksimal peranti ini.
 
Umumnya, pabrikan merancang kapasitas alternator 40 – 60 amphere. Sedangkan usia  ideal  6 – 6 tahun. “Tapi, bila perlakuan pemilik terhadap peranti ini bagus, maka akan lebih awet,” terang Junaidi.
 
Lantas seperti apa perlakuan yang membuat alternator itu awet? Junaidi berbagi tups untuk Anda:
 
 
1. Pastikan penggunaan listrik benar-benar tepat
Seperti disebutkan di atas, umumnya pabrikan merancang alternator memiliki kapasitas tertentu. Oleh karena itu, sebaiknya penggunaan peranti elektronik yang banyak mengkonsumsi tenaga setrum juga dibatasi agar tidak melebihi.
 
Bila penggunaan listrik itu hanya satu dua kali dilakukan,  penurunan kemampuan alternator tidak akan terlihat. Tapi bila hal itu dilakukan secara terus menerus, maka alternator akan mengalami penurunan kemampuan dalam menghasilkan arus listrik.
 
Beberapa cara untuk menghindari permasalahan itu adalah tidak mengaktifkan Air Conditioner (AC), audio, wiper, dan peranti elektronik lainnya di mobil secara berbarengan. Memang, produsen mobil merancang produknya memiliki kemampuan lebih meski semua peranti elektronik diaktifkan tapi alternator tidak akan tekor.
 
“Tetapi kemampuan alternator tetap saja ada batasnya. Karena itu, perhatikan ketentuan dari pabrikan,” wanti-wanti Junaidi.
 
 
2. Pastikan kutub dan kabel aki terpasang dengan benar
Pemasangan ini perlu diperhatikan serius.Pasalnya, bila pemasangan kutub salah, atau terbalik, maka kiprok akan jebol atau rusak. Begitupun dengan berbagai kabel kelistrikan.
 
Bila pemasangan kabel-kabel itu tidak tepat, selain menyebabkan listrik boros juga berpotensi IC alternator cepat rusak.
 
Pemasangan kabel yang perlu diperiksa itu juga termasuk kabel plus alternator ke kabel plus aki. Sebab, bila sambungannya tidak tepat atau renggang dan putaran mesin tinggi maka alternator akan rusak.
3. Pastikan sabuk pengatur tegangan V-Belt terpasang dengan benar
Satu hal yang wajib Anda perhatikan adalah, tingkat ketegangan atau posisi V-Belt jangan terlalu kencang dan  kendor. Bila terlalu kencang maka putaran alternator dipaksa melebihi kapasitas atau kemampuannya.
 
“Akibatnya laher alternator akan rusak,” terang Junaidi.
 
Begitu pun bila tali atau sabuk itu terlalu kendor, tarikan akan tersendat-sendat. Sehingga, selain arus listrik yang dihasilkan tidak konstan, laher alternator juga cepat rusak.
 
Bahkan, perangkat elektronik di mobil yang menggunakan sumber strum dari alternator dan aki akan cepat rusak. Pasalnya, asupan listrik yang mengalir ke perangkat tersebut tidak ajeg.
 
 
4. Cegah kabel plus bersentuhan dengan badan alternator
Bila itu terjadi, maka akan memicu hubungan arus pndek atau korslet. Akibatnya, alternator atau dynamo ampere akan rusak. “Oleh karena itu sangat disarankan untuk memasang pengaman pada kutub plus.
 
Selain itu, sebaiknya memeriksa kondisi alternator secara rutin minimal tiga bulan sekali. “Pada saat ganti oli, di bengkel biasanya ada perlengkapan deteksi kondisi aki dan alternator,” ujar Junaidi.
 
 
ARIF ARIANTO
#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi