Dealer Ford Menolak Jadi Importir Umum
Reporter: Tempo.co
Editor: Setiawan Adiwijaya
Senin, 27 Juni 2016 16:16 WIB
Logo perusahaan otomotif Ford terpasang di salah satu dealer di Jakarta, 26 Januari 2016. ANTARA FOTO

TEMPO.CO, Jakarta - Para pengusaha dealer Ford di Indonesia meminta prinsipal merek mobil asal Amerika Serikat tersebut memberikan penjelasan soal kelanjutan usaha mereka. Pasalnya, setelah Ford Motor Indonesia (FMI) menutup usahanya di sini, mereka merugi karena tak bisa memasarkan produk.

"Begitu juga dengan jaminan suku cadang pada masa depan, siapa yang akan mengimpor dari pabrik Ford?" kata Andee Yoestong, pemilik dealer dan mitra lokal Ford sejak 2002, dalam konferensi pers di kawasan SCBD, Senin, 27 Juni 2016.

Agar setiap dealer bisa tetap beroperasi, kata Andee, penjualan kendaraan tetap harus berjalan. "Karena dari sanalah kami mendapatkan biaya operasional."

Andee menegaskan, para dealer tak mungkin melanjutkan usaha dengan cara mengimpor produk Ford dari pabrik di Thailand. "Butuh izin prinsip, dan itu dimiliki agen tunggal pemegang merek," ucapnya.

Kalaupun melakukan impor kendaraan atau suku cadang lewat skema importir umum, pengusaha mengaku keberatan. Sebab, importir umum tidak mendapat fasilitas perdagangan bebas yang diatur dalam ASEAN Treaty.

"Akibatnya, importir akan dikenakan bea masuk 40 persen. Harga produk mau-tak mau menjadi lebih mahal," tutur Andee.

Kegelisahan para dealer Ford di Indonesia ini adalah buntut dari mundurnya Ford dari Indonesia. Sewaktu pengumuman mundur pada 25 Januari lalu, FMI menyatakan operasi mereka akan dihentikan pada paruh kedua 2016.

Tapi, sejak saat itu, kata Andee, FMI belum memberikan kejelasan soal nasib mitra lokalnya. "FMI sempat menyatakan akan menunjuk perwakilan untuk melanjutkan operasi servis dan penjualan suku cadang, tapi sampai sekarang tidak ada kepastian."

Dealer lain, Nugroho Suharlim, mengatakan hingga kini dealer masih memberikan pelayanan servis kendaraan dan klaim garansi kepada konsumen. Banyak produk Ford yang tak laku terjual karena konsumen takut tak mendapat kepastian.

"Terhadap produk-produk yang tidak terjual ini, pengusaha meminta FMI membeli kembali (buyback)," katanya.

PRAGA UTAMA

#Otomotif
#Ford
#Kotamadya Jakarta Selatan | DKI Jakarta

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi