Rupiah Tertekan, Toyota Fokus Penaikan Komponen
Reporter: Tempo.co
Editor: Saroh mutaya
Senin, 29 Juni 2015 14:26 WIB
Toyota memamerkan mobil RAV4 Hybrid keluaran baru di New York International Auto Show 2015, New York, Amerika Serikat, 2 April 2015. RAV4 hybrid bakal dibanderol US$ 49.800 untuk versi standar. REUTERS/Eric Thayer

TEMPO.CO, Jakarta - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia fokus pada penaikan tingkat komponen dalam negeri untuk menyikapi nilai tukar rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat.

 “Perkembangan otomotif ini sangat cepat sekali, jika tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sedikit saat rupiah melemah dan dolar menguat tentunya biaya yang dikeluarkan akan lebih besar. Oleh karena itu TKDN harus digerakkan ke dalam,” kata Direktur Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) I Made Dana Tangkas, Minggu, 28 Juni 205

Dari informasi yang dihimpun Bisnis, pelaku usaha meyakini rupiah tahun ini sulit untuk pulih. Nilai tukar rupiah susah beranjak dari kiasaran Rp13.000-Rp13.400 per US$D1. Hal tersebut dinilai pelaku usaha akan mengatrol ongkos produksi, mengingat masih banyak komponen dan bahan baku yang masih harus diimpor.

Made mencontohkan, yang belum mampu dibuat di Indonesia seperti komponen elektronik, dan engine control unit (ECU) yang merupakan ‘otak’ sebuah kendaraan. Made mengklaim pihaknya ke depan akan terus mengembangkan pemasok komponen, bukan hanya tier satu tapi juga tier dua dan tiga.

Menurutnya, saat ini TMMIN disokong oleh sekitar 120 pemasok komponen tier satu. Sedangkan untuk pemasok komponen tier dua dan tiga pihaknya saat ini melibatkan sekitar 700 lebih industri.

Di sisi lain, Made menyebut, pihaknya pun akan meningkatkan pemakaian row material lokal. Sebabnya,  untuk mengatrol pemakaian kandungan dalam negeri harus pula dibarengi peningkatan bahan baku lokal.

“Seperti baja, alumunium resin, synthetic rubber kemudian bahan untuk komponen elektronik, upaya itu sudah berjalan dari tahun-tahun sebelumnya. Kami beharap bisa terus dikerjakan bersama pemerintah, Gaikindo dan Giamm supaya ini jadi terpadu,” ujarnya.

Menurut dia, dalam peningkatan TKDN ke depan akan bergantung juga pada investor dan pelaku IKM komponen. Selain itu akan sangat dipengaruhi pula dengan transfer teknologi dari prinsipal luar.

Untuk itu dia berharap, pemerintah dapat secara konsisten menjaga iklim investasi yang kuat dengan menjaga stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri yang stabil. Hal tersebut, lanjut Made, harus pula ditunjang dengan pembangunan infrtruktur yang memadai serta regulasi yang konsisten.

“Seperti pelabuhan dan jalan raya yang akan memudahkan distribusi. Sehingga investor itu berani investasi dan percaya untuk transfer teknologi,” tuturnya.

Saat ini, TKDN produk mobil Toyota dari TMMIN ada di kisaran 60%-85%. TMMIN memproduksi setidaknya lima jajaran produk utama Toyota di dalam negeri yaitu Kijang Innova, Fortuner, Vios, Etios Valco dan Yaris.

Dari kelima produk tersebut, Kijang Innova merupakan produk dengan TKDN tertinggi. Sedangkan sisanya di kisaran 60%. Made berharap, dalam beberap tahun ke depan TKDN yang digunakan di produk TMMIN bisa dikatrol di kisaran 70%-90%.

Saat ini TMMIN memiliki dua pabrik mobil di kawasan industri Karawang, Jawa Barat. Keduanya memiliki kapasitas produksi hingga 250.000 unit mobil per tahun. Berkica dari dua tahun ke belakang, kapasitas tersebut belum terpakai sepenuhnya.

Made menambahkan, pada tahun lalu total produksi mobil merek Toyota di pabrik TMMIN baru mencapai sekitar 208.000 unit. Jumlah itu menanjak dari tahun sebelumnya yang di bawah 200.000 unit.

BISNIS

#Industri Otomotif

 

 

 

 

BERITA TERKAIT


Rekomendasi