Ini Penyebab Airbag Tak Mengembang Saat Kecelakaan
Reporter: Tempo.co
Editor: wawan priyanto
Kamis, 30 Maret 2017 07:47 WIB
Ilustrasi. edupics.com

TEMPO.CO, Jakarta - Airbag atau kantung udara sudah menjadi fitur keselamatan standar bagi kebanyakan mobil modern. Perangkat inipun juga sudah ada di mobil-mobil berharga murah. Fungsinya untuk melindungi penumpang dari benturan dengan benda keras di dalam kabin saat saat terjadi kecelakaan. Namun demikian, dari beberapa kasus kecelakaan, ternyata airbag tidak mengembang. Bahkan saat kecelakaan hebat sekalipun.

Nah, rupanya ada syarat-syarat yang harus terpenuhi agar airbag mengembang saat terjadi kecelakaan. “Terdapat beberapa sensor yang terkait airbag. Syarat agar airbag mengembang, saat benturan (kecelakaan) itu salah satunya adalah efek dari benturan itu mampu menggerakkan sensor airbag,” kata Gandhi Ahimsaputra, Product Knowledge Head PT Toyota Astra Motor (TAM), di sela-sela Safety Media Workshop di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu, 29 Maret 2017.

Baca: Pentingnya Dukungan Safety pada Pilihan MobilSedan Sport Cuma Laku 1 di Februari, Mobil Apa itu?

Gandhi juga menjelaskan, airbag merupakan perangkat yang menambah keamanan pada penumpang sebagai supplement system seatbelt. Dalam beberapa kendaraan, airbag tidak berfungsi ketika seatbelt tidak digunakan. Saat terjadi tabrakan dari sisi depan dengan kecepatan tertentu, airbag akan mengembang secepat 0,03 detik dan kemudian deflate dalam waktu 0,1 detik.

Fungsinya yang vital ini lalu membuat produsen memposisikan airbag sebagai perangkat keamanan standar pada kendaraannya. Mulai dari airbag tunggal yang untuk kursi penumpang, hingga mengelilingi seluruh kabin kendaraan.

Simak: Honda Scoopy Terbaru Dibandrol Rp 17,8 Juta, Ini SpesifikasinyaPertarungan Tiga Mobil Masa Depan di Bangkok Motor Show 2017

Airbag ini sebetulnya sebagai perangkat tambahan dari seatbelt untuk memaksimalkan fitur keselamatan pada kendaraan. Seatbelt memiliki fitur pretension dan force limiter. Pretensioner secara instan akan menarik seatbelt (mengunci) saat terdeteksi adanya kemungkinan benturan depan dan menjaga penumpang pada posisi duduk yang aman. Sedangkan force limiter menjaga tekanan pada seatbelt agar tidak terlampau kencang. “Sehingga cidera pada bahu akibat terlalu kencang tarikan seatbelt saat terjadi kecelakaan itu dapat dikurangi,” ujarnya.

WAWAN PRIYANTO

#Sosialisasi Keselamatan Berkendara
#Toyota Astra Motor

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi