Ini Adab Menggunakan Lampu Mobil Saat Hujan
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Kamis, 3 November 2011 13:36 WIB
TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO Interaktif, Jakarta - Memasuki pekan kedua November ini, intensitas curah hujan di Tanah Air diperkirakan semakin tinggi. Artinya, frekuensi dan kualitas guyuran air hujan dari langit ke permukaan bumi juga semakin besar.

Tentu kondisi seperti itu harus diperhatikan para pengguna mobil. Tak hanya kondisi mobil yang prima saja yang wajib diperhatikan, tetapi juga cara berkendara dan penggunaan peranti penunjang mobil yang tepat.

“Selama ini ada beberapa ketidaktepatan penggunaan lampu hazard, lampu utama, lampu kabut, maupun lampu sein,” ujar Doni Iswahyudi, instruktur safety driving Mikata Adventure di Jakarta, Kamis, 3 November 2011.

Anehnya, kata Doni, kesalahan penggunaan lampu itu tak disadari pengemudi. “Kesalahan itu membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain,” kata dia.

Sejatinya, penggunaan lampu itu mempunyai adab tersendiri. Seperti apakah aturannya? Berikut penjelasan Doni:

1. Tidak menyalakan lampu hazard kala mobil melaju

Kebiasaan yang kerap dilakukan pengemudi adalah langsung menyalakan lampu hazard begitu hujan deras mengguyur. Padahal, cara seperti itu tidak tepat.

Selain membahayakan diri sendiri, sejatinya cara itu juga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi pengemudi mobil lain, baik di belakang mobil yang menyalakan lampu hazard maupun dari arah berlawanan.

“Kedipan lampu hazard yang terang akan membuat silau pandangan pengemudi mobil, kendaraan lain di belakangnya atau dari arah berlawanan,” ujar Doni.

Walhasil, tingkat kewaspadaan pengemudi yang bersangkutan juga berkurang. Sehingga bila tiba-tiba kendaraan berhenti atau mogok, pengemudi lain akan sulit mengontrol kendaraannya.

Akibat lainnya adalah lampu sein yang dinyalakan ketika hendak berbelok atau berpindah jalur tidak akan terlihat. “Orang tidak akan bisa membedakan mana kedipan lampu hazard dan yang mana lampu sein,” terang Doni.

2. Menyalakan lampu utama dengan sinar yang tepat

Pada saat air hujan mulai deras, sebaiknya pengendara menyalakan lampu utama. Seiring dengan pengaktifan lampu utama itu, otomatis lampu belakang juga akan aktif. Warna merah di lampu belakang sudah cukup terlihat terang oleh pengguna jalan lain.

Bila guyuran air semakin deras dan pandangan semakin terbatas, gunakan lampu kabut. Sorot cahaya lampu ini cukup mampu menembus kabut, embun, atau air hujan.

3. Pastikan sorot cahaya tak mengganggu pengemudi lain

Satu hal yang perlu diingat di lampu utama adalah ketepatan posisi bohlam lampu utama maupun lampu kabut. Posisikan sesuai dengan sudut pandang yang semestinya dan tidak membuat silau pengguna jalan dari arah berlawanan.

“Bila pengguna kendaraan dari arah berlawanan silau dan pandangan terganggu bisa berpotensi menimbulkan celaka,” jelas Doni.

Meski pandangan terbatas, jangan menggunakan lampu jarak jauh karena menyilaukan pengguna jalan lain. Lebih baik menggunakan lampu kabut.

Cahaya lampu kabut disarankan menggunakan warna kuning. Pasalnya, warna tersebut mampu menetralisir warna-warna lain di sekelilingnya sehingga membuat pandangan pengguna mobil lebih jelas.

4. Tidak terlambat menyalakan lampu sein

Pada saat hujan, selain pandangan pengemudi terbatas, jalanan juga licin. Hal ini tentu akan berisiko bagi mobil bila bermanuver--mengerem, berbelok, pindah jalur dan lain-lain–-secara mendadak.

Oleh karena itu, sebaiknya pengendara menyalakan lampu sein itu beberapa detik sebelum bermanuver. Jangan pernah terlambat menyalakan lampu isyarat itu. “Tujuannya agar pengguna jalan di arah berlawanan atau di belakang bisa mengantisipasi dan waspada,” ucap Doni.

ARIF ARIANTO

#Otomotif

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi