Pabrik Ferrari, Kantata Kemewahan dari Kampung  
Reporter: Tempo.co
Editor: Yandi M rofiyandi TNR
Senin, 29 April 2013 12:03 WIB
Insinyur Ferrari menggunakan analisa CFD dan terowongan angin F1 untuk mendapatkan koefisien drag yang mendekati 3. LaFerrari menggunakan piranti aerodinamik aktif depan (diffusers dan guide vane di bawah mobil) dan belakang (diffusers dan spoiler). autoblackzone.com

TEMPO.CO, Jakarta - Sulit mencari bandingan pabrik mobil di dunia yang seperti Ferrari. Tempo beberapa kali mengunjungi beberapa pabrik mobil, seperti Toyota di Nagoya, Jepang, atau Daihatsu di Osaka, Jepang.

Pabrik Toyota dan Daihatsu seperti lazimnya pabrik lain. Kehidupannya sangat robotik. Dihitung agar efisien. Makan, bekerja, bahkan melangkah pun semua diperhitungkan. Misalnya, para pekerja sudah dilatih agar bisa mengambil mur tepat delapan biji. Tidak kurang, tidak lebih. Sebab, bila kurang atau lebih berarti ada waktu yang terbuang percuma. Tidak efisien. Istilah kerennya just in time. Itulah yang disebut Toyota Way oleh Jeffrey Liker, profesor dari Universitas Michigan, dalam bukunya.

Pabrik Ferrari adalah kutub sebaliknya dari Toyota. Ferrari tak mengharamkan robot. Tapi mereka adalah pabrikan yang menonjolkan handmade atawa keterampilan tangan. Mobil dibuat berdasarkan pesanan sang pembeli, dari jenis cat sampai detail kecil-kecil, seperti jenis tutup pelek dan warna sofa.

Tempo mengunjungi kantor pusat sekaligus pabrik Ferrari di Maranello, Provinsi Modena, Italia, pertengahan April 2013. Tempo diundang oleh BNI, yang sedang menjajaki kesepakatan bisnis dengan Ferrari. Maranello, kota “seupil” yang produknya mendunia. Penduduk Maranello cuma sekitar 17 ribu orang. Bahkan hotel bintang empat tempat kami menginap pun dikelilingi sawah. Ya, sawah padi. Daerah ini penghasil beras untuk makanan khas Italia, risotto, yang maknyus.

Maranello mungkin kalah ramai jika dibandingkan dengan Kecamatan Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah, misalnya. Namun, di "kampung" Maranello ini, Ferrari menghasilkan sedan mewah yang harganya Rp 1,5-16 miliar. Para taipan, konglomerat, juga syekh-syekh di Timur Tengah sangat merindukan mobil made in Maranello ini. Pengusaha butik terkenal Ralph Lauren, aktor Nicholas Cage, penyanyi Eric Clapton, dan pengusaha Andi Zulkarnain “Choel” Mallarangeng adalah penggemar mobil ini. Bahkan ada orang yang “segila” Jay Kay, yang punya 60 sedan kuda jingkrak ini. Tahun lalu, dari kampung itu, Ferrari meraih pendapatan 2,4 miliar euro atau Rp 30,8 triliun.

Kantor Ferrari sederhana tapi modern. Mereka mempertahankan bangunan lama yang terbuat dari bata merah. Di belakangnya, barulah bangunan baru yang minimalis dan sangat ramah lingkungan. Ada banyak burung gagak di taman-taman dekat pabrik. Saat masuk ke pabrik pengecoran blok mesin, pabriknya juga terlihat sangat "hijau". Di tengah pabrik ada taman dengan tanaman hidup. Dinding-dindingnya menggunakan kaca-kaca besar sehingga sinar matahari masuk. Meski ini pabrik pengecoran, tak ada suara bising yang berlebihan. Karyawan beraktivitas bebas tanpa pelindung telinga, juga tanpa masker hidung.

"Kami memastikan semuanya ramah lingkungan. Jadi tak perlu masker," kata Matteo Torres, juru bicara Ferrari, yang menemani keliling pabrik itu.

Menyusuri pabrik pengecoran logam sampai perakitan layaknya tur eksotik menyusuri sebuah museum. Bedanya, di sana-sini ada robot, mobil pembawa komponen yang berjalan sendiri, dan lalu-lalang pekerja yang merakit Ferrari. Saya beruntung bisa melihat perakitan Ferrari paling eksklusif, tipe LaFerrari yang cuma dibuat 499 unit untuk seluruh dunia—konon, Indonesia juga kebagian mobil berharga Rp 16 miliar ini.

Mendengarkan suara derum mesinnya saat pertama kali dinyalakan mengingatkan pada banyak hal. Derum mesin inilah yang membuat banyak orang kaya kelepek-kelepek.

Raungan mesin itu juga mengingatkan pada Enzo Ferrari, pendiri pabrik ini yang mendapat julukan Monster dari Maranello—Ferrari menjadi juara dunia sebanyak 16 kali untuk kategori mobil dan 15 kali dalam kategori pembalap pada perlombaan Formula 1. "Suara balapan selalu menyenangkan," katanya kepada majalah Time.

***

Salah satu yang berbeda dari pabrik Ferrari adalah ruang untuk memilih aksesori, sehingga tiap Ferrari selalu punya ciri khas dan sentuhan personal. Di ruangan itu, ada komputer layar sentuh. Dalam komputer inilah semua opsi eksterior ataupun interior bisa dipilih. Bukan cuma jenis kulit untuk sofa, model logo Ferrari pada kemudi, tipe pelek, bahkan sampai jenis jahitan sofa pun ada. Ada sekitar 10-an jenis jahitan sofa. Ini benar-benar "kerajinan tangan". Sangat berbeda dengan pabrik-pabrik mobil yang massal. Misalnya, Toyota, yang memproduksi 200 juta mobil setahun, atau Porsche, yang memproduksi lebih dari 127 ribu unit.

"Jumlah produksi Ferrari setahun bahkan kalah dibanding jumlah produksi Prius dalam sehari," Matteo berkata sembari terkekeh. "Kami sangat eksklusif." Prius adalah mobil mewah Toyota, dengan tenaga hibrida (listrik dan bensin) yang dijual sekitar Rp 500 juta per unit.

Lantaran mobil super-eksklusif itulah, Enzo Ferrari sangat yakin: "Semua orang punya impian naik Ferrari." Enzo benar. Setidaknya, saya ikut terhipnotis oleh suara mesin Ferrari. Siang itu, di jalanan kampung Maranello, saya menutup tur dengan kebut-kebutan hingga kecepatan 100 kilometer per jam dengan Ferrari California seharga Rp 3,5 miliar, seperti milik Choel Mallarangeng. Drummm... drummm.... Derum yang menggoda. Baca info otomotif lainnya di sini.

BURHAN SHOLIHIN (MARANELLO, ITALIA)

Topik terhangat:Gaya Sosialita | Susno Duadji | Ustad Jefry | Caleg | Ujian Nasional

Baca juga:Inilah Lima Mobil Paling Ramah LingkunganIni Sedan Konvertibel Tercepat di DuniaMobil General Motors Diklaim Hemat Bahan BakarPameran Otomotif Medan 2013 Digelar Maret

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi