Solar Tercemar Air, Begini Cara Mendeteksinya
Reporter: Tempo.co
Editor: Dewi Rina Cahyani
Kamis, 17 November 2016 08:00 WIB
Tangki penampungan solar yang disegel di SPBU Jalan Juanda, Sukmajaya, Depok, 15 November 2016. SPBU itu ditutup karena salah satu pompa bahan bakarnya diduga bercampur air. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina Persero menyebutkan hingga Sabtu, pekan lalu, ada 120 unit kendaraan bermesin diesel yang jadi korban biosolar tercemar air di wilayah Jabodetabek. Seluruh mobil tersebut, kata Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro, sudah diperbaiki.

"Biaya perbaikannya sudah ditanggung sepenuhnya oleh Pertamina dan SPBU tempat konsumen mengisi solar yang tercemar," kata dia, Rabu, 16 November 2016.

Lalu, bagaimana cara paling mudah mendeteksi bahan bakar pada kendaraan sudah tercemar? Menurut Wianda, biosolar yang tercampur air terlihat berwana coklat keruh (seperti campuran kopi susu). Sedangkan biosolar yang murni berwarna coklat keemasan jernih.

Baca: Solar Bercampur Air, SPBU di Depok Ini Ditutup Sementara

Adapun indikasi awal kendaraan jadi korban biosolar yang tercemar adalah tenaga mesin tiba-tiba melemah, atau mengeluarkan gejala tersendat saat berjalan. "Bisa mogok," kata Head Marketing Communication Department PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Maman Fathurrohman saat dihubungi terpisah.

Jika solar yang tercemar ini terlanjur masuk ke ruang pembakaran, kata Maman, maka ada kemungkinan komponen pompa injeksi pada mesin diesel berteknologi common rail, akan rusak. "Karena pada mesin diesel, solar bukan hanya berfungsi sebagai bahan bakar, tapi juga pelumas pada pompa injeksi."

Baca: Polisi Pastikan Ada Air dalam Solar di SPBU Depok

Selain harus mengganti komponen pompa injeksi yang rusak, pemilik mobil juga harus melalukan servis besar untuk membersihkan mesin yang tercemar. "Tangki bbm harus dikuras, mekanisme fuel system seperti pipa, selang, pompa bbm harus dibersihkan, dan filter solar harus diganti," kata Maman.

Pada sejumlah mobil bermesin diesel modern, biasanya ada indikator berupa lampu pada panel speedo meter yang akan berkedip jika ada masalah pada saluran bahan bakar. Jika lampu berkedip, sebaiknya pemilik segera memeriksakan kendaraan ke bengkel.

Sejumlah pelanggan di kawasan Depok, Bogor, Tangerang dan Jakarta Utara mengeluhkan bahan bakar solar yang bercampur air. Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang menyatakan tercampurnya air dalam solar terjadi saat bahan baku solar, fatty acid methyl ester (FAME/Biodiesel), dikirim oleh pemasok menggunakan kapal. Tempat penyimpanan biodiesel di kapal tersebut lah yang dianggap Bambang mengandung air.

"Itu disebabkan dari suplai fame melalui kapal supplier yang tercampur air. Air dengan FAME itu tidak terpisah tapi emulsi," ujar Bambang melalui pesan singkat, Rabu, 16 November 2016.

Bambang menuturkan, setelah biodiesel dikirim ke Terminal BBM, Pertamina biasanya melakukan proses pemisahan air. Tahap tersebut disebut settling. Perseroan juga menguji kadar biodiesel sebelum dicampur ke solar. Setelah dicampur, per liter biosolar mengandung biodiesel sebesar 20 persen dan solar sebesar 80 persen.

Namun saat itu, Pertamina absen melakukan settling dan uji laboratorium. Bambang berdalih proses tersebut memakan waktu sehari. Sementara saat itu, stok fame di depot Plumpang, Jakarta Utara, tengah kritis. "Karena stok fame lagi kritis maka langsung dicampur ke solar dan dikirim ke SPBU," ujar Bambang.

Bambang mengakui ada prosedur yang dilewatkan. Tindakan itu, kata dia, juga dilakukan supaya suplai solar langsung dikirim ke penyalur. "Jika itu dilakukan, maka suplai ke SPBU akan solar murni dahulu(tidak dicampur biodiesel). Khawatirnya itu jadi temuan dan Pertamina didenda karena tidak mencampur. Padahal yg terlambat suplai adalah produsen FAME."

PRAGA UTAMA | ROBBY IRFANI

#Solar
#PT Pertamina (Persero)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi