Penjualan Mobil Lesu di Akhir Tahun
Reporter: Tempo.co
Editor: Kodrat setiawan
Minggu, 21 Desember 2014 06:30 WIB
Pengunjung memadati stand salah satu produsen otomotif terbesar di Indonesia yaitu Honda dalam Pameran Indonesia International Motor Show 2013 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, (24/09). Tempo/Amston Probel

TEMPO.CO , Jakarta: Tidak seperti sebelumnya, penjualan mobil nasional menjelang akhir tahun cenderung lesu. Hal ini terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Indonesia (Gaikindo) yang dirilis pada Rabu lalu, yang menyebutkan penjualan mobil hingga November lalu turun 13,3 persen dibanding periode serupa tahun lalu.

Gaikindo mencatat, per November lalu, penjualan mobil mencapai 91.268 unit, atau menurun ketimbang pencapaian bulan sebelumnya, Oktober, yang sebanyak 105.356 unit. Artinya, ini adalah kedua kalinya penjualan mobil menurun setelah April-Mei. Saat itu, penjualan merosot tajam dari 106.052 menjadi 96.927 unit.

Bukan hanya penjualan di bulan lalu yang turun. Bila dihitung sejak awal tahun hingga November, pasar mobil juga tak bergairah—hanya membukukan penjualan sebanyak 1.129.564 unit. Angka ini turun jika dibanding pada Januari-November 2013, saat pasar mobil mencapai 1.132.210 unit.

Meski begitu, Ketua Gaikindo, Jongkie Sugiarto, tak terlalu khawatir akan penurunan penjualan mobil tersebut. “Turun sedikit, toh masih hampir 100 ribu unit terjual kok,” katanya ketika dihubungi pada Kamis lalu. “Kami berharap Desember ini naik lagi dan bisa tembus 1,2 juta unit dalam setahun.”Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia ini menyatakan penurunan penjualan mobil salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi per November lalu. “Mudah-mudahan pengaruh kenaikan harga BBM ini tidak lama,” katanya. Ia pun optimistis total penjualan mobil sepanjang 2014 bisa berkisar 1,2 juta unit atau relatif stabil ketimbang tahun lalu, yakni mencapai 1.229.916 juta unit.

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, Rahmat Samulo, juga yakin penjualan mobil pada akhir tahun bakal tetap tumbuh, di antaranya karena ada kontribusi signifikan pada Desember ini. “Bulan ini banyak orang yang mendapat bonus akhir tahun dan dana suntikan lain yang bakal digunakan untuk membeli mobil baru,” ucapnya.

Rahmat memperkirakan, khusus pada Desember ini akan ada kenaikan penjualan mobil minimal 5 persen dibanding bulan-bulan sebelumnya, dan menyentuh 95 ribu unit. Dari total itu, ia memperkirakan Toyota bakal tetap memimpin penjualan dengan menguasai sekitar 33 persen dari nilai pasar nasional.

Untuk lebih mendorong penjualan pada akhir tahun ini, Toyota menawarkan program dari potongan harga, tukar tambah, hingga sejumlah program undian dengan hadiah utama, seperti sepeda motor, televisi layar datar, lemari es, telepon seluler, aksesori mobil, dan sejumlah voucher belanja. Dalam jangka panjang, Toyota menyiapkan tiga strategi, yakni menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan, peningkatan kualitas jaringan layanan pasca penjualan, dan membuka lebih banyak showroom di berbagai daerah.Agen Tunggal Pemegang Merek Honda juga tak tinggal diam. Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy, menyatakan pihaknya bakal menggenjot pemasaran produk barunya, seperti HR-V. Pasalnya, potensi pertumbuhan jumlah kendaraan sport utility vehicle diyakini bakal tetap kinclong seperti yang terjadi di segmen kendaraan murah dan ramah lingkungan (LCGC). “Selain dua segmen tersebut akan turun (penjualannya).”

Meski demikian, Honda tak lantas memasang target penjualan tahun ini terlalu tinggi. Sementara semula produsen mobil ini mematok target penjualan sebesar 175 ribu unit, belakangan angka tersebut dikoreksi menjadi sekitar 160 ribu unit. Jonfis menyebutkan sejumlah penyebab lesunya penjualan tahun ini, yaitu imbas kenaikan harga BBM bersubsidi, lonjakan inflasi, serta jebloknya kurs rupiah terhadap dolar AS. “Memang agak berat, mudah-mudahan setelah itu bisa pulih,” tutur Jonfis.

Pengamat otomotif, Suhari Sargo, menduga lesunya penjualan mobil pada November terjadi, di antaranya, karena perusahaan tidak berusaha merambah pasar di daerah terpencil di Indonesia. Padahal, katanya, penjualan mobil di daerah mempunyai prospek menjanjikan. “Sebagian besar penjualan masih di kota-kota besar.”

Suhari menyebutkan, sejumlah strategi untuk mendorong penjualan di akhir tahun yang biasa dilakukan para produsen adalah memberikan program potongan harga yang besar hingga Rp 30 juta per unit untuk sejumlah tipe mobil. “Selain itu, ada sejumlah hadiah langsung berupa aksesori mobil hingga voucher belanja dan handphone sebagai iming-iming penjualan,” katanya.

KHAIRUL ANAM | ROBBY IRFANY | TRI SUSANTO SETIAWAN

Berita lain:Ucapan Natal, Yenny Wahid: Jokowi Jangan Dengar FPIMenteri Susi Piloti Pesawatnya Keliling Sumatera  Final Piala Dunia Antarklub, Madrid Kejar Sejarah  

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi