Banjir Thailand Bikin Produksi Honda Indonesia Merosot  
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Senin, 31 Oktober 2011 14:17 WIB
Honda. REUTERS/Luke MacGregor

TEMPO Interaktif, Jakarta - PT Honda Prospect Motor (HPM) selaku Agen Pemegang Merek Honda di Indonesia saat ini sudah merasakan dampak banjir di Thailand. Pasokan produk yang diimpor utuh dari negara itu seperti sedan Honda City, Honda Civic, dan Honda Accord kini mandek.

“Jadi, bagi kami pengaruh itu cukup besar karena kami tidak bisa menjual produk sebanyak bulan-bulan sebelumnya,” kata Jonfis kepada Tempo di Jakarta, Senin, 31 Oktober 2011.

Hanya, Jonfis belum bisa memerinci berapa potensi penjualan yang hilang sejak banjir melanda Negeri Gajah Putih itu pada 4 Oktober lalu. Menurutnya, pasokan mulai terasa seret setelah banjir memasuki pekan kedua. “Berapa besar potensial loss, mohon maaf kami tidak bisa menyampaikannya,” kata dia.

Tak hanya kiriman mobil yang dirakit secara utuh saja yang mengalami kendala sejak banjir melanda. Pasokan komponen penting untuk mobil yang dirakit di Indonesia pun mengalami masalah. “Seperti komponen untuk Honda Jazz dan Honda Freed. Padahal, itu sangat penting karena kurang satu komponen saja proses produksi tidak bisa berlanjut,” terang Jonfis.

Selama dua pekan terakhir HPM telah memangkas jam kerja karyawan dari dua menjadi satu shift. APM ini hanya mengandalkan komponen yang tersisa untuk berproduksi. Walhasil, jumlah produksi yang sebelumnya mencapai 5.000 unit per bulan, pada Oktober ini menyusut 20–30 persen atau tinggal 4.000-3.500 unit.

“Sedangkan untuk mobil yang diimpor utuh, kami hanya memasarkan persediaan yang ada di dealer,” jelas Jonfis.

Agar proses produksi dan penjualan terus berlangsung, HPM saat ini mengimpor komponen dari luar Thailand. Komponen untuk Freed misalnya, diimpor langsung dari Jepang. “Ini sembari menunggu banjir di Thailand surut, artinya bersifat sementara,” ujarnya.

Sebelumnya, seperti dilansir Nikkei.com dan autonews.com, Senin, 31 Oktober 2011, Honda Motor Company (Honda) menutup pabriknya di Rojana Industrial Park selama enam bulan menyusul banjir yang tak kunjung surut.

Setelah tenggat waktu itu, Honda akan mengevaluasi kembali sikapnya apakah melanjutkan penutupan pabrik atau mulai beroperasi. Akibat banjir itu, Honda kehilangan potensi produksi hingga 100 ribu unit mobil. Jumlah tersebut setara dengan 3 persen dari total jumlah produksi pabrikan itu secara global.

ARIF ARIANTO

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi