Penjualan Mobil CBU Ditargetkan Naik 30 Persen
Reporter: Tempo.co
Editor: Tempo.co
Selasa, 13 April 2010 17:11 WIB
Dok: Toyota

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan importir umum menargetkan penjualan mobil completley built up (CBU) sepanjang 2010 ini meningkat 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Antengnya kurs rupiah terhadap dolar di kisaran Rp 9.000 - 9.300, kondisi sosial politik yang stabil, serta bertumbuhnya perekonomian nasional merupakan alasan kuat bagi importir untuk menggenjot penjualan.

"Tahun ini kami optimitis bisa mencapai 6.000 unit, tahun lalu kami bisa menjual 4.500 unit. Seperti halnya teman-teman di kalangan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang optimistis tahun ini penjualan (mobil) bisa mencapai 600 ribu unit, kami percaya penjuaan akan meningkat sejalan dengan membaiknya perekonomian," tutur Tommy R.Dwiananda, Ketua Asosiasi Importir Kendaraan Bermotor Indonesia (AIKI), di sela diskusi dalam diskusi 'Jaminan Produsen Pada Konsumen Terhadap Produknya' di Jakarta, Selasa (13/4).

Tommy menambahkan, sepanjang Januari-Februari, penjualan 11 importir umum yang tergabung dalam AIKI mencapai 600 unit. "Sehingga bila kondisinya seperti sekarang dan tidak ada masalah, terutama kurs rupiah terhadap dolar tidak mengalami lonjakan maka penjualan bisa mencapai 6.000 unit," aku dia.

Sedangkan ihwal produk yang paling banyak diminati oleh konsumen, Tommy menyebut Toyota. Merek besutan pabrikan asal Jepang itu masih menguasai 80 persen dari pasar mobilCBU khususnya yang dipasarkan importir umum.

"Multi Purpose Vehicle Alphard, Velfire, Lexus, Harrier, merupakan mobil yang banyak diminta. Di segmen sedan Camry, paling besar di toyota. kalau untuk super car, Ferrari masih yang terbesar, sepanjang Januari - maret sudah 20 unit terjual," jelasnya.

Sementara ihwal jaminan pemiliharaan mesin dan layanan purna jual lainnya, Tommy menghimbau calon konsumen untuk tidak risau. Pasalnya, selain memiliki jaringan bengkel di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Kalimantan Barat, para importir juga menjalin kerjasama dengan bengkel khusus lain yang mampu melakukan perawatan atau perbaikan mobil non ATPM.

"Terlebih, sebelum melakukan impor para imprtir juga sudah diminta untuk melampirkan pre warranty certificate. Dengan kata lain, para importir telah memberi jaminan purna jual atas kendaraan CBU yang dijual itu," papar dia.

Bengkel yang digandeng pun bukan sembarang bengekel, tetapi bengkel dengan kualifikasi minimal 1B. Selain itu bengkel tersebut juga harus mendapatkan sertifikasi dari surveyor yang ditunjuk oleh Departemen Perindustrian. "Yaitu Sucofindo dan Surveyor Indonesia," tandas Tommy.

ARIF ARIANTO

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi