Virus Corona Disebut Berpotensi Ganggu Industri Otomotif
Reporter: Antara
Editor: Wawan Priyanto
Rabu, 29 Januari 2020 11:28 WIB
Pekerja membersihkan jalan depan Stasiun Kereta Api Hankou, yang ditutup setelah setelah menyebarnya virus corona di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 23 Januari 2020. China Daily via REUTERS

GOOTO.COM, Jakarta - Menteri Ekonomi Jepang Yasutoshi Nishimura pada Selasa, 28 Januari 2020, memperingatkan bahwa keuntungan perusahaan dan produksi pabrik, termasuk industrik otomotif, mungkin mendapat pukulan dari wabah virus corona di Cina yang telah mengguncang pasar global dan mendinginkan kepercayaan.

Saham-saham Asia memperpanjang aksi jual global ketika wabah di Cina, yang telah menewaskan 106 orang dan menyebar ke beberapa negara, memicu kekhawatiran atas kerusakan pada ekonomi terbesar kedua di dunia itu -- mesin pertumbuhan global.

"Ada kekhawatiran mengenai dampak terhadap ekonomi global dari penyebaran infeksi di Cina, gangguan transportasi, pembatalan tur kelompok dari Cina dan perpanjangan dalam Liburan Tahun Baru Imlek," kata Nishimura dalam konferensi pers setelah pertemuan kabinet reguler.

"Jika situasinya membutuhkan waktu lebih lama untuk mereda, kami khawatir hal itu dapat merusak ekspor, produksi, dan keuntungan perusahaan Jepang melalui dampak pada konsumsi dan produksi Cina," katanya.

Produsen otomotif Honda Motor yang memiliki tiga pabrik di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei dan pusat penyebaran virus berencana untuk mengevakuasi beberapa staf.

Cina adalah tujuan ekspor terbesar kedua Jepang. Selain pembuat mobil, pengecer juga menjadi sangat tergantung pada negara itu di tengah pertumbuhan ekonomi Jepang yang lambat dan demografi yang menyusut.

Fast Retailing, yang mengoperasikan rantai pakaian kasual Uniqlo, mengatakan telah menutup sementara sekitar 100 toko di dan sekitar Hubei.

Raksasa ritel Aeon mengatakan pihaknya menjaga lima supermarket di Wuhan tetap terbuka setelah pemerintah setempat meminta mereka melanjutkan operasinya, meskipun beberapa toko malnya tutup.

Wabah ini dapat menghantam department store, pengecer dan hotel di Jepang, yang mengandalkan peningkatan penjualan dari arus masuk wisatawan Cina yang berkunjung selama Liburan Hari Raya Imlek.

Wisatawan asal Cina mencapai 30 persen dari total wisatawan yang mengunjungi Jepang dan hampir 40 persen dari total jumlah wisatawan asing yang membeli barang dan jasa tahun lalu, sebuah survei industri menunjukkan.

"Kami khawatir bahwa penjualan dan jumlah pembeli bisa turun jika wabah terus berlanjut," kata seorang pejabat hubungan masyarakat di Isetan Mitsukoshi Holdings, operator utama department store Jepang.

“Ini bukan hanya tentang wisatawan Cina. Kami juga khawatir bahwa kekhawatiran atas wabah ini dapat membuat pembeli Jepang tetap di rumah."

Ekonom di SMBC Nikko Securities memperkirakan bahwa jika larangan yang diberlakukan Cina pada wisata kelompok ke luar negeri berlangsung enam bulan lagi, itu bisa merugikan pertumbuhan ekonomi Jepang sebesar 0,05 persen.

Beberapa memperkirakan potensi kerusakan bisa jauh lebih buruk.

Hideo Kumano, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, mengatakan penurunan wisatawan dari Cina dapat merusak pertumbuhan PDB Jepang hingga 0,2 persen.

"Kekhawatiran terbesar adalah risiko dampak negatif dari virus corona itu berlanjut dan melanda (ekonomi) selama Olimpiade Tokyo," ketika sejumlah besar wisatawan Cina diperkirakan akan mengunjungi Jepang, katanya.

"Jika jumlah pengunjung berkurang daripada meningkat, pukulan terhadap industri konsumen Jepang akan cukup besar."

Jepang akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 pada Juli dan Agustus.

#virus corona
#Wuhan
#Honda

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi