Kerja Sama Proton-Hendro Diprotes, Ini Kata Dubes Malaysia  
Reporter: Tempo.co
Editor: MC Nieke Indrietta Baiduri
Selasa, 17 Februari 2015 11:08 WIB
Proton di JATIM Fair 2011. (Dok. PEI)

TEMPO.COJakarta - Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim mengaku heran dan kaget melihat respons masyarakat Indonesia yang memprotes nota kesepahaman (MoU) antara Proton dan perusahaan milik A.M. Hendropriyono, PT Adiperkasa Citra Lestari.

"Saya heran dan terkejut banyak yang protes. It just a simple business to business matter," kata Dubes Zahrain kepada wartawan di Jakarta, Senin, 16 Februari 2015.

Menurut dia, nota kesepahaman itu hanya berisi rencana kajian kemungkinan atau feasibility study untuk mewujudkan produk mobil Indonesia dalam kerangka waktu enam bulan mendatang.

"Jadi, kalau, misalnya, kajiannya negatif, mungkin tidak jadilah. Tapi, kalau ada potensi sebagai tindakan bisnis, itu bisa diteruskan," ucap Zahrain.

Kehadiran kepala negara Indonesia dan Malaysia dalam acara penandatanganan MoU merupakan undangan dari Presiden Proton yang juga mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Mahathir Mohamad. Kehadiran mereka dianggap sebagai penghargaan terhadap MoU dan bukan sebagai saksi. Zahrain pun diminta menjadi salah satu saksi oleh Proton, demikian pula Duta Besar Indonesia untuk Malaysia.

"Tak ada yang salah kalau saudara serumpun berusaha mewujudkan bisnis yang mungkin bisa sukses. Kalau sukses, bisa mendunia," kata Zahrain.

Meskipun sempat menyebut masih dalam tahap kajian kemungkinan membuat mobil ASEAN, Zahrain mengaku tidak tahu persis apa yang dicanangkan dalam nota kesepahaman tersebut.

"Jadi, bagi saya, bukan kita ingin menjejas peluang atau bisnis, tapi feasibility study satu mobil di ASEAN. Tapi tidak boleh disebut ASEAN, karena ASEAN melibatkan sepuluh negara. Bagi saya, ini permulaan, jadi bukan Proton atau Hendropriyono bersaing dengan pengusaha mobil yang sudah berjaya," ucapnya.

Dia menilai kedua perusahaan memiliki pengalaman dalam industri otomotif. Proton sudah berkecimpung selama lebih dari 30 tahun dalam bidang tersebut, sementara PT Adiperkasa Citra Lestari sempat mengelola mobil nasional Timor meskipun gagal. Proton sendiri saat ini bukanlah perusahaan pemerintah.

"Menurut saya, tidak perlu ada persepsi negatif, apalagi dalam komunitas ASEAN harus memprioritaskan pada kerja sama seperti ini," kata Zahrain. 

Dia menegaskan bahwa suasana pertemuan Presiden Jokowi dan PM Najib berlangsung dalam semangat persahabatan. "Too early to criticize or to condemn. Ini baru permulaan kajian," ujarnya.

NATALIA SANTI

#Mobil Nasional
#Proton

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi