Thailand Krisis, Toyota Alihkan Produksi ke RI?
Reporter: Tempo.co
Editor: Abdul Malik
Rabu, 22 Januari 2014 12:34 WIB
Toyota terpaksa menutup pabriknya karena kondisi keamanan di Thailand. (www.autoevolution.com)

TEMPO.CO, Tokyo - Industri manufaktur otomotif adalah industri terbesar ketiga di Thailand. Industri ini dihitung menyumbang 10 persen dari produk domestik bruto negara itu dengan penjualan total mencapai 2,5 juta unit mobil per tahun. Thailand juga dijuluki Detroit dari Timur.

Pabrikan-pabrikan mobil Jepang telah berinvestasi di Thailand dalam beberapa dekade terakhir dan menjadikan negara itu sebagai basis produksi untuk ekspor otomotif. Mobil merek Jepang menguasai 80 persen pasar domestik Thailand, atau yang terbesar di Asia Tenggara. 

Dalam jangka pendek, pabrikan mobil Jepang memang tidak mungkin mengalihkan produksi ke negara lain. Namun, dalama jangka panjang para produsen “kuda besi” itu harus menata ulang strategi manufaktur globalnya. (Baca juga : Krisis Thailand Berkepanjangan Mengancam Investasi)

Toyota memproduksi satu dari sepuluh mobilnya di Thailand dan saat ini berencana menambah investasinya sebesar sekitar 20 miliar baht (US$ 609 juta) untuk menambah kapasitas produksi dari 200 ribu unit menjadi 1 juta unit per tahun di Thailand. Rencana itu ditargetkan terealisasi dalam tiga tahun mendatang.

Nissan dan Mitsubishi Corp juga telah menetapkan Thailand sebagai basis produksi mobil kecil untuk kemudian diekspor ke negara-negara tetangga, terutama di ASEAN, dan Jepang. Namun krisis politik yang melanda Thailand akhir-akhir ini bisa mendorong pabrikan otomotif itu untuk mengalihkan basis produksinya ke negara lain. “Itu akan menjadi langkah strategi jangka panjang mereka,” ujar Shingo Ikeda, pemimpin Roland Berger Strategy Consultants untuk wilayah ASEAN, seperti dikutip Reuters, 22 Januari 2014. 

Indonesia yang memiliki jumlah penduduk empat kali lebih banyak dibanding Thailand diperkirakan akan menjadi pasar otomotif terbesar di ASEAN dalam waktu lima tahun mendatang. Ryuichiro Inoue, profesor dari Tokyo City University dan pakar industri otomotif, mengatakan Indonesia merupakan negara alternatif yang paling memungkinkan bagi pabrikan Jepang untuk mengalihkan produksinya dari Thailand. Sebab, pabrikan Jepang sudah berinvestasi di Indonesia dan biaya tenaga kerjanya relatif murah.

“Toyota memiliki kelonggaran untuk memindahkan basis produksinya ke Indonesia sehingga akan menambah jumlah produksi Thailand,” ujarnya. (Baca juga : Pemimpin Oposisi Thailand Cemooh Status Darurat)

Sebagai contoh, dia menyatakan, Toyota bisa mengalihkan produksi mobil serbaguna (MPV)-nya yang diberi nama IMV. Mobil itu dikembangkan sebagai model global dengan struktur dan komponen yang sama di dunia. Dengan begitu, relatif sangat mudah jika ingin memindahkan produksi IMV dari Thailand ke Indonesia.

Namun, menurut dia, pemindahan produksi itu tidak akan bisa cepat dilakukan. Sebab, investasi otomotif membutuhkan dana besar. Apalagi, Toyota sudah telanjur menggelontorkan investasi jumbo di Thailand.

Untuk saat ini, pabrikan mobil Jepang selain Toyota menyatakan akan tetap melanjutkan realisasi investasi mereka di Thailand. “Tidak ada perubahan rencana investasi kami di Thailand,” kata juru bicara Mazda, Masato Kobayashi.

Nissan sudah berinvestasi sekitar 11 miliar baht (US$ 335 juta) untuk pabrik kedua di Thailand, yang rencananya akan mulai beroperasi akhir Maret mendatang. Honda juga sedang membangun pabrik keduanya di Thailand dengan investasi 17,2 miliar baht dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2015. Adapun Mazda membangun pabrik transmisi senilai US$ 250 juta di Negeri Gajah Putih itu.

REUTERS | ABDUL MALIK

Terpopuler :

Investasi Toyota Thailand Belum Dialihkan ke RIMobilio Ditargetkan Laku 80 Ribu Unit  Beli Honda Mobilio, Dapat Paket Perawatan

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi