Gonjang-ganjing Brexit, Begini Kata Pabrikan Otomotif Jepang  
Reporter: Tempo.co
Editor: Sugiharto
Kamis, 19 Januari 2017 13:59 WIB
Pabrik mobil Morris Oxford dibangun pada tahun 1913 di Inggris. Pabrik ini dalam setiap minggunya telah membangun sekitar 20 mobil dan sekarang pabrik mobil ini telah membangun 900 mobil dalam setiap harinya. telegraph.co.uk

TEMPO.CO, Jakarta - Para produsen otomotif yang memiliki pabrik di Inggris berencana meminta pemerintah Inggris menegosiasikan beberapa pengecualian tarif jika negeri itu memutuskan meninggalkan pasar tunggal Uni Eropa tersebut.

BacaWall Street Melemah Setelah Pernyataan Brexit Theresa May

”Para perusahaan otomotif sangat berharap banyak bahwa solusi yang diambil adalah yang mampu melindungi perdagangan secara intensif,” kata President of German Auto Industry Group VDA Matthias Wissmann. Dia mewakili sejumlah merek besar, seperti Volkswagen AG dan BMW AG, termasuk pabrikan pemilik sejumlah merek Inggris, antara lain Rolls-Royce, Bentley, dan Mini.

LihatNissan Indonesia Pastikan Kolaborasi dengan Mitsubishi Dibayangi Brexit, Pengusaha Inggris Tetap Optimistis

Sebelumnya, asosiasi para produsen dan pedagang sektor otomotif, yaitu Society of Motor Manufacturers and Traders, memperingatkan Inggris yang akan mundur dari pasar tunggal. Alasannya, industri akan terkena tarif perdagangan sesuai dengan aturan World Trade Organization (WTO), sehingga keberlangsungan industri akan terancam. Jika tetap bergabung di Uni Eropa, ekspor otomotif dari Inggris ke negara-negara di kawasan itu bebas tarif.

Simak: Cerita Menarik di Balik New Toyota Innova Venturer

Sejauh ini, rencana Inggris keluar dari Uni Eropa (British Exit/Brexit) seperti yang diinginkan oleh Perdana Menteri Theresa May belum 100 persen pasti. Para pelaku bisnis pun berharap Theresa May akan mengambil langkah bijak, yakni Inggris bertahan di pasar tunggal Uni Eropa.

Suara berbeda justru muncul dari pabrikan asal Jepang. Toyota Motor Corp dan Nissan Motor Co menegaskan akan tetap menjalankan produksi di pabrik mereka di Inggris meski aktivitas ekspor bakal tidak menguntungkan kalau Inggris benar-benar meninggalkan Uni Eropa seperti yang dikatakan Theresa May.

Chairman Nissan Motor, Carlos Ghosn, menyatakan komitmen untuk tetap memproduksi versi terbaru Nissan Qashqai dan Nissan SUV X-Trail di pabrik Sunderland, Inggris. Bahkan, Chairman Toyota, Takeshi Uchiyamada, mengatakan pihaknya akan mengambil beberapa langkah strategis untuk meningkatkan daya saing di tengah kemungkinan peningkatan berbagai biaya pasca-Brexit.

Simak70% Produsen Otomotif Inggris Khawatirkan Dampak Brexit 

”Kami mampu bertahan (dalam kondisi ini),” kata Uchiyamada kepada Bloomberg Television dalam program World Economic Forum di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu.

Menurut Uchiyamada, di negara mana pun, Toyota tidak berpikir menutup atau memindahkan pabrik-pabrik ketika terjadi persoalan ekonomi. “Kami akan lakukan hal yang sama (untuk negara lain) seperti di Inggris.”

Pabrik milik Toyota, Nissan, serta Honda Motor Co telah membangkitkan industri manufaktur otomotif di Inggris. Mereka tentu saja mengandalkan keanggotaan Inggris di Uni Eropa, sehingga bisa mengekspor mobil ke negara-negara lain di Eropa tanpa tarif.

BISNIS.COM

#Produksi Mobil
#Uni Eropa

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi