Ini Cara Aman dan Nyaman Mengemudi Saat Puasa  
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Senin, 1 Agustus 2011 14:13 WIB
caradvice.com.au

TEMPO Interaktif, Jakarta - Salah satu inti dari puasa adalah pengendalian hawa nafsu. Mencegah munculnya kemarahan, rasa iri, serakah, dan berbagai tindakan intoleran lainnya adalah beberapa di antara wujud pengendalian hawa nafsu tersebut. Bila hal itu tak terjadi, maka selama puasa kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga semata.

Oleh karena itu, menjaga segala tindakan kita agar tetap bisa mengendalikan hawa nafsu merupakan langkah yang harus dilakukan, tak terkecuali dalam berkendara. “Mengendarai mobil di jalanan yang padat atau macet dengan sirkulasi lalu lintas yang semrawut sangat berpotensi memicu emosi, amarah, atau minimal kekesalan,” tutur Bayu Waskito, instruktur On Road and Off Road Safety Driving sebuah perusahaan ban, saat ditemui di kawasan Sudirman Central Business District, Jakarta, Senin, 1 Agustus 2011.

Bahkan, lanjut Bayu, kekesalan atau amarah di jalan akibat lalu lintas yang kacau, menyumbangkan tingkat stres pada seseorang hingga 60–70 persen. Akibatnya, terjadi kepenatan secara fisik dan psikis. “Meluapnya stres itu adalah jantung yang berdebar kencang dan darah banyak tersalur ke otak seiring derasnya hormon adrenalin,” terang dia.

Selain bisa memicu terjadinya serangan jantung, kondisi tersebut juga bisa menjadi cikal bakal seseorang mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Namun, hal yang jauh lebih penting adalah sia-sianya ritual ibadah puasa kita karena amarah yang tak terbendung.

Oleh karena itu, mengelola emosi kala mengemudi di jalanan merupakan hal yang wajib dilakukan. Seperti apa pengelolaan emosi itu? Bagaimana caranya? Berikut penjelasan Bayu Waskito:

1. Siapkan kendaraan agar tetap prima

Mumpung pelaksanaan puasa baru masuk hari pertama, sebaiknya Anda kembali mengingat-ingat apa saja kira-kira yang harus Anda lakukan pada mobil kesayangan? Apakah oli telah diganti? Air aki dan radiator telah ditambah? Sudahkah kabel kelistrikan benar-benar aman?

“Setelah semuanya aman. Sebelum melakukan perjalanan ke tempat kerja atau kegiatan lainnya pastikan tekanan ban telah sesuai standar dan bahan bakar terisi cukup,” ujar Bayu.

Hal itu semua dimaksudkan untuk antisipasi kejadian yang tidak diinginkan kala Anda melaju di perjalanan. Sebab, bila tiba-tiba mobil mogok, ban kempis, atau mesin overheat, tentu akan merepotkan. Rasa kesal, jengkel, atau bahkan marah sangat mungkin muncul.

2. Dengarkan musik dari radio atau pemutar cakram padat

Cara lain untuk menjaga agar emosi tak meletup di tengah perjalanan adalah mengendapkan potensi perasaan agresif pada diri Anda. Sebaliknya, upayakan meningkatkan kemunculan perasaan tenang dan sabar.

Hal itu bisa Anda dapatkan jika pada diri Anda juga ada rasa senang dan damai. “Perasaan itu bisa Anda stimulasi dengan mendengarkan musik atau syair lagu-lagu yang Anda sukai,” saran Bayu.

Pasalnya, pada diri manusia dasar-dasar tindakan agresif atau amarah dan tenang memiliki porsi yang seimbang. “Biasanya orang menganalogikan, di samping kanan kiri kita ada malaikat dan setan. Nah, mana yang Anda ikuti?” sebut Bayu.

3. Jangan terpancing pengguna jalan lain yang ugal-ugalan

Bila Anda menemui pengemudi atau pengguna jalan lain yang tiba-tiba menyerobot, mendahului, atau dengan seenaknya memutar atau berbelok, tak usah emosi. Anggap saja mereka adalah orang yang tak mengerti etika dan sopan santun maupun peraturan lalu lintas.

Dengan memaklumi tindakan mereka, maka emosi tidak akan terpancing. Namun, bila tak hanya satu orang yang berperilaku seperti itu, maka sebaiknya Anda menghindari jalan tersebut atau bila mungkin menjaga jarak.

Satu hal lagi, jangan terpancing untuk ikut-ikutan memaki bila orang di sekeliling Anda menyumpahi atau memaki pengguna jalan yang menyerobot atau bertindak ugal-ugalan itu. Hal itu untuk menghindarkan emosi Anda tersulut.

Pasalnya, kerumunan atau psikologi massa sangat mudah tersulut dan bila terjadi sulit untuk dikendalikan. Emosi Anda pun ikut terhanyut dan ikut marah tak terkendali.

4. Berangkat lebih awal dan tidak mengemudi secara agresif

Cara yang jauh lebih aman untuk menghindarkan Anda dari segala permasalahan lalu lintas yang akan menguras energi dan menyulut emosi adalah berangkat lebih pagi. Jalanan yang masih lengang tidak saja akan menjadikan perasaan Anda segar, tetapi juga menjadikan perjalanan lancar.

Namun, satu hal yang patut Anda perhatikan adalah jangan terbuai dengan kondisi jalanan lantas mengemudikan mobil dengan cara agresif. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi juga cukup berbahaya. Selain itu, dengan banyak menginjak pedal gas dalam-dalam dan kemudian mengeremnya juga akan memboroskan bahan bakar.

“Jadi, banyak sekali mudaratnya ketimbang manfaatnya. Belum lagi risiko bila-bila ada orang atau kendaraan yang menyeberang karena merasa jalanan masih sunyi,” ujar Bayu mewanti-wanti.

Begitu pun saat Anda akan pulang dari tempat kerja ke rumah. Berangkatlah di kala jalanan mulai sepi karena orang lain tengah berbuka atau beberapa jam sebelum orang pulang.

5. Selalu ingat niat puasa

Satu hal dan yang paling utama harus Anda lakukan adalah selalu mengingat bahwa Anda saat ini tengah berpuasa dan ingin menaklukkan hawa nafsu. Selalu bersabar dan mengalahkan emosi adalah penting.

Niatan dan perasaan seperti itu akan menjadi energi yang dahsyat manakala emosi Anda mulai tersulut. Dengan mengingat niatan tersebut, nafsu kebinatangan yang ada pada diri setiap orang bisa ditekan. Sebaliknya, nafsu sebagai manusia sejati akan muncul.

ARIF ARIANTO

#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi