Produsen Otomotif Tak Khawatir dengan Bensin Pertalite  
Reporter: Tempo.co
Editor: Choirul Aminuddin
Rabu, 22 April 2015 14:30 WIB
Pom Bensin/TEMPO/Arie Basuki

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku usaha otomotif baik sepeda motor dan mobil menilai rencana PT Pertamina meluncurkan bensin jenis baru, Pertalite, tidak akan mengganggu pasar meski penjualan di awal tahun menurun karena pelambatan ekonomi.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, pada kuartal pertama tahun ini total penjualan mobil secara wholesales pada Maret 2015 hanya 99.406 unit. Jumlah itu turun sekitar 12,1 persen dari raihan pada periode yang sama tahun yang mencapai 113.067 unit.

Merujuk data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan secara wholesales sepeda motor kuartal I/2015 hanya mencapai 1,646 juta unit. Raihan tersebut menurun sekitar 17,3 persen dari capaian periode yang sama tahun lalu sebanyak 1,990 juta unit.

Dari informasi yang dirangkum Bisnis, salah satu faktor yang mendorong pelambatan ekonomi dan mempengaruhi anjloknya pasar kendaraan adalah tingkat inflasi yang tidak stabil karena fluktuasi harga bahan bakar.

Di sisi lain, rencananya Pertamina akan meluncurkan Pertalite bulan depan dengan landasan Surat Keputusan Dirjen Migas 313/2013 tentang spesifikasi BBM RON 90. Saat ini Pertalite tengah diuji di lapanhan dan Lemigas, dan hasilnya segera diterima Pertamina.

Pertalite diproduksi dengan mencampur nafta dengan high octane mogas component (HOMC). Nafta merupakan produk sampingan Pertamina yang selama ini tidak terpakai sehingga diekspor dengan harga di bawah minyak dunia.

Sedangkan HOMC adalah minyak yang digunakan untuk meningkatkan kadar oktan. Dari segi harga pun, Pertalite akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Premium.

Ketua Bidang Komersial AISI Sigit Kumala mengatakan, kehadiran bensin jenis baru tersebut tidak akan mengganggu pasar. Asalkan pemerintah menjaga stabilitas distribusi bensin jenis lain yang selama ini familiar di tengah masyarakat.

Pihaknya mendukung kehadiran bensin jenis baru yang memang kualitasnya bisa lebih baik. Tapi di sisi lain dia berharap pemerintah dapat menekan laju inflasi yang biasanya terstimuli akibat kebijakan harga bahan bakar, sehingga daya beli masyarakat terhadap kebutuhan sekunder seperti sepeda motor dapat terjaga.

“Kalau distribusinya baik untuk semua jenis bensin saya rasa tidak akan mengganggu pasar. Tapi yang harus diperhatikan pemerintah kan daya beli masyarakat yang biasanya terdampak dari kebijakan bahan bakar,” katanya kepada Bisnis, Selasa (21/4).

Davy J. Tuilan, 4W Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengamini jika kehadiran bensin jenis baru Pertalite tidak akan mempengaruhi pasar. Dia meyakini Pertalite tidak akan memicu inflasi yang signifikan sehingga mengganggu pasar mobil.

Menurutnya, hal ini akan memberikan pilihan masyarakat dalam konsumsi bahan bakar yang lebih berkualitas. Selain itu, dia menilai masyarakat pun lambat laun akan teredukasi untuk menggunakan bahan bakar non subsidi.

“Kami sebagai pabrikan malah mendukung hal ini karena dengan kualitas oktan yang lebih baik dapat meningkatkan umur mobil, lebih irit, tarikannya pun akan lebih bagus sehingga pelanggan puas,” ujarnya.

Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy mengatakan tidak ada kaitannya kehadiran Pertalite dengan kemungkinan penurunan pasar. Penurunan pasar tahun ini  murni terjadi karena daya beli masyarakat yang menurun dan penundaan pembelian akibat pelambatan ekonomi.

Menurutnya, persoalan bahan bakar yang kerap jadi polemik tidak akan menjadi masalah jika kelak bisa lepas dari subsidi dan tidak memberatkan anggaran pemerintah.

“Kami lihat tidak ada hubungannya sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Secara teknis pun kehadiran bensin jenis baru saya rasa akan mendukung performa kendaraan,” ucapnya.

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo pun meyakini kehadiran Pertalite tidak akan mengganggu pasar kendaraan. Tetapi di sisi lain dia berharap Pertamina dapat mensosialisasikan kehadiran bensin jenis baru tersebut dengan baik, sehingga mudah diterima masyarakat.

“Sebenarnya masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan isu bahan bakar. Tetapi memang dampak psikologis isu bahan bakar ini besar sehingga dalam proses komunikasi dan perkenalan produk harus baik sehingga tidak berpengaruh secara ekonomi,” ucapnya.

BISNIS.COM

#Info Otomotif
#Gaikindo

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi