Penjualan 2009 Tertolong Diskon
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Sabtu, 31 Oktober 2009 18:57 WIB
Mobil Chevrolet Spark pada pameran di Mumbai, India, Senin (9/6). Harga Chevrolet Spark adalah US $ 7,816.68. AP Foto/Rajanish Kakade

TEMPO Interaktif, Jakarta - ARIA Soebagio tidak menyesal mengejar ajang International Indonesia Motor Show 2009, Rabu sore dua pekan lalu. Meski harus menerjang kemacetan--dari Cikupa, Tangerang, Banten, menuju kawasan Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat--warga Surabaya ini puas cuci mata di pameran otomotif itu.

Selain itu, ia memang tengah memburu beberapa suku cadang mobilnya. Ia beruntung mendapatkannya dengan harga miring. Sport damper--semacam peredam kejut--yang biasanya berharga Rp 820 ribu, saat itu dibanderol Rp 640 ribu. Elemen penyaring udara yang normalnya per buah dijual Rp 700 ribu didiskon menjadi Rp 500 ribu. Tak terasa, satu setengah juta rupiah melayang dari dompetnya untuk membeli pernak-pernik itu.

Perang diskon juga terlihat di Hall A dan D, tempat mobil-mobil baru dipajang. Daihatsu mendiskon Rp 6 juta dan Rp 4 juta untuk Luxio dan Sirion. Mitsubishi Grandis didiskon Rp 5 juta, Toyota Innova Rp 4 juta, Yaris Rp 5 juta, dan Avanza Rp 5 juta. Honda juga memotong harga hampir semua produknya, dari Rp 2 juta sampai Rp 9 juta, kecuali Freed. Ada pula tambahan bonus paket jok kulit dan kaca film.

Berbagai diskon itu membuat banyak produsen mengail penjualan yang lumayan tinggi. Direktur Pemasaran Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra menyatakan penjualan selama 10 hari pameran mencapai 240 unit, melampaui target 200 unit. Toyota Astra Motor mencatat penjualan tertinggi: 2.151 unit, didominasi Avanza dan Innova. Posisi kedua ditempati Honda dengan 1.180 unit mobil. Sedangkan Isuzu dan Mitsubishi masing-masing menjual 335 dan 239 unit.

Panitia pameran pun bungah. Sebab, strategi diskon berhasil mendorong nilai transaksi menanjak menjadi Rp 1,73 triliun, melampaui target Rp 1,7 triliun. Jumlah pengunjung pun terkerek, bahkan tamu hariannya lebih tinggi dibanding pameran tahun lalu di Jakarta Convention Center, Senayan. Selama 10 hari itu, 237.687 pengunjung datang ke pameran.

Sebelumnya, Pekan Raya Jakarta juga ikut mendongkrak penjualan mobil pada Juli lalu. Panitia pameran mencatat nilai transaksi khusus otomotif selama sebulan penuh itu mencapai Rp 966 miliar, terdiri atas transaksi mobil Rp 470 miliar dan sepeda motor Rp 496 miliar. Meski lebih rendah dibanding ajang serupa tahun lalu yang meraup Rp 1,1 triliun, menurut Wakil Ketua Panitia Pekan Raya Jakarta Slamet Supriadi, pasar masih positif.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia pun yakin target penjualan mobil nasional 450 ribu unit pada akhir tahun ini tercapai. Sebab, daya beli masyarakat ternyata tidak seburuk yang dikira. Keyakinan ini sebetulnya sudah muncul setelah penjualan mobil mulai menanjak April lalu. Padahal, akhir tahun lalu, Gaikindo sangat pesimistis dan hanya mematok target pasar mobil 420 ribu unit pada 2009.

Kendati dibayangi optimisme setinggi gunung, penjualan selama semester pertama tahun ini masih jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Sampai Juni lalu, penjualan mobil masih 210 ribu unit, terpaut hampir 51 persen dibanding tahun lalu, yang mencapai 428.273 unit.

Namun para produsen mobil mulai pede pada Juli lalu. Toyota, sang penguasa pasar otomotif Indonesia, bulan lalu menjual 17.473 unit, naik dibanding bulan sebelumnya yang 16.814 unit. Penjualan Honda bahkan melonjak 34,8 persen dari bulan sebelumnya menjadi 3.546 unit karena dipicu peluncuran produk mobil multiguna terbaru, Freed.

Direktur Pemasaran Toyota Joko Trisanyoto mengingatkan, jangan buru-buru terlalu yakin. Menurut dia, ini bukan tanda-tanda pasar pulih. Ia menilai kenaikan penjualan bersifat musiman dan didukung banyak faktor, seperti penurunan suku bunga, penguatan rupiah, dan peningkatan harga komoditas. “Sebelumnya pemerintah dan swasta menunda, sedangkan kini mereka lebih pede membeli kendaraan,” katanya.

Terus turunnya suku bunga patokan (BI Rate), dan sekarang 6,5 persen, perlahan diikuti suku bunga kredit. Dengan makin stabilnya perekonomian dan luwesnya perbankan menurunkan biaya dana, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Wiwie Kurnia memperkirakan suku bunga kredit yang kini berkisar 6 persen per bulan bisa turun 1-2 persen sampai akhir tahun. “Program subsidi bunga oleh produsen turut menghangatkan pasar,” katanya.

Tapi secara umum, menurut Joko, pasar otomotif disebut pulih jika menyamai kondisi tahun lalu. Dan itu muskil diraih karena membutuhkan pertumbuhan ekonomi di atas enam persen. “Kalau kita tumbuh di bawah itu, artinya pasar otomotif so-so (biasa) saja,” ucapnya. Dan kemungkinan besar perekonomian Indonesia tidak akan mencapai angka tersebut. Karena itu, Toyota belum merevisi target penjualannya.

Pesaing terdekat Toyota, Daihatsu, juga tidak lantas mengubah target pangsa pasarnya setelah tahu pasar makin membaik. Meski penjualan pada Agustus dan September bisa bakal lebih baik ketimbang bulan-bulan sebelumnya karena akan ada Lebaran--biasanya penjualan naik--Amelia memilih tetap konservatif mematok target penguasaan pasar sebesar 15 persen.

Berbeda dengan keduanya, Indomobil justru menaikkan target. Semula, Indomobil hanya menargetkan pangsa pasar 20 persen (setara dengan 82 ribu unit), tapi kini mereka memasang sasaran 22 persen. “Tanda-tanda pemulihan sudah terlihat sejak Mei,” kata Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. Gunadi Sindhuwinata.

Gunadi mencontohkan penjualan truk Hino. Pada Mei lalu, stok truk berkapasitas hingga 24 ton di pabrik Hino untuk diantar ke dealer cukup tinggi, sampai 1.500 unit. Tapi pada bulan berikutnya hingga Oktober nanti tidak ada lagi stok yang tersisa. “Artinya, ekonomi mulai bergerak, harga komoditas kembali baik,” katanya.

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan juga menaikkan target pembiayaan dari Rp 100 triliun menjadi Rp 120 triliun tahun ini. Mayoritas pembiayaan itu, sekitar Rp 90 triliun, didapat dari pembiayaan kendaraan. “Kalaupun ada peristiwa bom, beli kendaraan tetap jalan terus,” kata Wiwie. Tapi Ketua Umum Gaikindo Bambang Trisulo cenderung hati-hati. Menurut dia, total penjualan belum akan melampaui 450 ribu unit karena ada kemungkinan terjadi penurunan penjualan setelah musim Lebaran dan sebelum akhir tahun.

Kepala Divisi Kajian Otomotif, Transportasi, dan Logistik dari perusahaan konsultan Frost and Sullivan, Kavan Mukhtyar, justru lebih pesimistis. Ia memperkirakan total pasar di akhir tahun akan turun 26,5 persen dibanding tahun lalu dan membukukan 443.752 unit mobil. “Tapi masih lebih baik dibanding tahun 2007,” katanya. Sebab, pemulihan ekonomi Indonesia--yang terimbas ekonomi regional--tetap butuh waktu yang tidak sebentar.

Membaiknya makroekonomi, menurut dia, baru terasa di kuartal pertama tahun depan. Membaiknya penjualan didorong sentimen positif pasar karena pada paruh pertama masyarakat sangat hati-hati membeli mobil. Tapi, pada semester kedua ini, masyarakat lebih yakin. “Bahkan pasar saham Amerika, Eropa, dan Asia membaik. Ini sinyal positif,” ucap Kavan.

Tapi masih ada yang mengganjal. Kesepakatan antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tentang Rancangan Undang-Undang Pajak Daerah terkait pajak progresif kendaraan bermotor berkisar 2-10 persen dinilai tidak hanya memukul konsumen, tapi juga produsen otomotif. Jika tujuannya untuk membatasi kendaraan, menurut Direktur Utama PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan, pemerintah bisa mewajibkan standar emisi Euro 2.

Gunadi malah menilai pajak progresif bukan obat kemacetan. Pemerintah justru tidak menyentuh problem utama transportasi, yakni minimnya infrastruktur dan buruknya manajemen transportasi. Jadi, kelihatannya tren pemulihan pasar otomotif hingga bulan lalu itu bakal sulit bertahan hingga tahun depan. Produsen pun tak mungkin terus-terusan mengobral diskon dan memberikan subsidi bunga. Penjualan mobil betul-betul akan bergantung pada tebal-tipisnya kantong konsumen.

R.R. Ariyani

Merek                          Pertumbuhan      Pangsa

                   2008*        2009*        (%)             Pasar 2009 (%)

Toyota       98.703        79.151        -19,8                     37,6

Daihatsu    34.852        34.511        -0,9                       16,4

Mitsubishi  43.562        27.213        -37,5                     12,9

Suzuki        39.249        20.751        -47,1                     9,9

Honda        24.667        15.254        -38,2                     7,3

Isuzu          12.646        7.420          -41,3                     3,5

Lainnya     174.594      25.946        -85,3                     12,4

Total          428.273      210.246      -50,9                     100

 

Sumber: Gaikindo

* Semester I

 
#Produksi Mobil

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi