Maret April, Penjualan Mobil Bekas di Jabodetabek Menurun
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Jumat, 13 Mei 2011 19:58 WIB
Showroom mobil bekas. TEMPO/Dinul Mubarok
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sepanjang April hingga pekan kedua Mei 2011 ini, penjualan mobil bekas di wilayah Jakarta dan sekitarnya mengalami penurunan. Isu pembatasan bahan bakar minyak (BBM) khususnya premium dan persiapan tahun ajaran baru anak sekolah ditengarai sebagai penyebabnya.

“Dalam dua bulan terakhir penjualan kami justru menurun 50 persen. Bila sebelumnya kami bisa menjual 30 – 40 unit per bulan, Maret dan April hanya 15 – 20 unit,” ungkap Winarno, pemilik Simpang Lima Motor, gerai mobil bekas di Tambun, Bekasi Timur, saat dihubungi, Jumat, 13 Mei 2011.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Taufan Mahdi, pemilik Bintang Karoma Motor, Ciledug Tangerang. Ia menyebut, seperti bulan-bulan sebelumnya dalam dua pekan di bulan Mei ini penjualannya juga tidak beranjak naik.

“Biasanya dalam dua pekan kami bisa menjual 5 – 10 unit, sekarang empat unit saja sudah ngos-ngosan,” kata dia.

Adapun Muhamad Safar, pengelola Safari Motor, Ciledug, Tangerang, mengaku penjualan di gerainya sejak awal Maret sudah terlihat menyusut. Bila sebelumnya ia bisa menjual 10 – 15 unit saban bulan, pada Maret lalu tinggal setengahnya. “April lalu malah cuma lima unit,” ujarnya.

Baik Winarno, Taufan, Safar memperkirakan, calon pembeli saat ini juga menunggu kepastian tentang isu pembatasan premium. Pada sisi lain, calon pembeli saat ini mengira harga mobil bekas telah naik signifikan karena isu langkanya pasokan mobil baru akibat bencana di Jepang.

Penyebab lainnya, saat ini sebagian besar orang mempersiapkan biaya untuk anak sekolah yang sebentar lagi memasuki tahun ajaran baru. “Bahkan, beberapa konsumen kami mengembalikan mobil ke leasing atau over kredit. Jadi kesimpulan sementara kami, faktor daya beli yang melemah,” ujar Winarno.

Berbeda dengan Winarno dan Taufan, Senior General Manager Bursa Mobil WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih mengaku penjualan di gerai WTC masih cukup tinggi. “Per bulan 1.900-2.000 unit sehingga selama kuartal pertama mencapai 6.000 unit,” sebut dia saat dihubungi.

Namun, penjualan di tempat ini lebih banyak didominasi pembeli yang merupakan pedagang mobil bekas di daerah. Mereka umumnya, rata-rata membeli 5 – 20 unit guna dipasarkan di daerahnya.

“Tentu berbeda dengan kami yang ritel atau langsung kepada pembeli individu atau pemakai. Di daerah pun persoalannya sama,” terang Winarno.

Meski demikian, baik Winarno, Taufan, Safar, maupun Herjanto menegaskan bagi mereka yang ingin membeli mobil bekas saat inilah saat yang tepat. Pasalnya, kenaikan harga jual masih belum melonjak drastis, karena faktor lebaran.

“Umumnya, dua atau satu bulan menjelang lebaran orang memburu mobil bekas. Harga tinggi pun mereka bayar karena untuk angkutan ke kampung halaman,” tandas Taufan.ARIF ARIANTO

#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi