Tepis Stigma Anarkistis, Klub Motor Bikin Jambore
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Minggu, 22 April 2012 13:45 WIB
Bikers Brotherhood Motor Club. Bikersbrotherhoodmc.com

TEMPO.CO, Sragen - Di tengah sorotan masyarakat terhadap geng motor yang melakukan kejahatan, klub motor Bikers Brotherhood Motorcycle Club mengumpulkan ribuan pehobi sepeda motor dalam satu acara. Mereka berkumpul memperingati ulang tahun ke-12 Bikers Brotherhood Motorcycle Club Chapter Central Java di Sragen, Jawa Tengah, 21-22 April 2012.

Mereka ingin menunjukkan tidak semua perkumpulan motor adalah geng motor. “Kami menolak geng motor yang anarkistis. Kami cinta damai. Buktinya, ribuan pehobi motor berkumpul dan tetap kondusif,” ujar humas panitia, Joko Purwanto, kepada Tempo, Minggu, 22 April 2012.

Dia mengatakan, dalam dua hari penyelenggaraan, para anggota Bikers Brotherhood yang berasal dari berbagai daerah, seperti Chapter Bali, Lombok, Jakarta, Pontianak, East Java, West Java, dan Central Java, mengadakan bakti sosial. Misalnya membersihkan marka jalan dan rambu lalu lintas di jalan-jalan di Sragen.

Kemudian mengadakan lomba bakiak, balap karung, dan pertunjukan musik keroncong serta campur sari. “Kami juga mengadakan lomba tato, kontes motor tertua, motor yang paling jelek, dan yang paling unik,” katanya. Itu semua demi menunjukkan kepada masyarakat bahwa klub sepeda motor tidak identik dengan kekerasan.

Bikers Brotherhood yang sudah berusia 23 tahun tidak sembarangan menerima anggota. Calon anggota harus punya sepeda motor keluaran Eropa, seperti BMW buatan Jerman dan BSA atau Norton dari Inggris. Selain itu, harus melewati beberapa tahapan hingga akhirnya diterima jadi anggota baru. Mulai calon prospek, prospek, virgin, dan terakhir member.

“Dengan tahapan seperti itu, diharapkan kualitas anggota terjaga. Jadi tidak sekadar punya motor lalu bisa jadi anggota,” ujar sosok yang masih berstatus virgin tersebut. Dia mengatakan, selama dua hari penyelenggaraan, tidak kurang dari 2.000 pehobi sepeda motor memadati lokasi di Sragen Techno Park.

Kepada peserta dan penonton yang hadir selalu ditekankan untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan lingkungan. “Kami ingin menunjukkan bahwa klub motor punya kepatuhan yang tinggi terhadap norma-norma organisasi dan menjunjung tinggi persaudaraan,” katanya.

Salah seorang peserta, Andi Susilo, berharap acara bertema "Rock Hard Ride Free" tersebut memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa tidak selamanya klub sepeda motor identik dengan kekerasan dan tindakan anarkistis. “Kami cinta damai dan menolak keras tindakan anarkis,” katanya.

UKKY PRIMARTANTYO

#Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi